Alasan Iran Menolak Hentikan Program Nuklir Meski Diancam Serangan Trump

Table of Contents
Why Iran resists giving up its nuclear program, even as Trump threatens strikes - Los Angeles Times
Alasan Iran Menolak Hentikan Program Nuklir Meski Diancam Serangan Trump

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencapai titik didih setelah putaran perundingan di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan pekan ini. Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan rasa frustrasinya dan mengancam akan melakukan serangan militer terbatas untuk memaksa Teheran menghentikan program pengayaan nuklirnya.

Meskipun ancaman serangan udara dan laut AS semakin nyata, para pemimpin Iran tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak menyerah pada tuntutan Washington. Bagi Teheran, konsesi besar terhadap Amerika Serikat dianggap sebagai langkah yang dapat merusak identitas dan fondasi dasar Republik Islam.

Benturan Identitas dan Kedaulatan Nasional

Hamid Reza Taraghi, Kepala Urusan Internasional Partai Koalisi Islam Iran, menegaskan bahwa posisi Iran adalah sebagai model bagi dunia Islam. "Sebagai teokrasi Islam, kami tidak boleh menyerah," ujar Taraghi, merujuk pada keengganan pemerintah untuk tunduk di bawah tekanan asing.

Sentimen ini diperkuat oleh sejarah panjang ketidakpercayaan, terutama setelah penarikan diri Trump dari kesepakatan nuklir sebelumnya. Iran menilai bahwa menyerah pada tekanan militer hanya akan memberikan keberanian lebih bagi AS untuk menekan kedaulatan mereka lebih jauh.

Mobilisasi Militer Besar-Besaran di Kawasan

Saat ini, Amerika Serikat telah menyelesaikan penumpukan kekuatan yang melibatkan lebih dari 150 pesawat tempur dan sepertiga dari seluruh kapal aktifnya di perbatasan Iran. Langkah ini diambil sebagai bentuk "tekanan maksimum" untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir di masa depan.

Benturan Identitas dan Kedaulatan Nasional

Meskipun demikian, Trump tetap menyatakan preferensinya untuk jalur diplomasi dalam pidato State of the Union-nya. Namun, ia menegaskan tidak akan membiarkan negara yang ia sebut sebagai sponsor terorisme nomor satu dunia itu memiliki akses ke senjata pemusnah massal.

Strategi Defensif dan Risiko Perang Regional

Rose Kelanic, Direktur Program Timur Tengah di Defense Priorities, menjelaskan bahwa Iran menggunakan strategi pencegahan yang disebut sebagai strategi "landak". Dalam analogi ini, gudang senjata rudal Iran bertindak sebagai duri yang dirancang untuk melukai musuh meskipun mereka tidak bisa memenangkan perang terbuka.

Jika serangan benar-benar terjadi, pengamat memprediksi Iran akan memobilisasi kelompok paramiliter seperti Houthi di Yaman atau milisi di Irak. Selain itu, keterlibatan tidak langsung dari rival AS seperti Rusia dan China dikhawatirkan dapat menciptakan efek domino yang memicu konflik regional yang lebih luas.

Kondisi Domestik Iran yang Rentan

Ancaman serangan militer ini datang di tengah kondisi dalam negeri Iran yang sangat sulit akibat sanksi ekonomi jangka panjang. Kerusuhan pada bulan Januari lalu dilaporkan menelan korban jiwa ribuan orang, menunjukkan adanya ketidakpuasan internal yang signifikan terhadap pemerintah.

Hingga saat ini, mediator dari Oman, Badr al-Busaidi, terus berupaya menjembatani kedua belah pihak di tengah evakuasi staf kedutaan besar asing dari kawasan. Dunia kini menunggu apakah diplomasi di menit-menit terakhir dapat mencegah perang besar di Timur Tengah.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Mengapa Iran enggan menghentikan pengayaan uraniumnya?

Iran memandang program nuklir sebagai simbol kedaulatan nasional dan identitas sebagai negara teokrasi yang tidak boleh tunduk pada tekanan asing.

Apa tuntutan utama Amerika Serikat dalam perundingan ini?

AS menuntut Iran menghentikan seluruh pengayaan nuklir, menyerahkan simpanan uranium, serta membatasi program rudal balistik dan dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan.

Bagaimana strategi pertahanan Iran menghadapi ancaman AS?

Iran menggunakan strategi pertahanan atrisi atau 'strategi landak', yang mengandalkan rudal balistik dan jaringan kelompok paramiliter regional untuk memberikan balasan yang menyakitkan bagi penyerang.

Siapa yang menjadi mediator dalam perundingan nuklir ini?

Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, bertindak sebagai mediator utama dalam perundingan tidak langsung antara AS dan Iran yang berlangsung di Jenewa.



Ditulis oleh: Eko Kurniawan

Baca Juga

Loading...