Kiai Bambu Runcing: Mbah Subeki, Sang Penjaga Semangat Revolusi Indonesia
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Di lereng Gunung Sindoro-Sumbing, tepatnya di Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia, tersimpan kisah seorang tokoh ulama yang tak terpisahkan dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Ia adalah Mbah Kiai Subeki, atau yang akrab disapa Mbah Subki, sosok legendaris yang perannya dalam membakar semangat para pejuang tak ternilai harganya. Namanya seringkali muncul dalam konteks sejarah revolusi, terutama terkait dengan penggunaan bambu runcing sebagai simbol perlawanan.
KH Saifuddin Zuhri, dalam bukunya "Berangkat dari Pesantren", memberikan kesaksian tentang pengaruh besar Mbah Subeki.
Ia menggambarkan Kiai Subeki sebagai pribadi yang ramah, penuh tawa, dan disenangi oleh berbagai kalangan, mulai dari ulama, pemuda, pegawai, pedagang, bahkan komunitas Tionghoa di Parakan.
"Mbah Subeki, begitulah panggilan akrab Kiai Subeki, memang orang tertua di Parakan.
Hampir semua orang memanggilnya Mbah.
Orangnya ramah, banyak tawanya, menyenangkan dalam pergaulan," tulis KH Saifuddin Zuhri, mencatat kedekatan Mbah Subeki dengan semua lapisan masyarakat yang tidak menjadikannya merasa perlu menggurui, melainkan memberikan nasihat dengan bahasa yang mudah dipahami dan jenaka.
Peran Mbah Subeki dalam Revolusi Fisik
Pada masa genting pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ketika bangsa ini berjuang keras mempertahankan kedaulatannya, Mbah Subeki menjadi pusat spiritual bagi para pejuang.
KH Saifuddin Zuhri mengenang momen saat melewati wilayah Secang, sebuah persimpangan strategis antara Magelang, Ambarawa, dan Temanggung.
Di sana, ia menyaksikan iring-iringan laskar Hizbullah dan Sabilillah yang membawa bambu runcing di pundak mereka.
Senjata sederhana namun penuh makna ini ternyata telah diberkahi melalui doa Mbah Subeki.
Doa yang diucapkan Kiai Subeki untuk memberkati ribuan bambu runcing tersebut sangatlah singkat namun sarat makna: "Bismillahi Ya hafidhu, Allahu Akbar." Kalimat ini berarti "Dengan nama Allah, Ya Tuhan Maha Pelindung, Allah Maha Besar." Doa ini diyakini memberikan kekuatan spiritual dan keberanian bagi para pemuda yang akan berhadapan langsung dengan musuh.
Jejak Sejarah Keluarga dan Perjuangan Awal
Riwayat Mbah Subeki terkait erat dengan sejarah perjuangan melawan penjajahan.
Ia adalah putra sulung Kiai Harun Rasyid, seorang penghulu masjid di Parakan.
Nama lahirnya adalah Muhammad Benjing, yang kemudian berganti menjadi Somowardojo setelah menikah, dan terakhir menjadi Subchi setelah menunaikan ibadah haji.
Kakek Mbah Subeki, Kiai Abdul Wahab, merupakan keturunan Tumenggung Bupati Suroloyo Mlangi, Yogyakarta, dan tercatat sebagai pengikut Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa (1825-1830).
Setelah kekalahan laskar Diponegoro, banyak pengikutnya, termasuk Kiai Abdul Wahab, menyebar dan mendirikan pesantren di pedesaan untuk melanjutkan perjuangan melalui pendidikan dan dakwah.
Kiai Abdul Wahab mengungsi, menyusuri Kali Progo hingga akhirnya menetap di Parakan.
Kawasan ini, yang merupakan titik penting jalur transportasi Kedu, menjadi basis strategis untuk menggembleng santri dan mempersiapkan perlawanan terhadap penjajah Belanda.
Bahkan, saat ibunda Mbah Subeki mengandung, pelarian dari kejaran Belanda masih kerap terjadi, menandakan keteguhan keluarga dalam melawan kolonialisme.
Mbah Subeki sendiri tumbuh dalam tradisi pesantren yang kuat.
Ia menempuh pendidikan agama di Pesantren Sumolangu di bawah asuhan Syekh Abdurrahman Sumolangu.
Pendidikan inilah yang membentuknya menjadi pribadi yang matang, baik dalam pemahaman agama maupun kesadaran kebangsaan.
Beliau dikenal tidak hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai sosok yang dermawan, gemar membantu masyarakat yang membutuhkan, serta memiliki jiwa bisnis yang berkembang pesat di tanah Parakan yang subur.
Sikap inilah yang membuatnya sangat disegani dan memiliki kharisma luar biasa di mata masyarakat.
Kiai Bambu Runcing dan Pesan Moral Pejuang
Ketokohannya sebagai "Kiai Bambu Runcing" menjadikannya rujukan utama bagi para pemuda yang ingin terjun ke medan perang.
Mbah Subeki tidak hanya memberkati senjata bambu mereka, tetapi juga memberikan wejangan moral yang mendalam.
Beliau selalu menekankan pentingnya meluruskan niat dalam berperang, yaitu untuk mempertahankan agama, bangsa, dan tanah air.
Pesannya adalah agar para pejuang senantiasa mengingat Allah SWT, tidak menyimpang dari tujuan, menghindari maksiat, serta memperkuat persatuan.
"Jika hendak kembali pulang, beramai-ramailah membaca syahadat," tuturnya, mengingatkan akan pentingnya keselamatan dunia dan akhirat.
Catatan KH Saifuddin Zuhri juga menyebutkan bahwa Parakan menjadi pusat pertemuan berbagai elemen laskar perjuangan kemerdekaan.
Mulai dari Hizbullah di bawah Zainul Arifin, Barisan Sabilillah pimpinan Kiai Masykur, Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia pimpinan Bung Tomo, hingga Barisan Banteng oleh dr.
Muwardi, Laskar Rakyat oleh Ir.
Sakiman, dan Laskar Perindo oleh Krissubbanu, semuanya berbondong-bondong menuju Parakan, mencari restu dan semangat dari Mbah Kiai Subeki.
Kisah Mbah Kiai Subeki Parakan adalah pengingat akan peran para ulama dan santri dalam perjuangan bangsa.
Melalui bambu runcing yang diberkati dan nasihat-nasihat spiritualnya, beliau turut mengobarkan semangat perlawanan yang mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan.
Perannya sebagai "Kiai Bambu Runcing" tetap terpatri dalam sejarah sebagai simbol keberanian dan keteguhan melawan penjajah.