Iran Klaim Lumpuhkan Sistem Radar AS di Kuwait: Eskalasi Konflik Timur Tengah
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi mengklaim telah berhasil melumpuhkan beberapa sistem radar Amerika Serikat di Kuwait. Pernyataan mengejutkan ini dirilis pada Selasa (21/7) waktu setempat sebagai bagian dari fase terbaru serangan negara tersebut.
Pihak IRGC menyebut operasi ini sebagai gelombang ke-24 dari Operasi Nasr-2 (Kemenangan 2). Serangan tersebut diklaim sebagai kelanjutan upaya Iran untuk membersihkan wilayah Timur Tengah dari sistem radar yang melayani kepentingan Amerika Serikat.
Detail Target dan Lokasi Serangan
Laporan dari media Iran, Press TV, pada Rabu (22/7/2026) merinci target spesifik dari operasi militer tersebut. Pasukan IRGC dilaporkan menyasar radar peringatan dini serta kompleks radar taktis yang berlokasi di sekitar Pangkalan Udara Ali al-Salem.
Selain pangkalan udara, serangan juga menyasar sistem radar lain yang terletak di Pulau Bubiyan, Kuwait. IRGC menegaskan bahwa akibat serangan tersebut, sistem-sistem radar vital itu kini tidak dapat beroperasi sama sekali.
Militer Iran memberikan penekanan khusus bahwa langkah ini adalah bagian dari strategi untuk menetralkan pengawasan udara. Mereka juga menegaskan bahwa operasi untuk menghukum agresor akan terus berlanjut tanpa batas waktu yang ditentukan.
Latar Belakang Ketegangan AS-Iran
Serangan terbaru ini merupakan manifestasi dari ketegangan yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah sejak awal Juli. Militer Amerika Serikat sebelumnya telah meluncurkan serangkaian serangan terhadap Iran sejak 8 Juli lalu.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim bahwa serangan mereka merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Aksi tersebut memicu eskalasi militer yang signifikan antara kedua negara yang sudah lama berseteru.
Sebagai bentuk balasan, pasukan Iran kemudian menargetkan pangkalan-pangkalan udara Amerika Serikat yang tersebar di beberapa negara Timur Tengah. Situasi semakin kritis setelah pada 9 Juli, Presiden AS Donald Trump secara resmi menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran tidak lagi berlaku.
Analisis Strategi Militer IRGC
Peningkatan fokus IRGC pada sistem radar regional memiliki tujuan strategis yang sangat jelas. Radar-radar tersebut selama ini memungkinkan Amerika Serikat untuk memantau dan menangkis serangan balasan dari pihak Iran dengan lebih efektif.
Dengan melumpuhkan mata-mata elektronik ini, Iran berupaya menciptakan celah dalam pertahanan udara Amerika Serikat di kawasan tersebut. Taktik ini mencerminkan doktrin perang asimetris yang bertujuan membatasi keunggulan teknologi lawan di medan tempur.
Para analis militer internasional kini memantau dengan cermat bagaimana Amerika Serikat akan merespons gangguan terhadap infrastruktur pertahanan mereka di Kuwait. Keberhasilan klaim IRGC ini menambah kompleksitas baru dalam peta konflik yang sudah sangat volatil.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Kuwait maupun Amerika Serikat mengenai kerusakan total pada sistem radar yang disebutkan. Namun, klaim dari IRGC ini menjadi sinyal kuat bahwa eskalasi militer di Timur Tengah masih jauh dari kata mereda.
