15 Saham Menguat saat IHSG Anjlok 10,76% pada Jumat

Table of Contents
15 saham menguat saat IHSG anjlok, ada emiten Grup Salim dan Lippo | IDNFinancials
15 Saham Menguat saat IHSG Anjlok 10,76% pada Jumat

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan tajam sebesar 10,76% ke level 5.233 pada sesi pertama perdagangan Jumat (16/10). Tekanan jual yang melanda hampir seluruh saham di Bursa Efek Indonesia membuat indeks acuan nasional ini terpuruk dalam di tengah sentimen pasar yang memburuk.

Berdasarkan data IDNFinancials.com, sebanyak 809 saham mencatat penurunan harga dalam sesi tersebut. Hanya 15 saham yang berhasil bertahan di zona hijau, sementara 3 saham lainnya stagnan tanpa perubahan harga.

Emiten Grup Salim dan Grup Lippo Masuk Daftar Penguat

Di antara 15 saham yang mampu menguat, terdapat dua nama dari konglomerasi besar Indonesia. PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) milik Grup Salim mencatat kenaikan 2,33% ke harga Rp9.900 per lembar saham.

Sementara itu, PT Lippo General Insurance Tbk (LPGI) dari Grup Lippo turut menguat 2,44% ke level Rp630 per lembar. Kehadiran dua emiten dari grup usaha besar ini di tengah badai jual menjadi perhatian pelaku pasar.

BSWD dan ABDA Catat Lonjakan Tertinggi

Secara persentase, penguatan terbesar dibukukan oleh PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) yang melonjak 25% ke level Rp5.625 per lembar. Kenaikan signifikan ini menempatkan BSWD sebagai saham dengan performa terbaik di tengah tekanan pasar yang ekstrem.

Posisi kedua ditempati oleh PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk (ABDA) dengan kenaikan 24,93% ke Rp4.710 per lembar, diikuti PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK) yang naik 24,81%. Ketiga saham ini mencatatkan lonjakan di atas 20% meski kondisi pasar secara keseluruhan sangat tertekan.

Saham Big Cap Perbankan Jadi Beban Utama IHSG

Emiten Grup Salim dan Grup Lippo Masuk Daftar Penguat

Di sisi sebaliknya, saham-saham berkapitalisasi pasar besar, terutama dari sektor perbankan, menjadi penyumbang utama kejatuhan IHSG. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi 13,99%, menjadi salah satu pemberat paling signifikan pada indeks.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga turun 12,26%, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tergerus 8,54% dalam sesi pertama. Ketiga bank pelat merah dan swasta besar ini memiliki bobot besar dalam komposisi IHSG sehingga pergerakannya sangat mempengaruhi arah indeks secara keseluruhan.

Daftar Lengkap 15 Saham yang Menguat

Berikut ini adalah daftar lengkap 15 saham yang berhasil mencatat kenaikan harga pada sesi pertama Jumat (16/10), di tengah IHSG yang terkoreksi lebih dari 10%:

  1. PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) – +25% ke Rp5.625
  2. PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk (ABDA) – +24,93% ke Rp4.710
  3. PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK) – +24,81%
  4. PT Pioneerindo Gourmet International Tbk (PTSP) – +20,72%
  5. PT Charnic Capital Tbk (NICK) – +13,04%
  6. PT KDB Tifa Finance Tbk (TIFA) – +8,11%
  7. PT Global Sukses Solusi Tbk (RUNS) – +4,55%
  8. PT Lippo General Insurance Tbk (LPGI) – +2,44% ke Rp630
  9. PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) – +2,33% ke Rp9.900
  10. PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) – +1,54%
  11. PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) – +0,61%
  12. PT Siantar Top Tbk (STTP) – +0,56%
  13. PT Duta Intidaya Tbk (DAYA) – +0,41%
  14. PT Kino Indonesia Tbk (KINO) – +0,36%
  15. PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk (BIKE) – +0,23%

Ragam Sektor dalam Daftar Saham Bertahan

Menariknya, 15 saham yang menguat berasal dari beragam sektor, mulai dari perbankan, asuransi, logistik, properti, hingga konsumer. Diversifikasi sektor ini mengindikasikan bahwa penguatan bersifat selektif dan tidak terpusat pada satu industri tertentu.

Saham-saham dengan kapitalisasi pasar kecil hingga menengah mendominasi daftar ini, berbeda dengan saham big cap yang justru menjadi korban terbesar aksi jual masif. Pola ini lazim terjadi saat pasar mengalami koreksi besar, di mana investor besar cenderung melikuidasi posisi di saham likuid terlebih dahulu.

Konteks Kejatuhan IHSG dan Dampaknya

Koreksi IHSG sebesar 10,76% dalam satu sesi merupakan peristiwa yang jarang terjadi dan mencerminkan tekanan eksternal maupun internal yang sangat kuat. Kejatuhan ke level 5.233 ini menyeret nilai kapitalisasi pasar bursa domestik turun signifikan dalam waktu singkat.

Kondisi ini mempertegas pentingnya diversifikasi portofolio bagi investor ritel maupun institusional. Saham-saham yang mampu bertahan atau bahkan naik di tengah tekanan pasar sebesar ini umumnya memiliki katalis fundamental tersendiri atau tingkat likuiditas yang lebih rendah sehingga tidak menjadi target utama aksi jual.

Baca Juga

Loading...