Saldo Rp6,3 Miliar Penjual Shopee Tertahan dan Akun Terkunci
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Seorang penjual daring asal Pekalongan bernama Adi menghadapi krisis finansial serius setelah saldo usahanya senilai Rp6,3 miliar tertahan di sistem Shopee sejak November 2025. Permasalahan ini kian memburuk ketika akun penjualannya terkunci dan tidak dapat diakses sama sekali sejak awal Juni 2026, memutus akses Adi terhadap seluruh dana hasil penjualan kemeja yang telah ia kumpulkan selama berbulan-bulan.
Kasus ini pertama kali dilaporkan oleh Bloomberg Technoz dan menjadi sorotan publik karena menggambarkan kerentanan sistem pencairan dana pada platform e-commerce berskala besar. Hingga berita ini diturunkan, pihak Shopee belum memberikan tanggapan resmi atas keluhan yang dialami Adi.
Awal Mula: Pencairan Dana Hanya Rp24,5 Juta dari Ratusan Juta Rupiah
Masalah bermula pada Desember 2025, ketika Adi mengirimkan sejumlah besar produk kemeja kepada pembeli melalui platform Shopee. Meskipun seluruh pesanan telah selesai dikirimkan dan dikonfirmasi, dana hasil transaksi yang berhasil dicairkan hanya sebesar Rp24,5 juta dari total akumulasi yang seharusnya mencapai ratusan juta rupiah.
"Itu belum bisa ditarik, dari situ kendala penarikan dana dimulai," ungkap Adi. Saldo terus bertambah setiap hari seiring masuknya pembayaran dari pesanan-pesanan yang sudah selesai, namun dana tersebut tidak dapat dipindahkan ke rekening bank pribadi miliknya secara utuh.
Penumpukan Saldo Hingga Miliaran Rupiah
Layanan pelanggan Shopee sempat menyampaikan kepada Adi bahwa proses pencairan memerlukan waktu dan menyarankan agar penarikan tidak dilakukan dalam nominal besar sekaligus demi menghindari gangguan sistem. Kendati demikian, saldo Adi terus menumpuk hingga bertahap mencatat penambahan antara Rp300 juta hingga Rp400 juta pada Maret 2026.
"Dikasih tanggal, kan siang cairnya gitu, tapi setiap hari itu belum tentu ada pencairan, padahal pesanan itu rata-rata sudah selesai semua. Harusnya pesanan sudah selesai dana masuk. Dari yang pesanan-pesanan bulan-bulan sebelumnya numpuk," jelas Adi dengan nada frustrasi. Situasi ini membuat Adi tidak bisa memutar modal usahanya secara normal, padahal ia memiliki banyak investor yang mengandalkan ketersediaan dana tersebut.
Upaya Lewat ShopeePay: Jalan Buntu dengan Limit Ketat
Mengikuti saran layanan pelanggan, Adi mencoba mengalihkan sebagian dananya ke ShopeePay sebagai alternatif pencairan. Namun upaya ini segera menemui hambatan karena saldo ShopeePay hanya bisa terisi maksimal Rp80 juta, dan batas penarikan ke rekening bank hanya sebesar Rp40 juta per bulan — jauh dari yang dibutuhkan untuk mencairkan saldo berjumlah miliaran rupiah.
"ShopeePay juga masih lingkupnya Shopee, dananya masih di situ belum ke bank. Akhirnya kita ikut sana, saya tarik bertahap ke ShopeePay. Di ShopeePay mentok itu di saldo Rp80 juta hanya bisa ditarik karena ada limit per bulan Rp40 juta," terang Adi. Jalur ini praktis tidak mampu menyelesaikan persoalan dana yang tertahan dalam skala miliaran rupiah tersebut.
Penarikan Rp500 Juta Gagal Dua Kali Berturut-turut
Pada 4 Mei 2026, Shopee menjanjikan pencairan langsung senilai Rp500 juta ke rekening BNI milik Adi. Namun pada pukul 11.14 WIB, status penarikan masih tertampil sebagai "sedang diproses" dan dana tidak pernah masuk ke rekening tujuan hingga akhirnya nominal tersebut kembali menjadi saldo penjual di dalam aplikasi per 26 Mei 2026.
Tidak menyerah, Adi mencoba kembali melakukan penarikan Rp500 juta pada 5 Mei 2026 dengan harapan percobaan kedua akan berhasil. "CS malah respons lagi belum siap menarik dalam jumlah besar. Padahal sebelumnya sudah disarankan," kata Adi, merujuk pada inkonsistensi arahan yang diterimanya dari pihak layanan pelanggan Shopee.
Datangi Kantor Pusat Shopee di Gama Tower, Tak Mendapat Solusi
Frustrasi atas respons layanan pelanggan yang berulang kali tidak membuahkan hasil, Adi akhirnya memutuskan untuk mendatangi langsung kantor pusat Shopee Indonesia yang berlokasi di Gama Tower, Jakarta, pada 4 Juni 2026. Ia membawa print out sebagai bukti saldo dan riwayat transaksi, berharap persoalannya dapat diselesaikan secara langsung di hadapan pihak perusahaan.
"Saya kayak orang stres di sana karena saya kaget," cerita Adi. Alih-alih mendapat solusi konkret, ia justru mengaku diperlakukan tidak semestinya — pihak Shopee di lokasi bahkan menyatakan bahwa saldonya tidak ada, sebuah klaim yang ia nilai sangat janggal mengingat ia memiliki bukti tertulis. "Ke Shopee ketemu CS juga nggak menjawab solusi. Saya ke sana kayak yang galak sana [pihak Shopee] daripada saya," tambahnya.
Akun Terkunci Sejak 6 Juni 2026, Saldo Tidak Bisa Dipantau
Puncak dari serangkaian masalah ini terjadi pada 6 Juni 2026. Setelah mendeteksi adanya riwayat percobaan akses mencurigakan dari pihak yang tidak dikenal, Adi berusaha mengganti kata sandi akunnya pada pukul 10.00 WIB sembari merekam layar untuk mendokumentasikan kondisi saldo terakhirnya. Setelah proses penggantian sandi, akun tersebut justru langsung keluar dari sistem dan tidak bisa diakses kembali melalui berbagai metode login — baik via email maupun nomor telepon.
"Saya login dengan berbagai metode email, nomor HP semuanya tidak bisa. Lapor ke CS malah mengajari cara login lewat email," ungkap Adi. Saldo terakhir yang sempat ia lihat sebelum akun terkunci adalah sekitar Rp6 miliar, dan ia memperkirakan jumlah tersebut kemungkinan telah bertambah karena dana dari pesanan-pesanan yang masih dalam status tertunda terus masuk ke sistem meski ia tidak lagi bisa memantaunya.
Dampak terhadap Investor dan Keberlangsungan Usaha
Persoalan ini tidak hanya berdampak pada Adi secara pribadi, tetapi juga memengaruhi sejumlah investor yang telah menanamkan modal dalam usahanya. Tertahannya dana dalam jumlah masif selama berbulan-bulan membuat Adi kesulitan memenuhi kewajiban finansialnya kepada para mitra usaha tersebut.
"Harapan saya sih dibantu log, ini saya enggak tahu tampilan saldo saya seperti apa sekarang karena terakhir 6 Juni. Saldo cair bertahap secara manual ratusan juta juga nggak masalah dengan catatan lancar. Investor saya banyak, dengan ada kendala ini saya bingung mau kasihnya juga gimana," tutur Adi. "Saya beban juga sama investor saya, ada kendala ini jadi rugi semua."
Shopee Belum Berikan Respons Resmi
Hingga artikel ini ditulis, pihak Shopee Indonesia belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kasus yang menimpa Adi, baik menyangkut kendala teknis sistem pencairan dana maupun status akun yang terkunci. Kasus ini menyoroti pentingnya transparansi dan mekanisme perlindungan yang kuat bagi para pelaku usaha yang menggantungkan seluruh operasional bisnisnya pada platform e-commerce.
Bagi jutaan penjual UMKM di Indonesia yang memanfaatkan platform seperti Shopee sebagai kanal utama penjualan, kasus Adi menjadi pengingat serius bahwa ketergantungan penuh pada satu ekosistem digital tanpa mekanisme pencairan yang andal dapat membawa risiko bisnis yang signifikan. Penyelesaian transparan dan cepat dari pihak platform menjadi tuntutan yang kini ditunggu publik.
