Update Kondisi Banjir Aceh: Urgensi Percepatan Huntara Menjelang Ramadan 2026

Table of Contents
Korban Banjir Aceh Masih di Tenda Darurat saat Ramadan, Tito Prihatin
Update Kondisi Banjir Aceh: Urgensi Percepatan Huntara Menjelang Ramadan 2026

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap nasib puluhan ribu korban banjir Aceh yang hingga kini masih bertahan di tenda pengungsian. Memasuki awal Ramadan 2026 atau 1447 Hijriah, kondisi para pengungsi dinilai sangat memprihatinkan karena harus menjalankan ibadah puasa di bawah fasilitas darurat yang terbatas.

Kunjungan kerja yang dilakukan Mendagri pada Sabtu (21/2) ini bertujuan untuk meninjau secara langsung progres pemulihan pascabencana di beberapa titik krusial. Fokus utama peninjauan meliputi Kabupaten Aceh Utara dan Pidie Jaya, dua wilayah yang terdampak cukup parah akibat terjangan banjir dan longsor pada akhir tahun lalu.

Kondisi Pengungsi di Tengah Ibadah Ramadan

Tito Karnavian menegaskan bahwa menempati tenda darurat saat bulan suci bukanlah situasi yang ideal bagi warga untuk menjalankan ibadah dengan khusyuk. Cuaca yang tidak menentu dan fasilitas sanitasi yang seadanya di tenda darurat menjadi beban ganda bagi para penyintas bencana di Aceh.

"Kita sudah lihat bagaimana progres dan saya cukup prihatin melihat pengungsi masih menempati tenda darurat pada bulan puasa ini," ujar Tito saat memberikan keterangan resmi. Pernyataan ini mencerminkan desakan pemerintah pusat agar proses transisi dari masa darurat ke masa pemulihan dapat berjalan lebih cepat dari jadwal semula.

Data Sebaran Pengungsi dan Lokasi Terdampak

Berdasarkan data terkini dari posko tanggap darurat bencana Aceh per Sabtu (21/2) pukul 22:25 WIB, angka pengungsi masih tergolong sangat tinggi. Tercatat sebanyak 47.657 jiwa masih menempati 262 titik lokasi pengungsian yang tersebar di berbagai kabupaten terdampak.

Berikut adalah rincian data jumlah pengungsi di wilayah yang memiliki dampak paling signifikan:

  • Kabupaten Aceh Utara: 19.248 orang (wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak).
  • Aceh Tamiang: 6.052 orang.
  • Aceh Tengah: 4.689 orang.

Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan rehabilitasi di Aceh Utara menjadi prioritas utama bagi pemerintah daerah maupun pusat. Banyaknya titik pengungsian menuntut manajemen logistik yang sangat kompleks, terutama untuk memastikan kebutuhan sahur dan berbuka puasa terpenuhi dengan layak.

Mengenal Hunian Sementara (Huntara) dan Proses Relokasi

Dalam konteks manajemen bencana, Hunian Sementara (Huntara) adalah bangunan tempat tinggal bagi penyintas bencana yang dibangun untuk jangka waktu tertentu sebelum hunian tetap tersedia. Huntara memiliki struktur yang lebih kokoh dibandingkan tenda darurat, sehingga mampu memberikan perlindungan lebih baik dari cuaca ekstrem dan menjamin privasi keluarga.

Kondisi Pengungsi di Tengah Ibadah Ramadan

Mendagri mendesak Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk segera merampungkan pembangunan unit-unit Huntara tersebut agar pengungsi tidak terlalu lama berada di bawah tenda. Kepastian waktu penyelesaian menjadi poin krusial yang diminta oleh Tito agar para pengungsi mendapatkan kejelasan mengenai nasib tempat tinggal mereka.

Tantangan dalam Pembangunan Huntara

Kepala Satuan Tugas (Satgas) percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana wilayah Aceh, Safrizal ZA, menyebutkan bahwa pembangunan Huntara terus berjalan. Hingga pertengahan Februari 2026, tercatat sebanyak 6.211 unit Huntara telah berhasil diselesaikan oleh pihak berwenang di lapangan.

Meski angka tersebut cukup signifikan, Safrizal mengakui bahwa jumlah itu belum mencakup seluruh kebutuhan pengungsi yang ada. Proses verifikasi data penerima bantuan masih menjadi salah satu tahapan yang memakan waktu cukup lama untuk memastikan akurasi distribusi hunian.

"Belum semuanya karena masih terus diverifikasi," jelas Safrizal saat dikonfirmasi mengenai kendala di lapangan. Verifikasi ini meliputi pemeriksaan administrasi kependudukan dan penilaian kerusakan rumah asal untuk memastikan bahwa Huntara diberikan kepada mereka yang benar-benar kehilangan tempat tinggal.

Relokasi Desa dan Rehabilitasi Pasca-Longsor

Selain pembangunan Huntara, pemerintah juga dihadapkan pada tantangan relokasi bagi desa-desa yang dinyatakan hilang akibat terjangan banjir dan longsor. Relokasi adalah proses pemindahan penduduk ke lokasi baru yang lebih aman karena wilayah lama dianggap tidak layak lagi secara geologis untuk dihuni kembali.

Pemilihan lokasi baru untuk desa-desa yang hilang ini memerlukan kajian teknis yang mendalam agar terhindar dari potensi bencana di masa depan. Mendagri Tito Karnavian terus memantau persiapan proses relokasi ini sebagai bagian dari strategi pemulihan jangka panjang bagi masyarakat Aceh.

Urgensi Sinergi Antar-Lembaga

Penanganan bencana dalam skala besar seperti di Aceh memerlukan kolaborasi yang kuat antara Pemerintah Daerah, Kementerian PU, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Koordinasi ini penting untuk menghindari tumpang tindih kebijakan serta mempercepat aliran dana bantuan bagi infrastruktur publik yang rusak.

Tito Karnavian berulang kali menekankan agar birokrasi tidak menghambat proses pemulihan bagi masyarakat yang sedang menderita. Instruksi tegas "jangan lama-lama" yang dilontarkan Mendagri merupakan perintah bagi seluruh stakeholder untuk bekerja dengan efisiensi maksimal selama masa transisi ini.

Sebagai kesimpulan, percepatan pemulihan di Aceh bukan sekadar masalah teknis pembangunan fisik, melainkan juga masalah kemanusiaan. Dengan percepatan pembangunan Huntara, diharapkan warga Aceh dapat menjalankan sisa bulan Ramadan dan merayakan Idul Fitri dalam kondisi yang lebih bermartabat dibandingkan di tenda darurat.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Berapa jumlah total pengungsi banjir Aceh menurut data terbaru Februari 2026?

Berdasarkan data Sabtu (21/2) pukul 22:25 WIB, total pengungsi mencapai 47.657 jiwa yang tersebar di 262 titik lokasi pengungsian.

Apa itu Huntara yang didesak pembangunannya oleh Mendagri?

Huntara atau Hunian Sementara adalah tempat tinggal sementara yang lebih layak dan kokoh daripada tenda darurat, ditujukan bagi korban bencana sebelum mereka mendapatkan hunian tetap atau melakukan relokasi.

Wilayah mana yang memiliki jumlah pengungsi terbanyak di Aceh?

Kabupaten Aceh Utara mencatat jumlah pengungsi terbanyak dengan total 19.248 orang.

Berapa banyak Huntara yang sudah selesai dibangun hingga pertengahan Februari 2026?

Menurut Kepala Satgas Safrizal ZA, sudah ada 6.211 unit Huntara yang dibangun, namun proses pembangunan masih berlanjut seiring verifikasi data.



Ditulis oleh: Eko Kurniawan

Baca Juga

Loading...