Ajaran Al-Qur'an dan Pesantren: JQH NU Ingatkan Santri Tiga Pilar Kehidupan
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Surakarta, Indonesia - Peringatan Haul KH Muhammad Aminuddin dan Hari Santri 2026 yang diselenggarakan oleh Jam'iyyatul Qurra' wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQH NU) Surakarta pada Ahad, 25 Oktober 2026, di Aula Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin, Jalan Markisa II Nomor 6, Karangasem, Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, bukan sekadar acara seremonial. Acara ini menjadi forum penting untuk mengingatkan para santri mengenai tiga pilar utama yang harus dijaga: tradisi keilmuan pesantren, penguatan akhlak mulia, dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan bermasyarakat.
Lebih dari ratusan jamaah, termasuk para penghafal Al-Qur'an (huffazh), memenuhi aula untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang mencakup semaan Al-Qur'an, khataman, zikir, tahlil, serta kajian mendalam mengenai turats tafsir Nusantara.
Semangat kebersamaan dan tradisi keilmuan terasa kental dalam setiap sesi.
Pesantren Sebagai Garda Terdepan Pembentuk Generasi Unggul
KH Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin, menekankan bahwa peringatan haul dan Hari Santri harus dimaknai sebagai momentum untuk melampaui sekadar ritual.
"Peringatan ini tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata, namun harus menjadi sarana untuk memperkuat tradisi keilmuan dan melanjutkan estafet perjuangan para ulama," ujar KH Ahmad Muhamad Mustain Nasoha.
Beliau menambahkan bahwa pesantren memikul tanggung jawab besar dalam melahirkan generasi yang tidak hanya menguasai ilmu agama secara mendalam, tetapi juga memiliki kebijaksanaan, integritas yang kokoh, serta kemampuan untuk memberikan solusi bagi persoalan masyarakat berdasarkan dalil, metodologi keilmuan, dan kemaslahatan umat.
Menurut KH Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, kekuatan hakiki sebuah pesantren terletak pada kemampuannya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam klasik sekaligus mampu beradaptasi secara bijaksana terhadap dinamika perkembangan zaman.
Oleh karena itu, pendidikan di lingkungan pesantren diharapkan mampu membentuk individu yang memiliki kedalaman ilmu agama, keluhuran budi pekerti, serta kepedulian yang tinggi terhadap isu-isu sosial dan keumatan.
Khidmah Al-Qur'an: Lebih dari Sekadar Hafalan dan Bacaan
Ketua JQH NU Surakarta, KH Agus Himawan, turut menggarisbawahi pentingnya esensi pengabdian terhadap Al-Qur'an.
Beliau menegaskan bahwa 'khidmah' atau pelayanan terhadap Al-Qur'an tidak cukup hanya diwujudkan melalui kemampuan membaca dengan baik atau hafalan yang kuat.
"Kecintaan terhadap Al-Qur'an harus tercermin dalam pengamalan ajaran-ajarannya, pembentukan karakter akhlak yang luhur, dan kontribusi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat," tegas KH Agus Himawan.
Ia menekankan bahwa majelis-majelis Al-Qur'an perlu terus dirawat dan dijaga sebagai wadah transmisi ilmu, pembinaan adab, serta penguatan 'sanad' keilmuan yang menghubungkan generasi sekarang dengan para ulama pendahulu.
KH Agus Himawan mengingatkan akan vitalnya menjaga keberlangsungan majelis Al-Qur'an sebagai sarana efektif untuk pembinaan umat sekaligus mempererat hubungan keilmuan antara generasi santri dan para kiai sepuh.
Para santri penghafal Al-Qur'an dari Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin sendiri telah menunjukkan komitmen ini dengan mengawali rangkaian acara melalui sesi semaan Al-Qur'an, sebuah tradisi luhur untuk membaca, menyimak, dan mengoreksi hafalan secara kolektif.
Menggali Kearifan Turats untuk Masa Depan
Rangkaian peringatan haul dan Hari Santri tersebut juga diperkaya dengan mauizah hasanah dan kajian turats tafsir Nusantara yang dibawakan oleh KH Zainal Abidin dari Bidang Tafsir JQH NU Surakarta.
Dalam paparannya, KH Zainal Abidin menyoroti signifikansi mempelajari kitab-kitab klasik (turats) sebagai upaya fundamental dalam menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan pesantren.
"Mengkaji turats bukan sekadar aktivitas membaca karya ulama terdahulu, melainkan sebuah ikhtiar menyambungkan diri dengan mata rantai keilmuan para pendahulu, memahami metodologi mereka, serta meneruskan warisan ilmu dengan senantiasa menjunjung tinggi adab dan tanggung jawab keilmuan," jelasnya.
Beliau menambahkan bahwa tradisi mengaji secara langsung dan menghormati guru merupakan elemen krusial dalam pengabdian santri untuk melanjutkan perjuangan para ulama.
"Kecintaan pada organisasi (jam'iyyah) harus berjalan seiring dengan kecintaan pada ilmu.
Tradisi mengaji, menghormati guru, menjaga sanad keilmuan, dan mengamalkan ajaran Islam secara bijaksana merupakan bagian tak terpisahkan dari khidmah santri dalam perjuangan meneruskan estafet para ulama," imbuhnya.
Sinergi Komponen Pesantren untuk Kemajuan Pendidikan Islam
Ustadz Wassim Ahmad Fahruddin, Ketua Yayasan Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyah, menyampaikan apresiasi atas suksesnya acara yang dinilainya tidak lepas dari kerja sama solid seluruh elemen pesantren.
Ia berharap momentum haul dan Hari Santri ini dapat semakin memperkuat sinergi antara pengasuh, pengurus yayasan, para tenaga pendidik (asatidz), santri, dan masyarakat luas dalam memajukan pendidikan Islam.
"Keberhasilan penyelenggaraan kegiatan ini merupakan buah dari kebersamaan, keikhlasan, dan semangat khidmah seluruh keluarga besar pesantren.
Kami berharap sinergi ini akan terus terbangun untuk mewujudkan lembaga pendidikan Islam yang kokoh secara keilmuan, tertata administrasinya, dan konsisten dalam pengabdian kepada umat," tutur Ustadz Wassim Ahmad Fahruddin.
Acara turut dimeriahkan dengan zikir dan tahlil yang dipimpin oleh Rais Majelis Ilmi JQH NU Surakarta, KH Khoirul Mustamir Kholid, sebagai bagian dari tradisi mendoakan KH Muhammad Aminuddin serta para ulama dan tokoh pendahulu yang berjasa dalam pengembangan dakwah dan pendidikan Islam di Indonesia.
Sejumlah tokoh penting turut hadir, antara lain Hj Ari Hikmawati dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surakarta dan Gus Viror Ghufron As Saifi, anggota Peneliti Turats Nusantara, menunjukkan dukungan dan perhatian terhadap pelestarian tradisi keilmuan pesantren.