PBB Hentikan Evakuasi Kapal di Selat Hormuz Pasca Serangan Drone
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Sebuah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil langkah drastis dengan menghentikan evakuasi kapal melalui Selat Hormuz pada hari Kamis. Keputusan ini diambil setelah militer Inggris melaporkan sebuah kapal komersial terkena proyektil di lepas pantai Oman, tak lama setelah beberapa kapal tanker melewati rute yang didukung PBB.
Arsenio Dominguez, sekretaris jenderal badan maritim PBB, menyatakan bahwa rencana untuk memindahkan kapal-kapal yang terjebak dari Teluk Persia akan ditunda sementara. Badan tersebut kini harus menunggu konfirmasi mengenai jaminan keamanan bagi kapal-kapal yang masuk dalam daftar evakuasi serta armada lain di wilayah tersebut.
Dampak Serangan terhadap Navigasi Internasional
Laporan mengenai serangan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Iran mengeluarkan ancaman kepada kapal-kapal agar berhenti menggunakan rute melalui selat tersebut tanpa izin Teheran. Arsenio Dominguez menegaskan bahwa kapal yang diserang, Ever Lovely, bukanlah bagian dari upaya evakuasi resmi yang sedang berlangsung.
Seorang pejabat Amerika Serikat yang berbicara dengan syarat anonim mengungkapkan kepada Associated Press bahwa kapal tersebut terkena serangan drone. Pejabat itu mengonfirmasi bahwa kapal niaga Ever Lovely diserang oleh drone yang dioperasikan oleh Garda Revolusi paramiliter Iran.
Mengikuti laporan serangan tersebut, Otoritas Selat Teluk Persia Iran, sebuah lembaga pemerintah baru yang dibentuk untuk mengendalikan pengiriman di selat, memberikan peringatan tegas di media sosial X. Mereka menyatakan bahwa transit di luar rute yang telah ditentukan oleh otoritas Iran tidak akan dilindungi oleh jaminan lintas yang aman.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan bahwa kapal tersebut memang mengalami kerusakan akibat serangan di lepas pantai Oman. Meskipun demikian, mereka mengonfirmasi tidak ada korban luka atau dampak lingkungan yang ditimbulkan dari insiden tersebut.
Dinamika Diplomasi dan Ekonomi
Pembukaan jalur alternatif melalui jalur air vital ini diharapkan dapat mengurangi tekanan pada ekonomi global dan menghilangkan pengaruh utama Iran dalam pembicaraan damai dengan Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang sedang melakukan kunjungan ke wilayah Teluk untuk meyakinkan sekutu Amerika, menyatakan bahwa Washington berkomitmen pada rute baru tersebut.
Arus lalu lintas kapal melalui selat ini sempat meningkat dalam beberapa hari terakhir meskipun jumlahnya masih jauh di bawah level sebelum perang. Harga minyak pada hari Kamis sempat turun di bawah harga sebelum perang, yakni sedikit di bawah 73 dolar AS per barel, yang menandakan optimisme pasar terhadap perbaikan situasi.
Amerika Serikat dan Iran hingga saat ini masih memperdebatkan syarat-syarat perjanjian damai sementara, termasuk masalah evakuasi kapal dan masa depan cadangan uranium Iran yang diperkaya tinggi. Di bawah nota kesepahaman yang ditandatangani minggu lalu, kedua negara memiliki waktu 60 hari untuk merinci kesepakatan tersebut.
Ketegangan Regional yang Berlanjut
Sementara itu, pertempuran antara Israel dan militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon kembali memanas dan mengancam gencatan senjata yang lebih luas. Pemerintah Lebanon menyatakan bahwa lima orang telah tewas akibat serangan Israel dalam dua hari terakhir, sementara Iran menuntut penarikan pasukan Israel dari Lebanon sebagai syarat perjanjian.
Tanker minyak, dipimpin oleh kapal Stoic Warrior, sempat berlayar di sepanjang Uni Emirat Arab dan kemudian Oman pada hari Kamis, melewati Semenanjung Musandam di Oman. Rute tersebut telah disusun oleh Oman dan Organisasi Maritim Internasional untuk memfasilitasi pelayaran yang aman.
Di sebelah utara rute tersebut terdapat koridor di tengah selat di mana kapal-kapal bergerak bebas sebelum perang, yang mengangkut sekitar seperlima dari total minyak dan gas alam dunia. Iran mengklaim telah memasang ranjau di jalur tersebut setelah serangan AS dan Israel pada 28 Februari, dan setidaknya satu ranjau telah terlihat di sana.
Meskipun beberapa kapal berhasil keluar dari selat dengan dukungan militer AS, upaya PBB menjadi langkah terbaru untuk membebaskan kapal-kapal yang terjebak. Perusahaan pelayaran Maersk melaporkan bahwa kapal kontainer mereka, Maersk Baltimore, dan satu kapal sewaan lainnya berhasil keluar pada hari Kamis.
Data dari perusahaan analisis kelautan Lloyd's List Intelligence menunjukkan bahwa minggu lalu, 125 kapal berhasil melintasi selat tersebut. Angka ini meningkat signifikan dari 33 kapal pada minggu sebelumnya, namun masih belum mencapai rata-rata harian sebelum perang yang mencapai 130 kapal atau lebih.
