Iran Klaim Kuasai Selat Hormuz di Tengah Eskalasi Perang Timur Tengah

Table of Contents
Iran claims control of key waterway for energy transit |  | cbs19news.com
Iran Klaim Kuasai Selat Hormuz di Tengah Eskalasi Perang Timur Tengah

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Tehran dilaporkan mengalami bombardir hebat lebih lanjut pada hari Rabu, 3 Maret 2026, menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Di tengah serangan udara Israel yang meluas di ibu kota Iran, Garda Revolusi Iran mengumumkan bahwa mereka telah menguasai penuh Selat Hormuz, jalur perairan vital untuk transit energi global.

Pernyataan Iran ini muncul saat kepulan asap terlihat membumbung tinggi dari lokasi serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon. Konflik yang dipicu oleh serangan AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei ini telah menarik Lebanon kembali ke dalam kancah perang, dengan implikasi regional dan global yang mendalam.

Klaim Kontrol Selat Hormuz dan Dampak Global

Klaim Iran atas kendali penuh Selat Hormuz memiliki konsekuensi geopolitik dan ekonomi yang sangat besar. Melalui selat ini, sebagian besar pasokan minyak dunia melewati, menjadikannya arteri vital bagi energi global.

Sebelumnya, Garda Revolusi Iran telah mengeluarkan peringatan keras kepada kapal-kapal agar tidak memasuki selat tersebut, sementara laporan dari lembaga maritim menyebutkan beberapa kapal telah diserang. Mayoritas perusahaan pelayaran besar telah menangguhkan transit melalui jalur perairan krusial ini, memicu kekhawatiran serius tentang keamanan maritim dan pasokan energi global.

Harga energi global sudah melonjak tajam akibat konflik ini, dan Presiden AS Donald Trump menyatakan Angkatan Laut AS siap mengawal tanker minyak melalui Selat Hormuz. Hal ini menunjukkan keseriusan komunitas internasional terhadap ancaman gangguan pasokan energi.

Serangan Balik dan Eskalasi Regional

Perang yang memasuki hari kelima ini telah menyebabkan anjloknya saham global, sementara Iran terus memperluas rentetan serangan rudal dan drone. Serangan balasan Iran tersebut dilancarkan dari Israel melintasi Teluk, menandakan jangkauan dan intensitas yang meningkat.

Selain itu, konflik ini juga telah menyeret Hezbollah, kelompok proksi Tehran di Lebanon, ke dalam pertempuran sengit. Kelompok ini melancarkan drone dan roket ke Israel sebagai balasan atas terbunuhnya Ayatollah Ali Khamenei.

Kekacauan Meluas di Timur Tengah

Dampak kekacauan ini tidak hanya terbatas pada Iran dan Lebanon, tetapi juga meluas ke negara-negara tetangga yang selama ini bangga akan stabilitas mereka. Kota-kota seperti Dubai dan Riyadh, yang dikenal aman dari gejolak regional, kini ikut terseret dalam konflik.

Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat dua rudal jelajah dan sebuah drone yang menargetkan kilang Ras Tanura yang besar. Sementara itu, drone menyerang dekat konsulat AS di Dubai, menyebabkan kebakaran, dan sebuah rudal menghantam pangkalan militer AS di Al-Udeid, Qatar.

Uni Emirat Arab dan Qatar pada hari Rabu mengklaim telah mencegat rentetan drone dan rudal. Abu Dhabi melaporkan diserang oleh tiga rudal balistik dan 129 drone, dengan hanya delapan drone yang berhasil lolos dari intersepsi.

Klaim Kontrol Selat Hormuz dan Dampak Global

Kuwait juga tidak luput dari serangan, dengan Kementerian Kesehatan mengumumkan kematian seorang gadis berusia 11 tahun akibat terkena pecahan peluru. Pentagon mengidentifikasi empat dari enam tentara AS yang tewas dalam perang sejauh ini, mengonfirmasi mereka tewas akibat serangan drone di Kuwait.

Situasi di Lebanon: Peringatan dan Evakuasi

Di Lebanon, militer Israel mengeluarkan peringatan keras kepada penduduk di selatan Sungai Litani untuk bergerak ke utara, menyatakan bahwa tentara “terpaksa mengambil tindakan militer” terhadap Hezbollah di wilayah tersebut. Peringatan ini diikuti oleh serangan udara Israel yang menargetkan pinggiran selatan Beirut, benteng Hezbollah, yang menewaskan 11 orang menurut otoritas Lebanon.

Serangan udara juga dilaporkan menghantam sebuah hotel di Hazmieh dekat Beirut pada hari Rabu, menandai serangan Israel pertama di daerah yang sebagian besar berpenduduk Kristen di pinggiran Beirut. Area tersebut dekat dengan istana kepresidenan dan beberapa kedutaan, menunjukkan perluasan target serangan.

Tanggapan Internasional dan Dampak Kemanusiaan

Pemerintah di seluruh dunia bergegas mengevakuasi warganya yang terdampar oleh perang di Timur Tengah, dengan banyak negara Barat termasuk Inggris dan Prancis mengirimkan penerbangan seewa. Amerika Serikat mendorong semua warganya untuk meninggalkan wilayah tersebut jika dapat menemukan penerbangan komersial, meskipun perjalanan udara telah sangat terganggu.

Di Iran, serangan AS dan Israel telah menewaskan 787 orang, menurut Palang Merah Iran, sebuah jumlah yang belum dapat dikonfirmasi secara independen oleh AFP. Ibu kota Iran yang biasanya berpenduduk sekitar 10 juta orang, kini tampak sepi karena banyak warga memilih untuk mengungsi atau bersembunyi di rumah mereka.

Seorang perawat berusia 33 tahun bernama Samireh menggambarkan Tehran yang sepi, “sangat sedikit orang sehingga Anda akan berpikir tidak ada yang pernah tinggal di sini.” Pemakaman Khamenei telah ditunda, sementara Israel bersumpah untuk membunuh setiap penggantinya, dan Iran menyatakan pengganti akan ditunjuk “sesegera mungkin.”

Pernyataan Pemimpin dan Perang Informasi

Presiden Trump sebelumnya menyatakan AS telah “melumpuhkan” angkatan laut, angkatan udara, dan sistem radar Iran, dan militer AS telah menyerang hampir 2.000 target sejak melancarkan serangan pertama. Laksamana Brad Cooper, komandan pasukan AS di wilayah tersebut, menyatakan gempuran hari pertama lebih besar dari serangan “shock and awe” terhadap Irak Saddam Hussein pada tahun 2003.

Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mendesak warga Iran untuk bangkit, meskipun Trump menegaskan perubahan rezim bukanlah tujuannya. Serangan ini terjadi beberapa minggu setelah otoritas Iran menindak protes massal, menewaskan ribuan orang menurut kelompok hak asasi manusia.

Di Irak, ulama Syiah terkemuka kelahiran Iran, Ayatollah Agung Ali Sistani, mengecam perang tersebut sebagai “tidak adil” dan menyerukan semua Muslim dan orang-orang bebas di seluruh dunia untuk mengecam perang tersebut dan “berdiri dalam solidaritas dengan rakyat Iran.” Pengaruh Sistani meluas ke jutaan pengikut di seluruh dunia Muslim.

Iran berulang kali bersumpah akan menimbulkan kerugian besar sebagai balasan, dengan badan peradilan menyatakan bahwa mereka yang membantu musuh negara “akan ditindak tegas dan keras.” Situasi ini menunjukkan ketegangan yang sangat tinggi di seluruh wilayah dan berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut.

Artikel ini awalnya diterbitkan di doc.afp.com, bagian dari BLOX Digital Content Exchange. Sumber informasi tambahan termasuk laporan dari cbs19news.com.



Ditulis oleh: Agus Pratama

Baca Juga

Loading...