Beda Potensi Rukyat Hilal, LF PWNU Jateng Imbau Sikap Ihtiyat
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Lembaga Falakiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LF PWNU) Jawa Tengah mengimbau warga Nahdliyin untuk mengedepankan sikap ihtiyat atau kehati-hatian dalam menyambut awal bulan Muharram 1448 Hijriah. Imbauan penting ini dikeluarkan menyusul adanya perbedaan potensi keterlihatan hilal antara wilayah Jawa Tengah dan sejumlah daerah di bagian barat Indonesia.
Berdasarkan data hisab astronomis, ijtima' akhir Dzulhijjah 1447 H terjadi pada Senin Pon, 15 Juni 2026, tepat pukul 09:54:01 WIB. Namun, kondisi hilal pada Senin sore saat matahari terbenam menunjukkan indikasi yang belum merata di seluruh wilayah tanah air.
Ketua LF PWNU Jawa Tengah, Basthoni, menyatakan bahwa seluruh titik observasi di Jawa Tengah menunjukkan posisi hilal yang masih berada dalam kondisi istihalaturrukyat. Istilah tersebut merujuk pada kondisi di mana hilal secara astronomis masih tidak mungkin untuk dirukyat secara langsung.
Ketinggian hilal di wilayah Jawa Tengah dilaporkan baru mencapai kisaran antara 2° 2' hingga 2° 11' saja. Sementara itu, sudut elongasi hilal di wilayah ini terpantau berada pada kisaran 6° 22' hingga 6° 26'.
Angka-angka tersebut dipastikan masih berada di bawah kriteria Imkanurrukyat Neo MABIMS yang menjadi acuan resmi saat ini. Sebagai informasi, kriteria tersebut mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dengan sudut elongasi minimal 6,4 derajat agar hilal dapat dinyatakan terlihat.
Potensi Keterlihatan Hilal di Wilayah Barat Indonesia
Meskipun wilayah Jawa Tengah belum memenuhi kriteria, data internal LF PWNU Jateng mengonfirmasi adanya potensi lain di wilayah barat Indonesia. Terdapat setidaknya 45 titik lokasi pemantauan di bagian barat yang secara astronomis posisinya sudah memenuhi kriteria imkanurrukyat.
Perbedaan kondisi geografis ini memungkinkan hilal untuk dapat terlihat di lokasi-lokasi strategis tersebut pada Senin sore. Hal inilah yang mendasari perlunya sikap hati-hati serta koordinasi yang kuat di tingkat nasional.
Adapun 45 lokasi di Indonesia yang diprediksi visible meliputi Banda Aceh, Batam, Batusangkar, Bengkalis, Blangpidie, Bukittinggi, Calang, Dumai, dan Gunungsitoli. Selain itu, pemantauan juga dilakukan di Kabanjahe, Karang Baru, Kualatungkal, Kutacane, Langsa, Lhokseumawe, Limapuluh, Lubuk Sikaping, Medan, Mentawai, Meulaboh, serta Muarabungo.
Lokasi pemantauan lainnya meliputi Padang, Padangsidempuan, Painan, Payakumbuh, Pekanbaru, Pematang Siantar, Rengat, Sabang, Salang - Simeulue, Sibolga, dan Sidikalang. Pemantauan hilal juga diselenggarakan di Sigli, Sijunjung, Sinabang, Singkil, Solok, Takengon, Tanjungbalai, Tanjungpinang, Tapaktuan, Tarutung, Tebingtinggi, Tembilahan, hingga Titik Nol-Sabang.
Panduan Fikih dan Implementasi Wilayatul Hukmi
Menanggapi ketimpangan data ilmiah tersebut, LF PWNU Jateng segera merumuskan panduan fikih yang aplikatif bagi seluruh umat Islam. Indonesia menetapkan kebijakan hisab-rukyat menggunakan asas Wilayatul Hukmi atau konsep kesatuan wilayah hukum dalam penetapan awal bulan hijriah.
Jika tim pemantau di salah satu dari 45 lokasi barat tersebut berhasil merukyat hilal pada Senin sore, maka awal Muharram 1448 H jatuh pada Selasa Wage, 16 Juni 2026. Ketetapan ini akan berlaku secara nasional mengikat seluruh wilayah hukum Indonesia tanpa terkecuali.
Sebaliknya, jika cuaca buruk menghalangi pandangan di seluruh titik tersebut sehingga hilal gagal teramati, maka bulan Dzulhijjah akan disempurnakan menjadi 30 hari. Melalui mekanisme istikmal ini, awal tahun baru 1 Muharram 1448 H akan bergeser jatuh pada hari Rabu Kliwon, 17 Juni 2026.
Imbauan Ibadah dan Menjaga Kondusivitas Ukhuwah
Sebagai langkah kehati-hatian dalam beribadah, umat Islam sangat dianjurkan untuk membaca doa akhir dan awal tahun pada Senin malam. Doa pergantian tahun ini dibaca dengan harapan keberkahan mengiringi langkah umat di tahun yang baru.
Namun, apabila Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan keputusan istikmal, warga dianjurkan mengulangi doa tersebut pada Selasa malam. Hal ini dilakukan demi memastikan keselarasan spiritual dengan keputusan fikih resmi yang diambil oleh organisasi.
Basthoni mengimbau segenap warga Nahdliyin untuk tetap tenang dan tidak terombang-ambing oleh simpang siur informasi di media sosial. Segenap umat Islam diharapkan tetap menjaga ukhuwah islamiyah sembari menanti pengumuman keputusan resmi dari PBNU.