Panduan Niat Puasa Asyura: Keutamaan dan Waktu Pelaksanaannya
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Umat Islam di seluruh penjuru Indonesia bersiap menyambut pelaksanaan ibadah puasa sunah Asyura pada awal tahun baru Islam bulan Muharram 1448 Hijriah yang jatuh bertepatan dengan bulan Juni 2026. Momentum spiritual tahunan ini senantiasa dinantikan sebagai sarana penting bagi kaum Muslimin untuk meningkatkan ketakwaan serta mendekatkan diri secara intensif kepada Allah Swt.
Berdasarkan keputusan resmi dari Pemerintah Republik Indonesia dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pelaksanaan puasa Asyura tahun ini ditetapkan jatuh pada hari Kamis, 25 Juni 2026. Namun di sisi lain, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menetapkan awal Muharram secara berbeda melalui metode rukyatul hilal sehingga puasa Asyura menurut NU jatuh pada hari Jumat, 26 Juni 2026.
Perbedaan penetapan penanggalan ini diharapkan tidak mengurangi khidmatnya ibadah umat, melainkan menjadi khazanah keberagaman yang memperkaya toleransi sesama umat Muslim di tanah air. Seluruh elemen masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kerukunan dan fokus pada pencapaian spiritual utama dari pelaksanaan ibadah puasa sunah yang sangat dianjurkan ini.
Keutamaan Bulan Muharram Sebagai Syahrullah
Bulan Muharram memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam kalender Islam karena sering disebut sebagai "Syahrullah" atau bulan Allah yang memiliki keutamaan berlipat ganda bagi setiap amal kebajikan. Keistimewaan bulan ini didasarkan langsung pada petunjuk dan teladan Rasulullah saw. yang senantiasa menganjurkan umatnya memperbanyak ibadah puasa sunah sepanjang hari-hari mulia tersebut.
Terkait keutamaan agung tersebut, Rasulullah saw. menegaskan kedudukan ibadah puasa di bulan pertama Hijriah ini melalui sabda beliau yang sahih dan diakui para perawi terkemuka. "Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadan adalah puasa bulan Muharram dan sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah salat malam," demikian bunyi hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Abu Dawud, Nasa'i, Tirmidzi, dan Ahmad.
Kedudukan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram menempati posisi yang sangat tinggi di antara berbagai macam puasa sunah lainnya dalam syariat Islam. Keutamaan utamanya yang paling dinantikan oleh setiap mukmin adalah janji pengampunan atas dosa-dosa kecil yang dilakukan selama satu tahun penuh yang telah lalu.
Anjuran Menyandingkan Puasa Asyura dengan Puasa Tasu'a
Selain menganjurkan puasa pada tanggal 10 Muharram, Rasulullah saw. juga sangat menyarankan umat Islam untuk melaksanakan puasa pada hari sebelumnya, yaitu puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram. Formula penyandingan ini dirumuskan secara khusus oleh Rasulullah saw. sebagai pembeda yang jelas antara ritual ibadah umat Islam dengan tradisi ibadah kaum Yahudi pada masa itu.
Komitmen kuat Rasulullah saw. untuk melaksanakan kedua puasa tersebut secara berurutan terdokumentasi dengan baik dalam riwayat sejarah menjelang akhir hayat beliau. "Sungguh, jika aku masih hidup sampai tahun depan niscaya aku akan berpuasa pada tanggal 9 dan 10," bunyi hadis yang diriwayatkan oleh Al Khallal dengan sanad bagus dan dipakai sebagai hujjah oleh Imam Ahmad.
Bagi masyarakat Indonesia yang mengikuti kalender Pemerintah dan Muhammadiyah, ibadah puasa Tasu'a dapat ditunaikan pada hari Rabu, 24 Juni 2026 sebelum melanjutkan puasa Asyura keesokan harinya. Sedangkan bagi warga Nahdliyin yang mengikuti ketetapan PBNU, puasa Tasu'a dapat dilaksanakan pada hari Kamis, 25 Juni 2026 dan diikuti puasa Asyura pada hari Jumat, 26 Juni 2026.
Bacaan Niat Puasa Asyura Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Sebelum memulai ibadah sunah yang penuh berkah ini, setiap Muslim diwajibkan untuk memantapkan niat di dalam hati atau disunahkan melafalkannya secara lisan demi menguatkan tekad beribadah. Niat puasa sunah Asyura ini dapat dibaca mulai malam hari sebelum fajar menyingsing, atau bahkan pada siang hari selama belum mengonsumsi makanan apa pun.
Lafal niat puasa Asyura dalam aksara Arab berbunyi Ù†َÙˆَÙŠْتُ صَÙˆْÙ…َ ÙŠَÙˆْÙ…ِ عَاشُورَاءَ سُÙ†َّØ©ً Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ تَعَالَÙ‰ yang mudah dihafalkan oleh umat Islam. Untuk mempermudah pelafalan bagi masyarakat awam, kalimat tersebut ditransliterasikan ke dalam Arab-Latin sebagai berikut: "Nawaitu shauma yaumi 'asyura sunnatan lillahi ta'ala."
Arti dari bacaan niat tersebut adalah, "Saya niat berpuasa pada hari Asyura, sunnah karena Allah Ta'ala." Makna yang terkandung dalam kalimat sederhana ini merefleksikan ketulusan hati seorang hamba yang berpasrah diri dan beribadah semata-mata demi mencari rida Allah Swt.
Esensi Historis dan Hikmah Spiritual Puasa Asyura
Menjalankan puasa Asyura pada hakikatnya tidak sekadar menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari, melainkan sarana melatih kepekaan sosial. Ibadah ini mengajarkan umat Islam untuk merasakan penderitaan kaum yang kekurangan sekaligus membersihkan jiwa dari sifat kikir dan sombong.
Secara historis, hari Asyura juga bertepatan dengan momen kemenangan besar saat Allah Swt. menyelamatkan Nabi Musa as. beserta kaum Bani Israil dari kekejaman bala tentara Firaun di Laut Merah. Peristiwa bersejarah ini menjadikan puasa Asyura sarat akan makna syukur atas pertolongan Allah yang nyata bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.
Melalui pemahaman yang mendalam mengenai niat, keutamaan, serta perbedaan waktu pelaksanaan di Indonesia, umat Islam diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan optimal. Persiapan fisik dan mental yang matang akan membantu mewujudkan kekhusyukan ibadah sehingga keberkahan Muharram dapat dirasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, keberagaman penetapan tanggal puasa Asyura di Indonesia justru memperkuat tali persaudaraan ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat yang majemuk. Semoga amal ibadah puasa yang dilaksanakan pada pertengahan tahun 2026 ini diterima oleh Allah Swt. dan membawa kedamaian bagi bangsa.
