Sang Waliyullah: Jejak Ulama, Pejuang, dan Pilar NU Magelang

Table of Contents
Mengenal K Raden Alwi, Ulama Pejuang dan Rais Syuriyah Pertama PCNU Magelang
Sang Waliyullah: Jejak Ulama, Pejuang, dan Pilar NU Magelang

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Di antara berbagai figur ulama yang dihormati di Bumi Magelang, sosok K. Raden Alwi Tonoboyo dari Bandongan menempati posisi yang begitu istimewa. Beliau adalah representasi langka dari perpaduan tiga pilar kepemimpinan Nusantara: keturunan bangsawan, kedalaman ilmu agama, dan keahlian dalam tata kelola pemerintahan. Pengabdiannya yang luar biasa melintasi berbagai era, menjadikannya tokoh sentral dalam sejarah perkembangan Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Kedu dan Magelang, serta kontributor penting bagi perjuangan bangsa.

Akar Keilmuan dan Perjuangan Dakwah Sang Kiai

Lahir di Tonoboyo, Kabupaten Magelang, Hindia Belanda, pada tanggal 15 Agustus 1899, K.

Raden Alwi mewarisi garis keturunan bangsawan dari keluarga R.

Mariyun Udodimejo, yang terhubung hingga KRT Singoranu.

Jejak leluhurnya dan makam para sesepuh diyakini berada di Desa Randucanan, Bandongan, menjadi saksi bisu perjalanan spiritual keluarganya.

Pendidikan formalnya dimulai di Sekolah Rakyat selama lima tahun sejak 1911.

Namun, dahaga intelektualnya tak terpuaskan hanya dari pendidikan formal.

Beliau menjelajahi berbagai pondok pesantren terkemuka, menimba ilmu di Pondok Pesantren Gading (Salatiga), Pondok Pesantren Jamsaren (Sala), hingga Pondok Pesantren Tebuireng (Jombang).

Sejak tahun 1935, kiprahnya dalam berdakwah semakin mengukuhkan namanya, seringkali ia berkeliling Jawa Tengah untuk menyebarkan ajaran Islam dan mempererat tali silaturahmi keagamaan.

Perintis dan Penata NU di Magelang

Peran K.

Raden Alwi sangat krusial dalam masa awal pembentukan Jam'iyah Nahdlatul Ulama di Kedu dan Magelang.

Kepemimpinannya menjadi fondasi penting dalam menata struktur organisasi NU, mulai dari tingkat ranting hingga ke akar rumput.

Ketika Muktamar ke-14 NU diselenggarakan di Magelang pada 15 hingga 21 Juli 1939, kepengurusan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Magelang dikukuhkan secara resmi.

Dalam momen bersejarah tersebut, K.

Raden Alwi dipercaya memegang dua peran vital: ketua panitia muktamar dan kemudian, sebagai Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Magelang yang pertama.

Amanah sebagai Rais Syuriyah ini diemban dengan penuh dedikasi selama 42 tahun, dari tahun 1939 hingga 1981. Rentang waktu yang sangat panjang ini melintasi periode-periode krusial dalam sejarah Indonesia, mulai dari masa Kolonial Belanda, pendudukan Jepang, Revolusi Kemerdekaan, hingga era Orde Baru. Selain memperkuat struktur organisasi, beliau juga fokus pada konsolidasi pesantren. Ia berhasil merajut jejaring kiai-kiai sepuh dari pesantren-pesantren besar di Magelang, seperti Payaman, Watucongol, Tegalrejo, dan Kaliabu, dalam satu wadah perjuangan. Melalui forum bahtsul masail, beliau membimbing para pengurus Tanfidziyah dalam memecahkan persoalan-persoalan hukum Islam, sekaligus menjaga kemurnian tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja).

Akar Keilmuan dan Perjuangan Dakwah Sang Kiai

Pengabdian Ganda: Birokrat Sipil dan Pejuang Kemerdekaan

Keunikan K.

Raden Alwi terletak pada kemampuannya memadukan peran sebagai ulama dengan birokrasi pemerintahan.

Pada 30 Maret 1949, di tengah gejolak Agresi Militer Belanda II, beliau dipercaya menduduki jabatan sebagai Asisten Wedono (Camat) Bandongan.

Wilayah Bandongan kala itu menjadi jalur gerilya strategis dan basis logistik penting bagi Laskar Hizbullah-Sabilillah.

Sebagai seorang pamong praja, K.

Raden Alwi memainkan peran krusial dalam menjaga stabilitas pemerintahan lokal, mengelola titik-titik pengungsian, dan memastikan pasokan logistik bagi para pejuang yang beroperasi di lereng Gunung Sumbing.

Kontribusinya di bidang pendidikan juga signifikan, terbukti dengan perannya sebagai motor penggerak di balik pendirian sekolah Al-Munir Bandongan pada tahun 1964. Lebih jauh lagi, tradisi lisan masyarakat mencatat beliau sebagai salah satu tokoh suwuk atau penyepuh bambu runcing yang membekali para pejuang kemerdekaan, setara dengan Kiai Subchi dari Parakan, Temanggung. Sebuah catatan sejarah dalam buku Perlawanan Umat Islam di Magelang 1951-1952 merekam momen penting ketika beliau bersama ulama besar lainnya seperti Kiai Siradj Payaman dan Kiai Dalhar Watucongol, berkumpul di Pendopo Suroso pada dini hari 21 November 1945. Mereka memohon kekuatan Ilahi bersama pimpinan TNI seperti Ahmad Yani demi mengusir penjajah.

Perjalanan Politik Nasional dan Warisan Abadi

Pasca Pemilu 1955, kiprah K.

Raden Alwi meluas ke tingkat nasional.

Beliau terpilih sebagai anggota Majelis Konstituante Republik Indonesia dari Partai NU dengan nomor anggota 81.

Berada di Bandung, beliau mengemban tugas mulia menyuarakan aspirasi rakyat Jawa Tengah, khususnya dari kalangan santri, ulama, dan masyarakat pedesaan.

Di lembaga legislatif tersebut, beliau dengan teguh mengawal garis perjuangan Fraksi NU, memperjuangkan hak-hak pendidikan pesantren, serta meneguhkan nilai-nilai kebangsaan hingga Konstituante resmi dibubarkan melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Meski telah memasuki usia senja dan menderita sakit dalam jangka waktu yang cukup lama, K.

Raden Alwi tidak pernah surut dari ketaatannya.

Dengan fisik yang lemah, beliau tetap istiqamah melaksanakan salat berjamaah di masjid, terkadang dengan bantuan tandu sederhana.

Beliau berpulang ke rahmatullah pada hari Rabu Pon, 7 Januari 1981, bertepatan dengan 1 Rabiul Awal 1402 Hijriah, di Desa Randucanan, Bandongan.

Pemakamannya dihadiri ribuan santri dan pejabat daerah, sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada sosok yang berjasa besar.

Hingga kini, kompleks makam K.

Raden Alwi tidak pernah sepi dari peziarah.

Beliau dikenang sebagai sosok waliyullah, perintis kebangkitan NU, sekaligus pamong praja yang senantiasa memberikan teladan hidup dalam kesahajaan dan pengabdian tanpa pamrih.

Baca Juga

Loading...