Mahmoud Ahmadinejad Tewas dalam Serangan Rudal di Teheran: Akhir Era Tokoh Kontroversial Iran
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dilaporkan meninggal dunia secara tragis dalam sebuah serangan rudal yang menghantam kediaman pribadinya di kawasan Narmak, Teheran, pada Sabtu, 28 Februari 2026. Sosok pemimpin yang dikenal karena gaya kepemimpinannya yang tegas dan pendekatan populisnya tersebut mengembuskan napas terakhir pada usia 69 tahun di tengah eskalasi ketegangan regional yang kian memuncak.
Insiden mematikan ini terjadi pada Sabtu malam dan diduga kuat merupakan hasil dari operasi udara gabungan antara pihak Israel dan Amerika Serikat yang menargetkan titik strategis di ibu kota Iran. Kabar duka ini segera menyebar luas setelah media lokal dan internasional mengonfirmasi bahwa serangan tersebut tidak hanya menewaskan Ahmadinejad, tetapi juga merenggut nyawa sejumlah pengawal setianya yang tengah bertugas.
Detail Serangan Udara di Kawasan Narmak
Kantor berita ILNA melaporkan bahwa sebuah rudal jatuh tepat di daerah Narmak, sebuah kawasan di timur laut Teheran yang menjadi lokasi kantor dan tempat tinggal mantan presiden tersebut. Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan kerusakan parah di lokasi kejadian dengan kepulan asap tebal yang membumbung tinggi dari reruntuhan bangunan yang terkena hantaman langsung.
Pihak keamanan Iran mengonfirmasi identitas para pengawal yang gugur dalam peristiwa ini, yakni Mehdi Mokhtari, Mostafa Azizi, dan Hassan Masjedi. Ketiganya dilaporkan berada di dekat Ahmadinejad saat proyektil tersebut menghancurkan struktur bangunan, menandai salah satu serangan paling signifikan terhadap tokoh politik senior di dalam wilayah kedaulatan Iran.
Profil dan Masa Muda Mahmoud Ahmadinejad
Lahir dengan nama asli Mahmoud Saborjhian pada 28 Oktober 1956 di desa terpencil Aradan, Ahmadinejad merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga seorang pandai besi. Keluarganya memutuskan pindah ke Teheran pada tahun 1957, di mana mereka kemudian mengubah nama keluarga menjadi Ahmadinejad sebagai simbol identitas baru di ibu kota.
Ahmadinejad menempuh pendidikan tinggi di Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) dengan mengambil jurusan teknik sipil pada tahun 1976 dan dikenal sebagai aktivis mahasiswa yang sangat vokal. Ia terlibat aktif sebagai salah satu penggerak demonstrasi massa selama periode Revolusi Iran tahun 1978-1979 yang menggulingkan rezim Shah Iran.
Karier Militer dan Akademisi
Pasca-revolusi, ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan terjun langsung ke medan tempur selama Perang Iran-Irak yang berlangsung sepanjang tahun 1980 hingga 1988. Pengalaman militer ini membentuk karakter politiknya yang keras dan nasionalis, yang kemudian menjadi ciri khas kepemimpinannya di masa depan.
Setelah tugas militernya usai, ia kembali ke dunia akademis untuk meraih gelar doktor dalam bidang teknik dan perencanaan transportasi pada tahun 1986. Keahlian intelektual ini membawanya menjadi dosen di almamaternya, IUST, mulai tahun 1989 sebelum akhirnya memutuskan untuk terjun sepenuhnya ke panggung politik praktis.
Perjalanan Menuju Kursi Kepresidenan
Langkah politiknya dimulai saat ia ditunjuk sebagai gubernur di kota Maku dan Khoy, hingga akhirnya dipercaya memimpin Provinsi Ardabil yang baru dibentuk hingga tahun 1997. Pada tahun 2003, Ahmadinejad membantu mendirikan partai Pengembang Islam Iran yang mengusung agenda populis untuk menyatukan faksi-faksi konservatif di negara tersebut.
Keberhasilan partai tersebut membawanya menduduki kursi Wali Kota Teheran, di mana ia menerapkan berbagai kebijakan kontroversial seperti pemisahan lift berdasarkan gender dan penutupan restoran cepat saji ala Barat. Meskipun menuai kritik dari kalangan liberal, ia mendapatkan pujian luas dari masyarakat kelas bawah karena upayanya memperbaiki infrastruktur jalan dan menekan angka inflasi kota.
Visi Ekonomi dan Sikap Keras Terhadap Barat
Pada pemilihan presiden tahun 2005, Ahmadinejad berhasil meraih kemenangan telak dengan 17 juta suara setelah berkampanye dengan janji memberantas kemiskinan dan korupsi elit. Ia secara sadar memposisikan dirinya sebagai pemimpin sederhana yang menolak kemewahan, bahkan sempat menolak tinggal di istana kepresidenan demi tetap berada di rumah pribadinya.
Di panggung internasional, ia dikenal karena retorikanya yang sangat tajam terhadap Amerika Serikat dan Israel, serta ambisinya yang tak tergoyahkan dalam mengembangkan teknologi nuklir Iran. Pada April 2007, ia mengumumkan dimulainya produksi bahan bakar nuklir skala industri, sebuah langkah berani yang memicu dijatuhkannya serangkaian sanksi ekonomi internasional terhadap Teheran.
Kontroversi Pemilu 2009 dan Keretakan Politik
Kemenangan Ahmadinejad pada periode kedua di tahun 2009 memicu gelombang protes terbesar dalam sejarah modern Iran yang dikenal sebagai Gerakan Hijau karena tuduhan kecurangan pemilu. Meskipun akhirnya tetap dilantik oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, legitimasi kepemimpinannya mulai goyah akibat kerusuhan massa yang melumpuhkan jalanan Teheran selama berhari-hari.
Hubungannya dengan Khamenei pun mulai retak pada periode kedua setelah adanya perselisihan mengenai penunjukan menteri intelijen dan perebutan pengaruh politik di tingkat tertinggi. Pada Maret 2012, untuk pertama kalinya dalam sejarah Iran, seorang presiden yang sedang menjabat dipanggil oleh parlemen (Majelis) untuk dimintai pertanggungjawaban atas kebijakan-kebijakannya.
Tahanan Rumah dan Akhir Hayat
Setelah masa jabatannya berakhir pada 2013, Ahmadinejad tetap menjadi sosok yang kontroversial dan sempat mencoba mencalonkan diri kembali pada 2017 namun didiskualifikasi oleh Dewan Pengawal. Ia bahkan dikabarkan sempat menjalani tahanan rumah sejak Januari 2018 setelah dituduh memicu aksi demonstrasi melawan pemerintah melalui pernyataan-pernyataan publiknya yang provokatif.
Kini, kepergian Mahmoud Ahmadinejad dalam insiden tragis di Narmak menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang tokoh yang telah mendefinisikan dinamika politik Iran selama dua dekade terakhir. Warisannya akan terus menjadi bahan perdebatan panjang, antara citra sebagai pembela kaum miskin dan pemimpin yang membawa Iran ke dalam isolasi internasional yang mendalam.
Ditulis oleh: Doni Saputra
