Jejak Ulama Terungkap: Tiga Masjid Bersejarah Purworejo Dikunjungi PCNU & LTMNU
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - PURWOREJO - Dalam rangka memperingati Hari Santri 2026, Pengurus Cabang Nahdlatul Ululama (PCNU) Kabupaten Purworejo bersama Lembaga Ta'mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kabupaten Purworejo melaksanakan kegiatan "Sambang Masjid Bersejarah" pada Ahad, 25 Oktober 2026. Kunjungan ini bertujuan untuk menelusuri jejak dakwah para ulama penyebar Islam di wilayah tersebut, melestarikan warisan sejarah, serta meneguhkan kembali fungsi vital masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pembinaan umat.
Rombongan yang terdiri dari jajaran pengurus Tanfidziyah PCNU dan anggota LTMNU ini menyasar tiga masjid yang memiliki nilai historis tinggi dan kaitan erat dengan perkembangan Islam di Purworejo.
Kegiatan ini merupakan manifestasi sinergi antara dua lembaga di bawah naungan NU untuk menjaga aset sejarah Islam sekaligus mendorong kemakmuran masjid di tengah masyarakat.
Tiga Masjid Bersejarah Jadi Titik Perhatian
Tiga lokasi bersejarah yang dikunjungi rombongan adalah Masjid Jami' Al-Iman Sunan Geseng, yang juga dikenal masyarakat sebagai Masjid Tiban di Loano; Masjid Jami' Ar-Rofi'i di Desa Loning, Kecamatan Kemiri; dan Masjid Baitul Karomah di Desa Seborokrapyak, Kecamatan Banyuurip.
Masjid Jami' Al-Iman Sunan Geseng di Loano dikaitkan dengan perjuangan Sunan Geseng, tokoh penyebar agama Islam yang dalam tradisi lisan masyarakat dikenal sebagai murid Sunan Kalijaga.
Catatan sejarah yang dipublikasikan oleh pemerintah daerah menunjukkan bahwa masjid ini berkaitan erat dengan perkembangan dakwah Islam pada abad ke-15.
Keunikan nama "Masjid Tiban" berasal dari cerita turun-temurun bahwa bangunan masjid ini konon muncul secara tiba-tiba, sebuah kisah yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masjid tersebut.
Arsitektur tradisional, termasuk penggunaan kayu pada struktur penyangganya, masih dipertahankan hingga kini.
Peran Ulama Lokal dalam Pengembangan Islam
Perjalanan dilanjutkan ke Masjid Jami' Ar-Rofi'i di Desa Loning, Kecamatan Kemiri.
Berdasarkan dokumen sejarah yang dihimpun LTMNU Kabupaten Purworejo, masjid ini diperkirakan berdiri antara tahun 1820 hingga 1830 Masehi.
Pendirinya adalah Raden Mas Mansyur, yang kemudian dikenal luas sebagai Raden Mas Kiai Muhyidin Ar-Rofi'i atau Tuan Guru Loning.
Tuan Guru Loning dikenal memiliki perjalanan keilmuan yang luas, menuntut ilmu hingga ke Payaman, Magelang, Aceh, dan Mekah.
Sekembalinya dari tanah suci, beliau aktif menyebarkan ajaran Islam di Loning melalui pendirian masjid dan pondok pesantren.
Ketenarannya sebagai guru qiraah dan penghafal Al-Qur'an menjadikannya tokoh sentral dalam kemajuan pendidikan Islam di wilayah Kemiri dan sekitarnya.
Bukti perjuangannya masih dapat ditelusuri melalui keberadaan masjid, makam, serta saka guru berbahan kayu jati yang kokoh.
Kunjungan terakhir adalah di Masjid Baitul Karomah, Desa Seborokrapyak, Kecamatan Banyuurip.
Sejarah masjid ini erat kaitannya dengan sosok Simbah Kiai Gusti, yang diyakini masyarakat sebagai perintis dan imam besar pertama di wilayah tersebut.
Dalam catatan sejarah lokal, Simbah Kyai Gusti diyakini merupakan salah satu pengikut atau murid Pangeran Diponegoro.
Perjuangan dakwahnya kemudian dilanjutkan oleh para ulama dari generasi ke generasi, termasuk Kiai Mahali, Kiai Muhsin, Kiai Basiran (wafat 1950), dan Kiai Sadzali (wafat 1998).
Sama seperti masjid di Loano, Masjid Baitul Karomah juga dikenal sebagai Masjid Tiban oleh masyarakat setempat, merujuk pada asal-usul pembangunannya yang tidak sepenuhnya diketahui.
Memakmurkan Masjid, Merawat Warisan
Ketua PCNU Kabupaten Purworejo, KH M.
Haekal, menekankan bahwa masjid memiliki kedudukan fundamental dalam peradaban Islam.
Ia menyatakan, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, musyawarah, dakwah, dan pembinaan sosial.
"Memakmurkan masjid tidak cukup hanya dengan merawat bangunan fisiknya.
Lebih dari itu, kita perlu menghidupkan nilai-nilai keilmuan, perjuangan, dan pengabdian yang telah diwariskan para ulama terdahulu," ujar KH.
Haekal.
Pesan ini menegaskan bahwa melestarikan masjid bersejarah berarti menjaga fisik bangunan sekaligus meneruskan tradisi keilmuan dan kegiatan keagamaan yang tumbuh di dalamnya.
Keterlibatan LTMNU dalam kegiatan ini sejalan dengan mandatnya dalam pembinaan takmir masjid, penguatan tata kelola, serta pelestarian sejarah dan nilai-nilai Islam.
Kisah dan jejak dakwah para ulama yang terhubung dengan ketiga masjid tersebut menjadi bukti bahwa Islam di Purworejo tumbuh melalui perjalanan panjang, dengan masjid sebagai episentrum yang menghubungkan pendidikan agama, pembinaan masyarakat, dan keberlanjutan tradisi keislaman lintas generasi.
Kegiatan "Sambang Masjid Bersejarah" ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antara pengurus PCNU, LTMNU, pengurus ranting NU, dan para takmir masjid, dalam rangka membangun kepedulian kolektif terhadap kelangsungan kehidupan keagamaan masyarakat.
Peringatan Hari Santri 2026 dimanfaatkan sebagai momentum untuk mengenang jasa para ulama dan meneguhkan komitmen generasi sekarang dalam meneruskan estafet perjuangan mereka melalui pendidikan, dakwah, dan pemakmuran masjid.