Strategi Diversifikasi Bisnis: Indika Energy (INDY) Bangun Anak Usaha Baru
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - PT Indika Energy Tbk. (INDY) kembali memperkuat portofolio bisnisnya melalui pendirian entitas usaha baru yang diumumkan secara resmi pada pertengahan Agustus 2026. Langkah strategis ini dilakukan oleh anak-anak usaha perseroan untuk memperluas jangkauan operasional di tengah dinamika pasar yang terus berkembang.
Berdasarkan keterbukaan informasi, Sekretaris Perusahaan INDY, Adi Pramono, menyampaikan bahwa PT Indika Logistic & Support Services (ILSS) dan PT Interport Mandiri Utama (IMU) telah resmi mendirikan PT Tujuh Raya Dewi (TRADE). Pembentukan entitas baru ini menandai komitmen perusahaan dalam memperkuat struktur bisnis yang terkonsolidasi secara laporan keuangan.
Kepemilikan saham dalam PT Tujuh Raya Dewi (TRADE) didistribusikan secara mayoritas kepada ILSS sebesar 51%, sementara IMU memegang porsi sisanya sebesar 49%. Perlu diketahui bahwa ILSS dan IMU sendiri merupakan anak usaha strategis INDY dengan kepemilikan saham lebih dari 99%.
Sektor yang akan dijalankan oleh TRADE meliputi berbagai aktivitas vital, seperti konsultasi manajemen dan perdagangan besar atas dasar balas jasa atau kontrak. Selain itu, entitas ini juga akan fokus pada angkutan multimoda, termasuk angkutan barang, angkutan bermotor untuk barang umum, serta layanan kepelabuhan laut.
Pendirian anak usaha ini bukan sekadar ekspansi biasa, melainkan bagian dari strategi diversifikasi bisnis yang diterapkan oleh PT Indika Energy Tbk. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa perseroan tetap fokus pada pelaksanaan kegiatan usaha yang berkelanjutan di masa depan.
Kinerja Keuangan Indika Energy Semester I/2026
Momentum pembentukan TRADE bertepatan dengan kinerja keuangan perseroan yang menunjukkan tren positif pada semester I/2026. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, INDY mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan sebesar 19,87% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$1,14 miliar.
Kenaikan pendapatan ini diikuti oleh peningkatan beban pokok kontrak dan penjualan yang tumbuh 17,18% yoy menjadi US$965,75 juta dari periode sebelumnya. Meski beban meningkat, laba kotor perseroan berhasil melonjak lebih tinggi sebesar 36,51% yoy menjadi US$181,18 juta.
Pencapaian paling impresif terlihat pada laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Angka tersebut meroket tajam sebesar 354,91% menjadi US$10,19 juta pada akhir semester I/2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya US$2,24 juta.
Posisi Aset dan Ekspansi Perseroan
Dari sisi neraca keuangan, posisi aset perseroan juga mencatatkan pertumbuhan yang sehat dibandingkan awal tahun. Total aset tercatat naik 10,05% year-to-date (ytd) hingga mencapai angka US$3,22 miliar pada periode laporan tersebut.
Komposisi liabilitas dan ekuitas perusahaan juga mengalami penyesuaian seiring dengan ekspansi yang dilakukan. Ekuitas perusahaan tercatat naik 0,32% ytd menjadi US$1,34 miliar, sementara liabilitas meningkat 18,28% ytd menjadi US$1,87 miliar.
Pertumbuhan fundamental ini juga tercermin pada pergerakan saham emiten di pasar modal Indonesia. Pada penutupan akhir pekan, IHSG sempat ditutup naik 1,04% ke level 6.409,65, di mana saham INDY menjadi salah satu yang menunjukkan pergerakan positif.
Keberhasilan grup dalam memacu kinerja, seperti melalui optimalisasi tambang emas dan perolehan kredit sebesar US$155 juta, turut mendukung posisi kas perseroan. Strategi ini membuktikan bahwa diversifikasi ke arah layanan pendukung, seperti yang dilakukan melalui TRADE, merupakan langkah kalkulatif untuk menjaga ketahanan bisnis jangka panjang.
