Spanyol Tolak Perang Iran, Pedro Sánchez Eskalasi Konflik Lawan Trump
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Madrid menyaksikan peningkatan ketegangan diplomatik yang signifikan pada hari Rabu ketika Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, secara terbuka mengutuk kampanye militer yang direncanakan terhadap Iran. Dalam pidato khusus kepada bangsa dari Istana Moncloa di Madrid, Sánchez menegaskan kembali penolakannya untuk berpartisipasi, meskipun ada ancaman pembalasan ekonomi dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Keputusan Spanyol untuk tidak mengizinkan pesawat tempur Amerika menggunakan wilayahnya sebagai landasan peluncuran serangan ke Iran pada akhir pekan lalu menjadi pemicu langsung konflik ini. Penolakan tersebut memicu ancaman dari Presiden Trump untuk mengakhiri hubungan perdagangan dengan Spanyol, menandai babak baru dalam perseteruan panjang antara kedua pemimpin.
Penolakan Tegas Sánchez dan Ancaman Balasan Ekonomi
Dalam pidato yang disiarkan televisi, Perdana Menteri Sánchez dengan tegas menyatakan posisi negaranya, menyatakan bahwa Spanyol tidak akan menjadi kaki tangan dalam tindakan yang ia sebut 'buruk bagi dunia'. Ia menyoroti kurangnya kejelasan mengenai tujuan dari pihak-pihak yang melancarkan serangan pertama, merujuk pada Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan Sánchez tersebut semakin memperdalam perselisihan antara dirinya dan Presiden Trump, yang telah lama menjadi kritikus vokal dari Eropa. Sikap Spanyol ini kontras dengan pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman, yang sebelumnya mengeluarkan pernyataan bersama untuk mendukung tindakan defensif terhadap Iran.
Kurang dari sehari sebelum pidato Sánchez, Presiden Trump mengadakan konferensi pers mendadak di Ruang Oval Gedung Putih. Dalam kesempatan tersebut, Trump mengancam akan memberikan sanksi ekonomi kepada Spanyol dan meremehkan pembatasan Spanyol terhadap pesawat tempur AS, dengan sombong menyatakan, “Kami bisa menggunakan pangkalan itu jika kami mau; kami bisa saja terbang masuk dan menggunakannya.”
Sejarah Penolakan Sánchez Terhadap Kebijakan Trump
Insiden ini hanyalah contoh terbaru dari bagaimana Pedro Sánchez, yang juga menghadapi gejolak politik di dalam negeri, secara konsisten membedakan kebijakannya dari kebijakan Donald Trump. Selama lebih dari setahun, Sánchez telah memposisikan dirinya sebagai pemimpin resistensi sayap kiri Eropa terhadap Trump.
Sebagai respons terhadap peningkatan deportasi imigran oleh pemerintahan Trump, Sánchez memberikan jalur menuju residensi bagi para migran tanpa dokumen di Spanyol. Ia juga berupaya membatasi perusahaan teknologi Amerika, berbeda dengan Trump yang mendukung mereka, serta menyuarakan keprihatinan atas tarif perdagangan yang ia sebut ‘tidak adil dan tidak dapat dibenarkan’.
Sánchez juga secara terang-terangan mengkritik kebijakan Trump terkait konflik Israel-Palestina. Ia menyebut rencana pemindahan warga Palestina dari Jalur Gaza sebagai ‘imoral’ dan bahkan menggambarkan tindakan Israel di Gaza sebagai ‘genosida’, menunjukkan perbedaan pandangan yang tajam.
Dalam kebijakan pertahanan, Spanyol menjadi satu-satunya anggota NATO yang menolak tuntutan Trump untuk mengalokasikan 5 persen dari anggaran mereka untuk pertahanan. Sánchez menyebut ide tersebut ‘tidak sesuai dengan pandangan dunia kami’, menegaskan komitmen Spanyol terhadap pendekatan yang berbeda.
Pada bulan Juli, Sánchez semakin mengukuhkan posisinya dengan bersekutu bersama beberapa kritikus terkemuka Trump, termasuk Presiden Brasil Luis Inácio Lula da Silva. Ia berjanji untuk melawan ‘oligarki dan kelompok sayap kanan’, memperkuat aliansi progresif di kancah internasional.
Sánchez juga secara implisit mengkritik tindakan keras Trump terhadap imigran, menulis dalam sebuah esai New York Times pada bulan Februari bahwa “Beberapa pemimpin telah memilih untuk memburu dan mendeportasi mereka melalui operasi yang melanggar hukum dan kejam.” Ia juga mengecam penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika sebagai ‘preseden buruk’ yang mempromosikan ‘hukum rimba’, menyoroti penolakannya terhadap unilateralisme AS.
Dinamika Politik Domestik dan Tujuan Sánchez
Bagi Perdana Menteri Sánchez, Donald Trump bukan hanya musuh ideologis, tetapi juga lawan yang berguna saat ia menghadapi masalah domestik yang semakin meningkat. Jajak pendapat menunjukkan bahwa Sánchez dipandang tidak disukai oleh lebih dari separuh penduduk Spanyol, mencerminkan tantangan kepemimpinan yang signifikan.
Ia mengendalikan kurang dari separuh kursi di Parlemen Spanyol, belum berhasil meloloskan anggaran selama bertahun-tahun, dan terus mengalami kekalahan dalam pemilihan regional, ditambah dengan skandal korupsi yang terus-menerus. Pablo Simón, seorang analis politik Spanyol, berpendapat bahwa Sánchez telah beralih ke kebijakan luar negeri ‘untuk mendapatkan pengaruh politik di Spanyol’.
Ramón González Férriz, seorang penulis dan kolumnis di situs berita Spanyol El Confidencial, setuju bahwa reaksi Trump terhadap pembatasan pesawat tempur AS dan perhatian global yang ditimbulkannya adalah ‘persis seperti yang diinginkan Sánchez’. González Férriz menambahkan bahwa Sánchez memang ‘berusaha menciptakan konfrontasi terbuka dengan Donald Trump’, yang secara luas tidak populer di Spanyol.
Warisan Kiri Spanyol dan Risiko Politik
Rekam jejak Sánchez juga telah menjadikannya pahlawan bagi sayap kiri global; majalah berita sayap kiri Italia, L’Espresso, bahkan menobatkannya sebagai 'Person of the Year' 2025, dan majalah sayap kiri Inggris, New Statesman, menyebutnya sebagai ‘ikon sayap kiri’. Sejarah panjang kiri Spanyol memiliki hubungan ambigu dengan Amerika Serikat, ditunjukkan oleh penolakan signifikan terhadap keanggotaan NATO pada tahun 1986.
Pada tahun 2004, Perdana Menteri Spanyol saat itu, José Luis Rodríguez Zapatero, menjadi pahlawan kaum kiri ketika ia menarik pasukannya dari Irak. González Férriz mencatat bahwa ada sejarah di mana kaum kiri Spanyol menunjukkan bahwa mereka ‘tidak akan menjadi pengikut Amerika’, sebuah sentimen yang terus bergema hingga hari ini.
Bagi Sánchez, yang menjabat sejak 2018, penegasan kemerdekaan ini juga merupakan keharusan politik untuk mengkonsolidasikan basis partainya dan menangkal tantangan dari rival sayap kiri ekstrem. Namun, ada risiko politik yang nyata dari strategi konfrontatif ini.
Beberapa analis mempertanyakan apakah, mengingat ancaman baru Trump terhadap Spanyol, oposisi terang-terangan Sánchez pada akhirnya akan menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan. Sikap ini juga membuat Sánchez rentan terhadap kritik dari oposisi sayap kanan Spanyol.
Alberto Núñez Feijóo, pemimpin Partai Rakyat Spanyol, mengkritik Sánchez dengan mengatakan bahwa ia mengorbankan reputasi internasional Spanyol demi keuntungan politik domestik. “Dalam upaya memenangkan beberapa suara di dalam negeri,” kata Feijóo, “kita tidak bisa membahayakan keamanan kita.”
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, juga mengemukakan pandangan serupa, mempertanyakan apakah Sánchez berada di ‘sisi sejarah yang benar’. Ini menyoroti bahwa posisi Sánchez tidak hanya berisiko secara ekonomi dan politik domestik, tetapi juga dapat memengaruhi aliansi dan citra global Spanyol di mata sekutu tradisional.
Ditulis oleh: Eko Kurniawan
