Hidupnya Sulit, Pria Ini Minta Mati, Justru Temukan Kebahagiaan
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Indonesia - Momen peringatan haul bukan sekadar pengingat akan kepergian orang terkasih, melainkan juga refleksi mendalam tentang kefanaan hidup. Pesan universal ini disampaikan dengan gaya jenaka namun sarat makna oleh KH Muhammad Shofi Al-Mubarok, atau yang akrab disapa Gus Shofi. Melalui sebuah kisah yang mengundang tawa sekaligus perenungan, pengasuh Pondok Pesantren Sirojut Tholibin Brabo, Grobogan, ini mengingatkan hadirin akan takdir setiap insan yang suatu saat akan menyusul.
Cerita berawal dari seorang pria yang dilanda berbagai kesulitan hidup.
Rumah tangganya diwarnai pertengkaran dengan istri yang galak, anak-anaknya yang sulit diatur, hubungan yang renggang dengan tetangga, hingga perselisihan keluarga mengenai warisan.
Dalam keputusasaannya, pria tersebut mendatangi seorang kiai, memohon petunjuk agar bisa segera mengakhiri hidupnya.
Permohonan Aneh dan Jawaban Sang Kiai
Gus Shofi menceritakan, pria itu bersikeras meminta jalan keluar dari penderitaannya melalui kematian.
Meskipun sang kiai menyarankan untuk berpikir ulang, tekad pria tersebut tak tergoyahkan.
Akhirnya, sang kiai masuk ke dalam rumah dan kembali dengan membawa sebotol air mineral.
"Minum ini.
Bismillah, kalau Gusti Allah menghendaki, 40 hari lagi kamu mati," ujar kiai tersebut, sebagaimana ditirukan oleh Gus Shofi dalam pengajian Haul dan Khotmil Qur'an di Pondok Pesantren Al-Ishlah Mangkang Kulon, Tugu, Kota Semarang, pada Ahad (4/10/2026).
Dengan lega, pria itu meminum air tersebut.
Ia merasa hidupnya tinggal hitungan hari, dan niatnya seketika berubah.
Sebelum berpamitan, ia bertekad meninggalkan kesan baik.
Istri yang sering ia abaikan diajaknya berbelanja dan dihadiahi perhiasan.
Anak-anak yang kerap dimarahi diajak makan di restoran favorit mereka.
Tetangga yang tak pernah ia sapa kini didatanginya dengan membawa ingkung (ayam utuh yang dimasak).
Bahkan, kepada saudara-saudaranya, ia menyatakan tak lagi memedulikan urusan warisan.
Transformasi Kehidupan yang Mengejutkan
Ajaibnya, perubahan sikap pria itu mendatangkan respons positif yang tak terduga.
Sikap galak sang istri perlahan melunak, anak-anaknya menjadi lebih penurut, dan tetangga yang dulu acuh tak acuh kini mulai menjalin keakraban.
"Lalu dia sadar: ya Allah, ternyata kalau aku baik kepada siapa saja, semuanya juga baik.
Tapi dia ingat, lho, ini sudah 20 hari," kelakar Gus Shofi, yang disambut gelak tawa hadirin.
Kesadaran itu justru membawa kekhawatiran baru.
Pria tersebut segera kembali menemui kiai yang memberinya air ajaib.
Ia mengakui bahwa selama ini, dialah yang kurang perhatian, kurang bersikap baik, dan kurang mengalah.
Kini, ia tidak ingin meninggal.
Ia memohon penawar atas air yang telah diminumnya.
Air Biasa Berdaya Doa
Sang kiai kemudian menjelaskan bahwa air yang diminum pria itu hanyalah air mineral biasa.
Kiai hanya membacakan Surah Al-Fatihah di atasnya, dengan harapan agar pria tersebut tersadar.
Pesan dari kisah ini, menurut Gus Shofi, sangat jelas: "Orang itu kalau ingat mati, insyaallah lakunya baik." Kesadaran akan akhir kehidupan mendorong seseorang untuk memperbaiki diri dan perilakunya.
Gus Shofi mengajak seluruh hadirin untuk menjadikan momentum haul sebagai pengingat akan kewajiban merenungkan kematian.
Ia mendorong jemaah untuk senantiasa memohon agar diwafatkan dalam keadaan baik atau husnul khatimah.
"Mugi-mugi kita sedaya seda kanti husnul khotimah," doanya yang diaminkan oleh seluruh hadirin.
Manfaat Bersalawat dan Istiqomah
Mengawali ceramahnya, Gus Shofi juga berbagi sebuah hadis mengenai siapa yang paling berhak mendapatkan syafaat Rasulullah SAW.
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Rasulullah bersabda, "Manusia yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku."
Mengenai batasan "banyak", Gus Shofi menyebutkan perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Ada yang berpendapat minimal seribu kali, sementara Imam As-Sakhawi menyebutkan angka paling sedikit 300 kali sehari.
"Tiga ratus itu ringan.
Yang berat istiqamahnya.
Sama seperti menyenangkan istri," seloroh Gus Shofi, mengibaratkan kebiasaan bersalawat dengan menjaga keharmonisan rumah tangga.
Ia mencontohkan pengantin baru yang sigap membuatkan teh tanpa diminta, berbeda dengan pasangan lama yang perlu disuruh terlebih dahulu.
Lelucon ini kembali mengundang gelak tawa hadirin di acara yang diselenggarakan di Grobogan ini.