Khamenei Wafat, Mojtaba Pimpin Iran: Israel Ancam Eliminasi Penerus

Table of Contents
Meninggalnya Khamenei  di Iran tak Cukup, Pasukan Perdana Menteri Israel Netanyahu Kejar Mojtaba - Tribunkalteng.com
Khamenei Wafat, Mojtaba Pimpin Iran: Israel Ancam Eliminasi Penerus

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, putra beliau, Mojtaba Khamenei, dilaporkan telah diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi yang baru. Penunjukan ini segera memicu respons keras dari Israel, yang secara eksplisit menyatakan bahwa setiap penerus Khamenei akan menjadi target eliminasi yang pasti.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memanas menyusul kabar suksesi kepemimpinan di Iran. Perkembangan ini menempatkan Mojtaba Khamenei, sosok yang selama ini dikenal memiliki pengaruh besar di balik layar, menjadi pusat perhatian dunia dan berpotensi mengubah dinamika kawasan secara drastis.

Ancaman Tegas Israel Terhadap Pemimpin Baru Iran

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Rabu, 4 Maret 2026, mengeluarkan pernyataan tegas yang disiarkan melalui pesan resmi. Dalam pernyataannya, Katz secara lugas menyebutkan bahwa "pemimpin mana pun" yang ditunjuk oleh Republik Islam untuk menggantikan Ali Khamenei akan menjadi "target pasti untuk dieliminasi."

Pernyataan ini bukan sekadar peringatan, melainkan sebuah deklarasi niat yang serius dari Israel terhadap kepemimpinan Iran di masa depan, menegaskan posisi tidak toleran terhadap rezim yang berkuasa. Israel Katz menambahkan bahwa identitas atau lokasi persembunyian pemimpin tersebut tidak akan menjadi penghalang bagi operasi eliminasi yang direncanakan, menekankan cakupan ancaman yang komprehensif.

Menteri Pertahanan Israel merinci bahwa target tersebut adalah pemimpin yang "terus memimpin program penghancuran Israel, mengancam Amerika, dunia bebas, dan negara-negara regional, serta menindas rakyat Iran." Deklarasi ini menggarisbawahi persepsi Israel terhadap ancaman eksistensial dan destabilisasi yang ditimbulkan oleh rezim Iran di bawah kepemimpinan baru.

Pada bagian penutup pernyataannya, Katz menekankan bahwa militer Israel, bekerja sama dengan Amerika Serikat, akan terus menghancurkan "semua kemampuan rezim" Iran dengan "kekuatan penuh." Tujuan strategis mereka adalah untuk "menciptakan kondisi bagi rakyat Iran" agar dapat bertindak menggulingkan pemerintah dan memilih pengganti yang sesuai dengan kehendak mereka, sebuah pernyataan yang mengindikasikan dukungan terhadap perubahan rezim.

Serangan Gabungan Amerika-Israel di Qom

Pernyataan Menteri Pertahanan Israel ini dirilis satu hari setelah serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap markas besar Majelis Pakar di Qom, sebuah kota suci dan pusat keagamaan penting di Iran. Insiden ini menambah daftar panjang konfrontasi militer dan siber antara Iran di satu sisi, dengan Israel dan AS di sisi lain, yang kerap terjadi di tengah bayang-bayang konflik terbuka.

Menurut laporan Axios, serangan rudal terhadap gedung tersebut terjadi beberapa menit setelah Majelis Pakar sedang melakukan pemungutan suara untuk menentukan pemimpin berikutnya. Namun, media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) segera membantah bahwa anggota Majelis Pakar berada di gedung tersebut pada saat serangan terjadi, menimbulkan ketidakpastian informasi dan perang narasi.

Juru bicara militer Israel mengatakan dalam pengarahan bahwa dampak serangan masih dalam penilaian, mengindikasikan bahwa mereka masih mengumpulkan data intelijen mengenai keberhasilan operasi tersebut. Di sisi lain, kantor berita Fars Iran bersikeras tidak ada pertemuan di gedung itu kala serangan terjadi, berusaha meredakan dampak psikologis dan politik dari insiden tersebut.

Ancaman Tegas Israel Terhadap Pemimpin Baru Iran

Proses Suksesi dan Peran Mojtaba Khamenei

Kantor berita Fars Iran melaporkan bahwa Majelis Pakar yang beranggotakan 88 orang telah berkumpul secara daring untuk memilih pengganti Pemimpin Tertinggi, sebuah metode yang menunjukkan adaptasi terhadap situasi keamanan yang genting. CNN juga mengonfirmasi adanya pertemuan semacam itu, menyoroti pentingnya proses suksesi di tengah gejolak regional.

Media Iran juga mengindikasikan bahwa keputusan suksesi ini dibuat di bawah tekanan signifikan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang memiliki pengaruh besar dalam politik dan keamanan Iran. Ini menunjukkan adanya perebutan kekuasaan dan pengaruh di balik proses transisi kepemimpinan, dengan IRGC memainkan peran kunci dalam menentukan arah masa depan Iran.

Mojtaba Khamenei, yang kini diidentifikasi sebagai calon kuat atau bahkan telah diangkat, digambarkan oleh Reuters sebagai seorang konservatif garis keras, mirip dengan ayahnya. Ia dikenal secara terbuka mendukung kebijakan keras terhadap lawan rezim dan musuh eksternal Iran, mengukuhkan citranya sebagai figur yang tak kompromi di panggung politik dan keagamaan.

Profil Mojtaba Khamenei: Pengaruh di Balik Layar

Meskipun digambarkan sebagai ulama tingkat menengah, Mojtaba belum pernah memegang jabatan pemerintahan formal sepanjang kariernya, menjauhkannya dari sorotan publik langsung. Namun, ia diyakini memiliki pengaruh yang sangat besar di balik layar dalam aparatur politik dan keamanan Iran, seringkali menjadi penasihat kunci ayahnya.

Hubungannya yang erat dengan Pasukan Quds IRGC, cabang operasi asing Garda Revolusi, semakin memperkuat posisinya sebagai tokoh sentral dalam kebijakan luar negeri dan keamanan Iran. Amerika Serikat sendiri telah menjatuhkan sanksi kepadanya pada tahun 2019, mengakui tingkat pengaruh dan keterlibatannya dalam struktur kekuasaan Iran serta hubungannya dengan entitas yang dianggap mengancam stabilitas regional.

CNN juga menyoroti bahwa pewarisan kekuasaan dari ayah ke anak bukanlah praktik yang diterima secara luas di kalangan ulama Syiah, khususnya di Iran pasca-revolusi, yang mendasarkan legitimasinya pada meritokrasi ulama. Potensi penunjukan Mojtaba bisa menimbulkan gelombang resistensi internal dan pertanyaan legitimasi dari berbagai faksi dalam struktur keagamaan dan politik Iran, yang dapat memperparah ketidakstabilan.

Implikasi Regional dan Global dari Suksesi Ini

Pengangkatan Mojtaba Khamenei dan ancaman langsung dari Israel menandai eskalasi serius dalam ketegangan yang sudah tinggi di kawasan Timur Tengah. Hal ini berpotensi memicu gelombang konflik baru atau memperdalam konflik yang sudah ada, dengan implikasi yang luas bagi stabilitas regional dan keamanan energi global.

Amerika Serikat, sebagai sekutu utama Israel, juga secara eksplisit menyatakan komitmennya untuk menghancurkan kemampuan rezim Iran, menunjukkan dukungan penuh terhadap tindakan Israel. Keterlibatan dua kekuatan besar ini menunjukkan bahwa suksesi kepemimpinan di Iran bukan hanya masalah internal, melainkan isu geopolitik yang sangat signifikan dengan potensi dampaknya terhadap perdamaian dunia dan keseimbangan kekuatan di kawasan.

Dunia internasional kini menanti langkah selanjutnya dari Tehran di bawah kepemimpinan baru, dan respons dari Tel Aviv serta Washington atas perkembangan ini. Pergantian kepemimpinan ini akan menjadi ujian berat bagi rezim Iran dalam mempertahankan legitimasinya dan akan membentuk dinamika hubungan internasional di tahun-tahun mendatang dengan konsekuensi yang tak terduga.



Ditulis oleh: Siti Aminah

Baca Juga

Loading...