Studi Ungkap Golongan Darah Ini Lebih Rentan Stroke, Harus Khawatir?

Table of Contents
Studi Ungkap Golongan Darah Ini Lebih Rentan Stroke, Benarkah Harus Khawatir?
Studi Ungkap Golongan Darah Ini Lebih Rentan Stroke, Harus Khawatir?

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Selama ini, informasi mengenai golongan darah manusia umumnya hanya diposisikan sebagai data krusial ketika seseorang hendak menjalani tindakan transfusi darah darurat ataupun prosedur transplantasi organ tubuh. Namun, berbagai temuan ilmiah mutakhir kini mulai mengungkap bahwa klasifikasi golongan darah tersebut ternyata memiliki kaitan erat dengan tingkat risiko seseorang terhadap ancaman berbagai penyakit mematikan, termasuk stroke.

Sebuah studi epidemiologi berskala besar yang telah dipublikasikan secara resmi di dalam jurnal ilmiah *Neurology* pada tahun 2022 mendeteksi adanya kecenderungan kuat bahwa pemilik varian golongan darah tertentu memiliki probabilitas lebih tinggi mengalami serangan stroke pada usia muda. Kendati temuan riset ini terdengar cukup mengkhawatirkan, jajaran praktisi kesehatan dunia segera menegaskan agar masyarakat luas tidak menyikapi hasil publikasi ilmiah tersebut dengan kepanikan yang berlebihan.

Pada dasarnya, klasifikasi darah manusia terbagi ke dalam empat kelompok utama yaitu A, B, AB, dan O, yang masing-masing kemudian dikategorikan kembali menjadi rhesus positif (+) serta rhesus negatif (-) hingga membentuk delapan jenis golongan darah standar. Di balik sistem pengelompokan yang umum dikenal tersebut, para peneliti menemukan adanya variasi genetik yang jauh lebih mendalam dan spesifik, di mana subkelompok genetik A1 dan O1 menjadi fokus utama dalam investigasi medis terbaru ini.

Prosedur penelitian komprehensif ini melibatkan pengolahan data genom dari sekitar 17.000 pasien penderita stroke serta membandingkannya dengan hampir 600.000 orang sehat tanpa riwayat stroke sebagai kelompok pembanding. Dari hasil analisis data yang sangat masif tersebut, para ilmuwan menemukan bahwa individu yang memiliki varian genetik A1 memiliki risiko hingga 16 persen lebih tinggi untuk mengalami stroke sebelum menginjak usia 60 tahun jika dibandingkan dengan pemilik golongan darah lainnya.

Hasil Temuan Genetik dan Risiko Varian Golongan Darah

Sebaliknya, hasil observasi menunjukkan tren yang sangat positif pada pemilik varian genetik O1, di mana mereka justru memiliki tingkat risiko stroke dini yang tercatat sekitar 12 persen lebih rendah dibandingkan kelompok populasi lainnya. Perbedaan persentase yang signifikan ini memberikan wawasan baru bagi komunitas medis global mengenai bagaimana garis keturunan genetika dapat menentukan tingkat kerentanan biologis seseorang terhadap penyakit kardiovaskular sejak dini.

"Temuan penting dan mengejutkan ini menambah pemahaman kita mengenai faktor risiko stroke yang tidak dapat diubah, termasuk golongan darah seseorang," ujar Dr. Mark Gladwin, seorang ilmuwan terkemuka sekaligus dokter dari University of Maryland yang kutipannya dilansir oleh portal berita *Science Alert*. Pernyataan resmi tersebut mengindikasikan bahwa faktor bawaan lahir seperti profil genetika darah kini harus mulai dipertimbangkan secara serius dalam pemetaan risiko klinis pasien di masa depan.

Kasus serangan stroke yang menyasar kelompok usia muda dilaporkan terus mengalami peningkatan secara global, sebuah fenomena medis mengkhawatirkan yang hingga kini masih memerlukan investigasi ilmiah lebih lanjut. Steven Kittner, yang bertindak sebagai penulis senior penelitian sekaligus ahli neurologi vaskular dari University of Maryland, menekankan bahwa kondisi stroke pada pasien muda membawa dampak sosial dan ekonomi yang sangat masif.

"Orang yang mengalami stroke di usia muda memiliki risiko kematian lebih tinggi. Mereka yang selamat juga berpotensi hidup dengan disabilitas selama puluhan tahun. Sayangnya, penyebab stroke pada usia muda masih belum banyak diteliti," jelas Steven Kittner dalam wawancara resminya mengenai urgensi penelitian medis ini. Melalui metode analisis genom modern, tim peneliti berhasil mengidentifikasi bahwa salah satu lokasi gen yang memiliki korelasi terkuat dengan serangan stroke usia muda berada tepat pada gen ABO yang mendefinisikan golongan darah manusia.

Mengapa Golongan Darah A Lebih Rentan Mengalami Stroke?

Meskipun tim peneliti berhasil memetakan adanya peningkatan risiko bagi golongan darah tertentu, Steven Kittner secara tegas mengingatkan publik agar tidak panik atau terburu-buru melakukan skrining medis khusus hanya karena faktor genetika ini. Ia menjelaskan bahwa persentase peningkatan risiko tersebut secara klinis tergolong relatif kecil, sehingga tidak seharusnya memicu kecemasan berlebihan bagi pemilik golongan darah A.

Hasil Temuan Genetik dan Risiko Varian Golongan Darah

Hingga detik ini, mekanisme biologis spesifik yang menyebabkan golongan darah A memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap serangan stroke masih belum diketahui secara pasti oleh para ilmuwan. Namun, para ahli menduga kuat bahwa fenomena patologis ini berkaitan erat dengan aktivitas faktor pembekuan darah, karakteristik sel trombosit, fungsi sel pelapis pembuluh darah (endotel), serta interaksi protein sirkulasi dalam pembentukan bekuan darah.

Selain menyoroti kerentanan golongan darah A, riset mendalam ini juga menemukan fakta bahwa pemilik golongan darah B memiliki peluang sekitar 11 persen lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan golongan darah lainnya. Menariknya, peningkatan risiko stroke pada individu dengan golongan darah B ini terpantau konsisten terjadi di sepanjang rentang hidup mereka tanpa dipengaruhi oleh batasan usia tertentu.

Hasil studi teranyar ini sebenarnya sejalan dengan beberapa rangkaian penelitian terdahulu yang secara konsisten mengaitkan variasi gen ABO dengan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular lainnya. Beberapa kondisi patologis yang kerap dikaitkan dengan gen tersebut antara lain adalah serangan jantung koroner, proses pengapuran dinding pembuluh darah, hingga kasus trombosis vena dalam atau terbentuknya bekuan darah berbahaya di pembuluh darah balik.

Faktor Risiko Utama Stroke yang Tetap Harus Diwaspadai

Walaupun data statistik yang dihasilkan dari riset genetika ini sangat menarik untuk dicermati, para pakar kesehatan kembali mengingatkan bahwa golongan darah bukanlah faktor penentu mutlak dari serangan stroke. Faktor risiko konvensional yang dapat dimodifikasi seperti hipertensi, diabetes melitus, kadar kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, obesitas, kurang olahraga, dan pola diet buruk tetap menjadi pemicu utama yang memiliki pengaruh jauh lebih dominan.

Laporan riset ini juga memiliki batasan geografis dan demografis tertentu karena mayoritas subjek penelitian berasal dari wilayah Amerika Utara, Eropa, Jepang, Pakistan, serta Australia dengan hanya 35 persen partisipan non-Eropa. Mengingat adanya keterbatasan tersebut, para ilmuwan sangat merekomendasikan dilakukannya studi lanjutan dengan melibatkan populasi etnis yang jauh lebih beragam guna mendapatkan kesimpulan yang lebih universal.

Hal menarik lainnya yang ditemukan oleh tim peneliti adalah hilangnya korelasi signifikan antara golongan darah A dengan risiko stroke pada kelompok pasien yang telah melewati usia 60 tahun. Perbedaan hasil berdasarkan kelompok usia ini mengindikasikan bahwa mekanisme patofisiologi terjadinya stroke pada usia muda kemungkinan besar sangat berbeda dengan proses stroke yang dialami oleh kelompok lanjut usia.

Para peneliti menduga kuat bahwa serangan stroke pada orang muda lebih sering dipicu oleh anomali proses pembekuan darah, sedangkan stroke pada lansia umumnya disebabkan oleh akumulasi plak lemak kronis di dinding pembuluh darah yang dikenal sebagai aterosklerosis. Secara medis, stroke sendiri dikategorikan sebagai kondisi darurat utama yang terjadi ketika pasokan darah menuju otak terhambat secara mendadak akibat penyumbatan arteri ataupun pecahnya pembuluh darah serebral.

Mengenal Jenis Stroke dan Penanganan Darurat Medis

Neurolog dr. Ricky Gusanto Kurniawan, SpN, SubspNIIO (K), FINR, memaparkan secara rinci bahwa kondisi stroke terbagi menjadi dua klasifikasi utama, yaitu stroke iskemik yang disebabkan penyumbatan serta stroke hemoragik akibat pendarahan. Ia menjelaskan bahwa ketika pembuluh darah di dalam otak pecah, darah yang keluar akan menekan jaringan otak di sekitarnya sehingga memicu pembengkakan yang sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa pasien.

"Kalau jaringan otak sekitarnya ketekan (akibat perdarahan) ya apa yang terjadi? Bengkak, tambah bengkak jaringan otaknya. Ketika darahnya menekan batang otak, ya sudah, napasnya terganggu, kemudian pasiennya nggak sadar, bahkan kekuatan ototnya semua, ya hilang," papar dr. Ricky Gusanto Kurniawan menjelaskan dampak fatal stroke hemoragik. Oleh karena itu, langkah preventif aktif seperti mengontrol tekanan darah, menjaga kestabilan kadar gula darah, berolahraga teratur, serta mengenali gejala awal secara cepat merupakan kunci utama dalam menurunkan risiko stroke secara signifikan tanpa memandang apa pun tipe golongan darah Anda.

Baca Juga

Loading...