Kesaksian Menlu Iran: Detik-Detik Serangan yang Menewaskan Pemimpin Tertinggi

Table of Contents
Iran’s foreign minister describes moment of attack that killed Khamenei | Iran | The Guardian
Kesaksian Menlu Iran: Detik-Detik Serangan yang Menewaskan Pemimpin Tertinggi

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, akhirnya memberikan kesaksian mendalam mengenai peristiwa traumatis yang dialaminya saat serangan udara gabungan AS-Israel menghantam kompleks kepemimpinan Iran pada hari pertama perang. Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan jurnalis Iran, Javad Mogouyi, Araghchi menceritakan bagaimana ia ditarik dari reruntuhan bangunan setelah serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Sejak peristiwa tersebut, Araghchi mengungkapkan bahwa ia terus berpindah-pindah lokasi di ibu kota, Teheran, dengan menggunakan mobil untuk bertahan hidup. Ia mengonfirmasi bahwa Israel dan Amerika Serikat memiliki intelijen yang sangat akurat mengenai keberadaan Khamenei serta para pejabat senior lainnya, yang memungkinkan serangan presisi terhadap struktur kepemimpinan negara tersebut.

Momen Krusial: Celah Keamanan dan Ledakan di Kompleks Strategis

Araghchi sedang melaporkan situasi kepada Ali Asghar Hijazi, wakil kepala staf Khamenei, ketika bangunan tersebut diguncang oleh tiga ledakan berturut-turut dalam hitungan detik. Ia menceritakan bahwa ledakan ketiga terjadi sangat dekat dengan bangunan mereka, yang mengakibatkan sisi kiri gedung hancur total dan menewaskan sekretaris Hijazi seketika.

Meskipun Araghchi dan Hijazi berhasil selamat dari kekuatan penuh ledakan tersebut, mereka terperangkap di bawah puing-puing, langit-langit, dan kayu-kayu yang runtuh. Araghchi menggambarkan momen penyelamatan diri mereka, di mana ia harus menuntun Hijazi melewati reruntuhan bangunan sementara air mulai membanjiri ruangan, sebelum akhirnya berhasil keluar dan menyadari bahwa berbagai bagian kompleks telah menjadi target serangan.

Menteri luar negeri tersebut menekankan bahwa fakta Israel memiliki intelijen mendetail mengenai pertemuan para pejabat di kementerian intelijen dan dewan pertahanan adalah sebuah masalah serius. Menurutnya, ini menunjukkan adanya celah keamanan yang signifikan di dalam tubuh pemerintah yang harus segera diperbaiki agar tidak terulang di masa depan.

Transisi Kepemimpinan dan Kegagalan Diplomasi

Menyinggung mengenai suksesi kepemimpinan, Araghchi menyatakan bahwa ia belum sempat bertemu dengan pemimpin baru, Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Ali Khamenei. Namun, ia menegaskan bahwa penunjukan Mojtaba mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa tidak akan ada perubahan dalam kebijakan dan ideologi rezim Iran pasca-kematian ayahnya.

Momen Krusial: Celah Keamanan dan Ledakan di Kompleks Strategis

Araghchi juga mengungkapkan keraguan pribadinya mengenai efektivitas negosiasi diplomatik dengan Amerika Serikat yang dilakukan awal tahun ini. Meskipun ia mengakui bahwa upaya tersebut hanya memiliki peluang sukses sebesar 10%, ia tetap mendukung proses tersebut demi memastikan Iran telah menempuh jalur diplomasi secara maksimal sehingga tidak ada pihak yang dapat menyalahkan Iran di kemudian hari.

Strategi Pertahanan: "Code 110" dan Kedaulatan Wilayah

Dalam wawancara tersebut, terungkap bahwa Iran telah mempersiapkan rencana kontinjensi matang untuk menghadapi skenario terburuk, termasuk target terhadap pemimpin tertinggi. Salah satu strategi utama yang disiapkan adalah "Code 110", sebuah kode yang merujuk pada klausul konstitusi Iran mengenai kekuasaan pemimpin tertinggi, yang mencakup rencana penutupan Selat Hormuz jika situasi mendesak terjadi.

Araghchi menjelaskan bahwa Amerika Serikat memutuskan untuk menyerang karena menganggap pemerintah Iran telah melemah, baik di luar negeri akibat serangan terhadap proksi di Suriah dan Lebanon, maupun di dalam negeri akibat protes ekonomi. Ia mengakui terkejut dengan kecepatan dan skala protes yang terjadi, namun ia menekankan bahwa Iran tidak mudah dikalahkan karena dukungan peradaban ribuan tahun serta keyakinan mendalam rakyatnya terhadap martabat.

Peringatan Regional dan Masa Depan Konflik

Iran telah memperingatkan pemerintah negara-negara tetangga bahwa setiap serangan akan dibalas dengan tindakan tegas terhadap target-target di kawasan tersebut. Araghchi menegaskan bahwa jika Israel menyasar fasilitas nuklir Iran, mereka akan membalas dengan menyerang fasilitas serupa, dan jika fasilitas minyak diserang, mereka akan memastikan tidak ada pihak di kawasan yang dapat menjual minyak.

Selain itu, Araghchi membagikan informasi mengenai peran Turki dalam membatalkan rencana AS yang ingin memicu pemberontakan Kurdi dari Irak ke Iran. Berkat upaya diplomatik dan peringatan dari Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, plot tersebut berhasil digagalkan setelah pembicaraan intensif dengan pihak Amerika.

Araghchi menutup wawancaranya dengan menyoroti peningkatan kemampuan rudal Iran pasca kampanye pemboman Israel tahun 2025 yang memungkinkan waktu aktivasi pangkalan menjadi jauh lebih cepat. Ia menegaskan filosofi negara bahwa Iran tidak akan memulai pertempuran kecuali jika biaya untuk tidak berperang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan biaya untuk berperang.

Baca Juga

Loading...