Jelang Ramadhan, Warga Korban Banjir Aceh Tamiang Terpaksa Tidur di Kuburan
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - ACEH TAMIANG – Dua bulan pascabencana banjir bandang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, duka mendalam masih menyelimuti warga yang kehilangan tempat tinggal. Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, sejumlah warga dilaporkan terpaksa tidur di area pemakaman karena tidak lagi memiliki hunian layak.
Kondisi memprihatinkan ini menjadi sorotan tajam setelah banyak pengungsi merasa bantuan pemerintah belum kunjung terealisasi secara merata. Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Aceh Tamiang, Tgk Sultan, menyampaikan keprihatinan mendalam atas nasib para penyintas tersebut.
Krisis Tempat Tinggal dan Martabat Kemanusiaan
"Ini bukan sekadar soal tempat tinggal yang rusak, tetapi soal martabat manusia yang harus dijaga," ujar Tgk Sultan pada Jumat (13/2/2026). Ia mengaku sangat sedih melihat warga harus berteduh di kuburan saat Ramadhan sudah di depan mata.
Hingga saat ini, sebagian besar korban banjir belum menerima bantuan uang tunai untuk pemulihan ekonomi maupun perbaikan rumah. Bantuan sembako yang sempat diterima sebelumnya dilaporkan hanya datang sekali dan berasal dari inisiatif relawan.
Minimnya skema bantuan pemerintah menyebabkan kondisi psikologis masyarakat terdampak semakin tertekan dan dihantui ketidakpastian. Banyak kepala keluarga terpaksa bekerja serabutan demi menyambung hidup dengan membersihkan sisa-sisa reruntuhan rumah mereka.
Ramadhan yang seharusnya menjadi bulan penuh ketenangan untuk beribadah kini justru dipenuhi rasa cemas akibat ketiadaan tempat berteduh. Tgk Sultan menegaskan bahwa masyarakat tidak meminta-minta, melainkan hanya ingin difasilitasi agar bisa bangkit secara mandiri.
Evaluasi Penanganan Pasca Bencana
Pihak PCNU Aceh Tamiang menyoroti janji bantuan bagi pelaku UMKM terdampak banjir yang hingga kini belum menyentuh sasaran di lapangan. Program-program pemulihan ekonomi tersebut dinilai masih sebatas wacana dan belum dirasakan manfaatnya secara nyata oleh korban.
Tgk Sultan berharap pemerintah daerah maupun pusat segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses pendataan korban bencana. Ia mendesak agar pendataan dilakukan secara transparan agar tidak ada lagi warga yang tercecer dari daftar penerima manfaat.
"Jika ada kekurangan administrasi, pihak pemerintah harus mendampingi mereka agar mendapatkan haknya," tegas Tgk Sultan dengan nada bicara yang lirih. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk pengurus masjid dan dayah, untuk meningkatkan solidaritas menjelang bulan puasa.
Tradisi gotong royong masyarakat Aceh diharapkan menjadi kekuatan tambahan untuk membantu warga yang masih bertahan di tenda pengungsian. Namun, tanggung jawab utama rehabilitasi rumah dan bantuan ekonomi jangka panjang tetap berada di tangan pemerintah.
Fenomena warga tidur di kuburan dianggap sebagai simbol betapa beratnya beban yang ditanggung masyarakat Aceh Tamiang saat ini. Pemerintah diharapkan hadir secara nyata di tengah lumpur dan tenda pengungsian, bukan hanya dalam rapat formal.
Langkah nyata sebelum Ramadhan tiba menjadi tuntutan utama agar suasana duka tidak berkepanjangan bagi para korban banjir bandang. Kesabaran warga tidak boleh diuji tanpa batas oleh keterlambatan penyaluran bantuan yang krusial bagi kehidupan mereka.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Mengapa warga Aceh Tamiang tidur di kuburan?
Warga terpaksa tidur di area pemakaman karena rumah mereka hancur akibat banjir bandang dua bulan lalu dan bantuan hunian belum juga tiba.
Kapan peristiwa ini dilaporkan?
Kondisi ini dilaporkan pada pertengahan Februari 2026, bertepatan dengan persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.
Apa tuntutan PCNU Aceh Tamiang terkait masalah ini?
Tgk Sultan dari PCNU mendesak pemerintah segera melakukan pendataan transparan dan menyalurkan bantuan perbaikan rumah serta modal UMKM sebelum Ramadhan.
Ditulis oleh: Doni Saputra