Netflix Digugat Band Metal Kristen atas 'KPop Demon Hunters'
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Band metal Kristen Demon Hunter mengajukan gugatan hukum terhadap Netflix atas serial animasi hits mereka KPop Demon Hunters, dengan tuduhan pelanggaran merek dagang dan persaingan usaha tidak sehat. Kesuksesan besar franchise Netflix itu dinilai telah menggerus dan mengaburkan identitas merek band yang telah berdiri selama lebih dari dua dekade tersebut.
Gugatan ini secara resmi diajukan pada hari Selasa oleh Hyde Lane, entitas korporat yang menaungi Demon Hunter, kepada US District Court for the Central District of California. Pihak-pihak yang digugat mencakup Netflix, Netflix Studios, serta promotor konser AEG Presents.
Latar Belakang Gugatan: Dari Layar ke Panggung Konser
Konflik ini bermula ketika Netflix mengumumkan kerja sama dengan AEG Presents untuk menggelar tur konser dunia bertajuk KPop Demon Hunters World Concert Tour yang dijadwalkan diluncurkan pada tahun 2027. Langkah tersebut dianggap Demon Hunter sebagai ekspansi yang secara langsung menyerobot wilayah bisnis mereka di industri hiburan langsung.
Menurut dokumen gugatan, franchise Netflix telah berkembang jauh melampaui format film animasi, dan kini merambah ke bisnis musik, merchandise, serta acara langsung — semuanya bidang yang selama ini digeluti oleh Hyde Lane di bawah merek DEMON HUNTER. Tumpang tindih ini, menurut penggugat, telah menimbulkan kebingungan nyata di kalangan konsumen.
Dua Dekade Merek yang Dibangun dari Nol
Dalam berkas gugatan, Demon Hunter menegaskan bahwa band ini dibentuk pada pergantian abad dan selama 25 tahun terakhir telah secara konsisten merilis album, melakukan tur, serta menjual merchandise kepada basis penggemar yang besar dan setia. Mereka berargumen bahwa para tergugat telah "mengambil langkah demi langkah untuk masuk ke dalam tumpang tindih hampir penuh dengan barang dan jasa yang ditawarkan Hyde Lane di bawah merek DEMON HUNTER."
Gugatan itu menggunakan analogi yang tajam untuk memperkuat argumennya: "Netflix tidak lebih berhak menggunakan merek KPOP DEMON HUNTERS daripada jika mereka meluncurkan artis rekaman, tur langsung, dan merchandise di bawah merek KPOP METALLICA, KPOP U2, atau KPOP BLACK SABBATH." Perbandingan ini dimaksudkan untuk menggambarkan betapa seriusnya pelanggaran merek yang mereka tuduhkan.
Bukti Kebingungan Konsumen di Lapangan
Dokumen hukum itu menyertakan sejumlah contoh konkret kebingungan konsumen yang telah terjadi. Salah satu kasus yang paling mencolok adalah seorang orang tua yang meminta pengembalian dana setelah secara tidak sengaja menghabiskan hampir 500 dolar AS untuk tiket konser Demon Hunter di Albany, New York, pada bulan Mei — padahal mereka mengira sedang membeli tiket pertunjukan KPop Demon Hunters untuk dua putri mereka yang berusia 5 dan 6 tahun.
Kasus kebingungan lainnya melibatkan permintaan wawancara pada bulan Maret, ketika seorang produser acara televisi menghubungi Demon Hunter untuk meminta sesi wawancara dengan penulis lagu yang mereka yakini berasosiasi dengan KPop Demon Hunters. Dua insiden ini menjadi bukti bahwa potensi kerugian reputasi dan bisnis bagi band tersebut bersifat nyata dan terukur.
Tuntutan Hukum yang Diajukan Demon Hunter
Dalam gugatannya, Demon Hunter meminta pengadilan untuk mengeluarkan perintah yang melarang para tergugat menggunakan nama KPop Demon Hunters dalam kaitannya dengan musik, merchandise, dan hiburan langsung. Selain itu, band ini juga menuntut ganti rugi dalam jumlah yang belum ditentukan serta meminta proses persidangan dengan juri.
Sementara itu, tur band berikutnya sudah menanti di depan mata. Berdasarkan informasi dari situs resmi mereka, tur tersebut dijadwalkan dimulai di Louisville, Kentucky, pada tanggal 7 Oktober mendatang — sebuah pengingat bahwa Demon Hunter tetap aktif sebagai entitas bisnis hiburan yang nyata dan beroperasi.
Netflix Menolak Semua Tuduhan
Merespons gugatan tersebut, Netflix mengeluarkan pernyataan tegas yang menolak seluruh tuduhan. "Tuduhan-tuduhan ini tidak berdasar. Netflix telah menciptakan fenomena global pemenang Academy Award dengan KPop Demon Hunters yang telah menginspirasi penggemar di seluruh dunia dengan musiknya yang kuat, penceritaan, dan karakter-karakternya. Kami berharap dapat mempertahankan diri dengan sepenuh tenaga dalam perkara ini," demikian bunyi pernyataan perusahaan kepada CNN.
Netflix juga membeberkan skala kesuksesan franchise tersebut untuk menopang posisi mereka. Sejak debutnya pada Juni 2025, KPop Demon Hunters telah meraup lebih dari 600 juta penayangan, menjadikannya judul orisinal paling populer dalam sejarah perusahaan. Soundtrack-nya telah menghasilkan lebih dari 15 miliar streaming di seluruh dunia, sementara film itu menjadi satu-satunya judul yang bertahan selama 52 minggu berturut-turut di Netflix Global Top 10.
Dampak Lebih Luas: Merek Dagang di Era Franchise Hiburan Global
Kasus ini menyoroti sebuah tantangan yang semakin relevan di era dominasi platform streaming: ketika sebuah franchise digital berkembang menjadi imperium hiburan multidimensi — mencakup musik, merchandise, hingga tur dunia — potensi tumbukan dengan merek-merek yang sudah ada sebelumnya menjadi semakin besar. Bagi band-band independen seperti Demon Hunter, yang membangun merek mereka jauh sebelum era streaming, perlindungan hukum atas identitas merek dagang menjadi semakin krusial.
AEG Presents, sebagai salah satu pihak tergugat, hingga berita ini diturunkan belum memberikan komentar atas gugatan yang dilayangkan tersebut. Perkembangan kasus ini akan terus dipantau seiring proses persidangan di US District Court for the Central District of California bergulir.
