Panduan Lengkap Puasa Muharram 1448 H: Niat dan Keutamaan

Table of Contents
Sambut 1 Muharram 1448 H, Ini Niat dan Keutamaan Puasa Muharram, Tasu'a dan Asyura
Panduan Lengkap Puasa Muharram 1448 H: Niat dan Keutamaan

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) secara resmi telah menetapkan bahwa awal bulan 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada hari Rabu, 17 Juni 2026. Keputusan penting ini diumumkan setelah tim rukyatul hilal di berbagai daerah melaporkan tidak melihat hilal pada Selasa sore, sehingga umat Islam diimbau mempersiapkan amalan utama seperti puasa Muharram, Tasu'a, dan Asyura.

Sidang penetapan awal tahun baru Islam ini dilakukan pada Selasa, 16 Juni 2026 mulai pukul 16:00 WIB guna menyamakan persepsi seluruh umat terkait pergantian kalender. Dikarenakan hilal tidak berhasil teramati, umur bulan Dzulhijjah digenapkan menjadi 30 hari (istikmal) sesuai dengan kaidah fikih yang disepakati para ulama.

Mengantisipasi adanya perbedaan potensi hasil rukyat di lapangan, Lajnah Falakiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LF PWNU) Jawa Tengah mengimbau warga Nahdliyin untuk mengedepankan sikap ihtiyat atau penuh kehati-hatian. Sikap tenang dan mengedepankan persaudaraan diharapkan tetap terjaga demi menjaga keharmonisan umat selama menyambut datangnya tahun baru 1448 Hijriah.

Pentingnya Menjalankan Puasa Sunnah di Bulan Muharram

Sebagai bulan pembuka dalam kalender Islam, Muharram merupakan waktu yang sangat mulia bagi umat Muslim untuk meningkatkan intensitas ibadah harian mereka. Di antara berbagai macam amalan yang dianjurkan, ibadah puasa sunnah Muharram menempati kedudukan yang sangat istimewa karena dinilai sebagai puasa terbaik setelah bulan suci Ramadan.

Ustadz Ahmad Muntaha dalam tulisan resminya yang dikutip oleh NU Online Jateng menjelaskan bahwa hukum menjalankan ibadah ini adalah sunnah muakkadah. Beliau menegaskan bahwa puasa sunnah di bulan ini bahkan jauh lebih utama dibandingkan dengan puasa sunnah di bulan Sya'ban yang sering dikerjakan oleh Rasulullah SAW.

Landasan keutamaan ini merujuk langsung pada beberapa hadits shahih di mana Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai Syahrullah atau bulan Allah yang memiliki kehormatan tersendiri. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak melewatkan kesempatan emas ini demi mendulang pahala berlipat ganda di awal tahun.

Lafal Niat Puasa Muharram, Tasu'a, dan Asyura

Untuk memulai ibadah sunnah yang mulia ini, umat Islam perlu membaca lafal niat puasa Muharram secara tulus di dalam hati maupun diucapkan dengan lisan. Lafal niat secara umum berbunyi, "Nawaitu shaumal Muharrami sunnatan lillâhi ta’âlâ", yang memiliki arti bahwa saya niat berpuasa sunnah Muharram tulus karena Allah Ta'ala.

Pentingnya Menjalankan Puasa Sunnah di Bulan Muharram

Bagi umat Muslim yang ingin melaksanakan puasa pada hari kesembilan Muharram atau yang dikenal dengan nama puasa Tasu'a, terdapat bacaan niat yang berbeda. Lafal niat tersebut berbunyi, "Nawaitu shauma Tasu’a sunnatan lillâhi ta’âlâ", yang berarti saya niat berpuasa sunnah Tasu'a karena Allah Ta'ala.

Sedangkan untuk puasa hari kesepuluh Muharram atau puasa Asyura, umat Islam dapat melafalkan niat khusus, yakni "Nawaitu shauma Asyura sunnatan lillâhi ta’âlâ". Niat ini mengukuhkan tujuan ibadah seseorang untuk melaksanakan puasa sunnah Asyura semata-mata demi mengharap ridha dari Allah Ta'ala.

Meskipun niat puasa sunnah ini paling utama dilafalkan pada malam hari sebelum fajar, umat Islam yang lupa tetap diperbolehkan berniat pada siang hari sebelum masuk waktu Dzuhur. Kelonggaran ini sah dilakukan dengan catatan yang bersangkutan belum makan, minum, atau melakukan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak fajar menyingsing.

Lima Keutamaan Utama Puasa Muharram Menurut Sunnah

Menurut penjelasan Ustadz Ahmad Muntaha berdasarkan hadits Nabi, setidaknya ada lima keutamaan luar biasa yang bisa didapatkan oleh umat Islam yang berpuasa di bulan ini. Keutamaan pertama adalah kedudukannya sebagai puasa paling utama setelah Ramadan, diikuti keutamaan karena Muharram termasuk dalam kategori al-asyhurul hurum atau empat bulan yang disucikan.

Selain itu, setiap satu hari puasa di bulan Muharram dijanjikan pahala yang setara dengan pahala berpuasa selama tiga puluh hari penuh. Fadilah keempat yang sangat dinanti adalah puasa hari Asyura pada 10 Muharram diyakini dapat menghapus dosa-dosa kecil setahun yang telah lalu.

Fadilah kelima didapatkan apabila umat Islam melengkapi puasa Asyura dengan puasa Tasu'a pada 9 Muharram serta puasa pada tanggal 11 Muharram. Kombinasi puasa tiga hari ini secara historis berfungsi sebagai pembeda yang jelas antara ibadah umat Islam dengan ibadah umat Yahudi yang juga memuliakan hari Asyura.

Tradisi Malam 1 Muharram di Indonesia

Di samping ibadah puasa, masyarakat Indonesia juga melestarikan tradisi meminum susu sapi putih murni pada malam satu Muharram setelah waktu Maghrib. Tradisi unik ini biasanya diiringi dengan pembacaan doa awal dan akhir tahun Hijriah sebagai simbol optimisme serta permohonan keberkahan hidup.

Baca Juga

Loading...