Gus Rozin: Muktamar NU Mendatang Harus Menjadi Muktamar Damai

Table of Contents
Gus Rozin: Muktamar NU Mendatang Harus Menjadi Muktamar Damai
Gus Rozin: Muktamar NU Mendatang Harus Menjadi Muktamar Damai

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, menegaskan urgensi mewujudkan iklim yang sejuk menjelang forum tertinggi organisasi. Pernyataan tersebut disampaikan dengan lugas di hadapan para peserta Muktamar Ilmu Pengetahuan (MIP) IV PWNU Jawa Tengah yang berlangsung di UIN Sunan Kudus pada Sabtu (27/6/2026).

Momentum penyelenggaraan MIP IV ini memiliki arti strategis yang sangat krusial bagi organisasi Nahdlatul Ulama secara keseluruhan. Acara ini diharapkan menjadi ruang untuk membangun suasana yang kondusif dan penuh kedamaian dalam menyongsong Muktamar NU yang akan datang.

Menyongsong Muktamar dengan Kedamaian

Gus Rozin, sapaan akrab KH Abdul Ghaffar Rozin, menyampaikan harapannya agar semangat positif dalam MIP IV menular ke tingkat nasional. Ia menekankan bahwa setiap forum besar organisasi semestinya menjadi cerminan dari kedewasaan berorganisasi seluruh warga Nahdliyin.

Dalam sambutannya, ia secara tegas menyatakan bahwa muktamar yang akan datang harus menjadi muktamar damai seperti halnya perhelatan pagi itu. Harapan ini mencerminkan keinginan kuat untuk menjaga marwah organisasi di tengah dinamika yang berkembang menjelang suksesi kepemimpinan.

Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah ini melihat bahwa kedamaian adalah kunci utama dalam menjaga persatuan organisasi. Tanpa suasana yang kondusif, agenda-agenda besar organisasi akan sulit tercapai dengan maksimal karena terdistraksi oleh riak-riak kepentingan.

Membangun Independensi Organisasi

Gus Rozin secara terbuka mengaku sangat merindukan suasana Nahdlatul Ulama yang benar-benar independen dan mandiri. Baginya, sebuah organisasi besar harus memiliki kebebasan dalam berpikir serta menentukan arah gerak tanpa harus dibayangi rasa cemas maupun intervensi pihak luar.

Ia menekankan bahwa kemandirian adalah marwah yang harus dijaga oleh setiap kader Nahdlatul Ulama di berbagai tingkatan. Kebebasan dalam menentukan arah kebijakan organisasi menjadi prasyarat mutlak untuk menjaga kepercayaan umat terhadap Nahdlatul Ulama.

Dalam pidatonya, ia mengenang kembali pesan mendalam dari Presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dalam forum muktamar masa lalu. Pesan tersebut menjadi pengingat yang relevan bagi seluruh pengurus agar tidak terjebak dalam pragmatisme politik sesaat.

Gus Dur pernah mengingatkan agar NU tidak perlu merasa bangga hanya karena memiliki kedekatan dengan penguasa saat itu. Meskipun pesan tersebut disampaikan saat Gus Dur sendiri menjabat sebagai Presiden, nasihat ini tetap menjadi pedoman moral yang kuat bagi organisasi.

Menyongsong Muktamar dengan Kedamaian

Menurut Gus Rozin, pesan tersebut merupakan pengingat agar NU senantiasa menjaga kemandirian organisasi dan tetap berpijak pada kepentingan umat. Menjaga jarak yang proporsional dengan kekuasaan adalah langkah strategis untuk tetap konsisten dalam jalur khittah organisasi.

Sintesis Tradisi dan Ilmu Pengetahuan

Selain membahas isu keorganisasian, Gus Rozin juga mengajak seluruh peserta MIP IV untuk memberikan sumbangsih pemikiran yang lebih progresif. Ia mendorong adanya sintesis yang kuat antara tradisi keilmuan pesantren yang dimiliki NU dengan perkembangan sains modern.

Menurutnya, tidak perlu ada dikotomi yang kaku antara mempertahankan tradisi jam'iyyah ijtima'iyyah dengan mengadopsi kemajuan-kemajuan zaman. Keduanya dapat berjalan beriringan untuk memperkuat kapasitas intelektual warga Nahdlatul Ulama dalam menghadapi tantangan global.

Integrasi antara tradisi dan modernitas ini menjadi kunci bagi organisasi untuk terus relevan di era digital. PWNU Jawa Tengah berkomitmen untuk terus mendorong kader-kadernya agar melek literasi sains tanpa meninggalkan akar tradisi keagamaan yang kuat.

Penyelenggaraan MIP IV ini menjadi bukti nyata bahwa NU sangat terbuka terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Berbagai forum diskusi dan seminar dalam acara ini dirancang untuk menjawab tantangan zaman melalui kacamata keilmuan yang berbasis pada nilai-nilai Aswaja.

Menangkan Pikiran dan Hati yang Jernih

Menutup sambutannya, Gus Rozin memberikan pesan kunci mengenai apa yang seharusnya menjadi prioritas utama para kader menjelang Muktamar. Ia menegaskan bahwa yang perlu dimenangkan bukanlah persaingan antarkelompok, melainkan kejernihan berpikir dan kebeningan hati.

Ia menekankan bahwa ketika berbicara mengenai Nahdlatul Ulama, orientasi utama haruslah pada kemaslahatan umat secara luas. Persaingan yang tidak sehat hanya akan mencederai proses demokrasi internal yang selama ini menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama.

Dengan pikiran dan hati yang jernih, diharapkan Muktamar NU mendatang dapat berjalan dengan sukses dan melahirkan keputusan-keputusan yang membawa manfaat nyata. Itulah esensi dari perjuangan di lingkungan Nahdlatul Ulama yang selalu mengedepankan nilai-nilai kedamaian dan kerukunan.

Harapan Gus Rozin ini tentu menjadi refleksi bagi seluruh warga Nahdliyin di mana pun berada. Menyongsong masa depan organisasi dengan spirit kedamaian adalah langkah awal menuju kebesaran Nahdlatul Ulama di masa depan.

Baca Juga

Loading...