Blibli Tiket Cetak Laba Bruto Rp3,46 Triliun, Bisnis Institusi Meroket 70%

Table of Contents
Segmen Institusi dan Toko Fisik Bantu Topang Bisnis E-Commerce
Blibli Tiket Cetak Laba Bruto Rp3,46 Triliun, Bisnis Institusi Meroket 70%

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Indonesia - PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), pengelola ekosistem BlibliTiket, mengukir pertumbuhan pendapatan neto konsolidasian sebesar Rp22,24 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2026. Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 46% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp15,24 triliun. Pertumbuhan impresif ini terutama didorong oleh kontribusi kuat dari segmen bisnis institusi dan jaringan toko fisik. Di samping ekspansi pendapatan, perusahaan juga berhasil meningkatkan efisiensi operasional, yang tercermin dari penyusutan kerugian usaha dan EBITDA.

Efisiensi Operasional Meningkat, Kerugian Menyusut

Laporan kinerja yang dirilis pada 30 Oktober 2026 menunjukkan bahwa rugi usaha perusahaan susut drastis sebesar 53%, dari Rp1,68 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp783 miliar.

Penurunan kerugian EBITDA juga signifikan, mencapai 61% dari Rp1,46 triliun menjadi Rp566 miliar.

Sementara itu, laba bruto konsolidasian mengalami peningkatan sebesar 29%, menyentuh angka Rp3,46 triliun.

Namun, marjin bruto mengalami sedikit penurunan menjadi 15,6% dari 17,6%, yang disebabkan oleh perubahan komposisi produk dan sumber pendapatan.

CEO dan Co-Founder PT Global Digital Niaga Tbk, Kusumo Martanto, menyatakan bahwa pencapaian ini menegaskan ketahanan ekosistem omnichannel perusahaan di tengah tantangan pola belanja konsumen yang kian selektif dan dinamika pasar yang kompetitif. "Sembilan bulan pertama tahun 2026 kembali menunjukkan ketangguhan ekosistem omnichannel terintegrasi serta konsistensi kami dalam menjalankan rencana strategis jangka panjang," ujar Kusumo dalam pernyataannya.

Segmen Institusi Menjadi Mesin Pertumbuhan Utama

Segmen bisnis institusi menjadi penyumbang pertumbuhan pendapatan tertinggi, melonjak 70% menjadi Rp9,92 triliun sepanjang Januari-September 2026, meningkat dari Rp5,83 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didukung oleh ekspansi regional yang fokus pada kategori elektronik konsumen, khususnya smartphone dan peralatan rumah tangga. Perusahaan juga mencatat peningkatan rata-rata belanja per klien institusi sebesar 63%, mencapai Rp145,1 juta, dengan total sekitar 93.000 klien institusi dilayani selama periode tersebut.

Efisiensi Operasional Meningkat, Kerugian Menyusut

Sementara itu, segmen toko fisik menunjukkan pertumbuhan pendapatan sebesar 37%, mencapai Rp6,63 triliun. Peningkatan ini ditopang oleh penjualan smartphone, pembukaan gerai-gerai baru, serta kinerja positif jaringan supermarket premium. Sepanjang kuartal III 2026, perusahaan berhasil menambah 31 toko, sehingga total jaringan ritel yang dikelola mencakup 347 toko elektronik konsumen, 24 toko elektronik rumah tangga, dan satu toko fesyen dan olahraga hingga akhir September.

Diversifikasi Bisnis Ritel dan Integrasi Ekosistem

Perusahaan juga mengoperasikan 60 gerai supermarket premium di bawah merek Ranch Market dan 39 pusat pengalaman produk rumah tangga dan interior melalui Dekoruma.

Pada segmen ritel pihak pertama (Ritel 1P), pendapatan meningkat 29% menjadi Rp4,50 triliun, sementara segmen ritel pihak ketiga (Ritel 3P) tumbuh 9% menjadi Rp1,20 triliun.

Peningkatan efisiensi operasional menjadi kunci keberhasilan lain.

Rasio beban operasional terhadap Total Processing Value (TPV) berhasil ditekan menjadi 6,4% dari sebelumnya 7,2%, berkat efisiensi biaya iklan, pemasaran, serta beban umum dan administrasi.

TPV konsolidasian sendiri meningkat 11% menjadi Rp67,17 triliun.

Take rate, atau perbandingan laba bruto sebelum diskon terhadap TPV, juga menunjukkan tren positif dengan meningkat menjadi 9,1% dari 8,4%.

CFO PT Global Digital Niaga Tbk, Ronald Winardi, menggarisbawahi bahwa kinerja keuangan yang solid mencerminkan keberhasilan strategi peningkatan bauran pendapatan dan pengelolaan biaya yang disiplin.

"Kinerja keuangan kami pada sembilan bulan pertama tahun 2026 mencerminkan manfaat dari perbaikan bauran pendapatan serta pengelolaan biaya yang disiplin," ujar Ronald.

Perusahaan berkomitmen untuk terus fokus pada perluasan marjin, peningkatan efisiensi operasional, dan pengelolaan modal guna mempercepat langkah menuju profitabilitas.

Meskipun mencatat pertumbuhan pendapatan dan penyusutan kerugian operasional, penurunan marjin bruto dan arus kas operasional yang masih negatif mengindikasikan bahwa peningkatan skala bisnis belum sepenuhnya mengatasi tekanan pada profitabilitas.

Memasuki kuartal IV 2026, perusahaan mempertahankan target pertumbuhan pendapatan neto konsolidasian sebesar 15-20% untuk keseluruhan tahun, dengan optimisme pada momentum Harbolnas dan libur akhir tahun untuk kategori elektronik konsumen, perjalanan, dan gaya hidup, meskipun persaingan bisnis diperkirakan tetap ketat.

Baca Juga

Loading...