Rudal Klaster Iran Hantam Israel: Peran Rusia & China Disorot
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Ketegangan antara Iran dan Israel telah mencapai level baru dengan laporan mengenai penggunaan rudal balistik bermuatan munisi klaster oleh Iran. Insiden ini menandai penggunaan pertama kalinya senjata kontroversial tersebut dalam konflik yang sedang berlangsung, meskipun sebelumnya pernah dikerahkan pada Juni tahun lalu.
Serangan ini tidak hanya menimbulkan kerusakan dan korban luka, tetapi juga memicu pertanyaan serius mengenai asal-usul kapabilitas senjata Iran, dengan dugaan adanya bantuan eksternal dari negara-negara seperti Rusia atau China.
Eskalasi Baru dengan Serangan Rudal Klaster Iran
Pejabat militer Israel mengklaim bahwa Iran telah menembakkan rudal balistik yang membawa munisi klaster ke wilayah Israel, menjadikannya penggunaan pertama yang dilaporkan dalam perang saat ini. Rudal-rudal ini dilaporkan menghantam dekat Tel Aviv, menyebabkan cedera pada 12 orang dan merusak sejumlah rumah, meskipun tanpa korban jiwa.
Munisi klaster dikenal karena kemampuannya menyebarkan lusinan bahan peledak kecil di area yang luas, meningkatkan risiko terhadap warga sipil dan meninggalkan ranjau yang belum meledak.
Anatomi Serangan dan Risiko Munisi Klaster
Menurut laporan Israel, setidaknya satu rudal balistik Iran yang membawa munisi klaster menghantam Israel tengah dalam serangan terbaru. Hulu ledak rudal tersebut dilaporkan terbelah pada ketinggian sekitar tujuh kilometer di atas tanah, kemudian melepaskan sekitar 20 submunisi yang menyebar dalam radius sekitar delapan kilometer di atas Israel tengah.
Salah satu bom kecil menghantam sebuah rumah di kota Azor, di selatan Tel Aviv, menyebabkan kerusakan struktural tanpa menimbulkan korban. Serangan yang lebih luas menyebabkan cedera di lokasi lain, dengan setidaknya 12 orang terluka.
Dampak Kemanusiaan dan Bahaya Jangka Panjang
Sejak 28 Februari, serangan rudal balistik Iran telah menewaskan setidaknya 11 orang di Israel dan melukai lebih dari 1.000 lainnya dalam berbagai tingkat, seperti yang dikutip oleh NBC News. Militer Israel telah mengeluarkan peringatan grafis kepada publik tentang bahaya yang ditimbulkan oleh submunisi yang belum meledak.
Brigadir Jenderal Effie Defrin, juru bicara militer Israel, menyatakan kepada wartawan bahwa Iran telah mengerahkan senjata yang dirancang untuk memaksimalkan kerugian sipil. “Rezim teror berusaha melukai warga sipil dan bahkan menggunakan senjata dengan penyebaran luas untuk memaksimalkan cakupan kerusakan,” katanya.
Dinamika Konflik yang Berubah dan Tantangan Operasional
Kampanye rudal Iran terus berlanjut sepanjang minggu, meskipun intensitas peluncuran berfluktuasi. Pada 3 Maret, Iran menembakkan setidaknya enam rentetan rudal ke Israel, jumlah yang sama seperti hari sebelumnya.
Ini menunjukkan penurunan signifikan dari 28 Februari, ketika pejabat Israel mencatat setidaknya 20 rentetan rudal ditembakkan dalam satu hari. Namun, penggunaan hulu ledak klaster menimbulkan tantangan operasional baru, karena mereka menyebarkan beberapa bahan peledak di area perkotaan, membuat intersepsi lebih rumit dan meningkatkan risiko bahaya sekunder di lapangan.
Kemampuan Rudal Klaster Iran dan Asal-Usulnya
Militer Israel meyakini Iran telah menembakkan setidaknya lima rudal klaster ke Israel sejak hari Sabtu, semuanya diarahkan ke daerah sipil padat penduduk. Dua rudal tersebut diluncurkan dalam rentetan ke Israel tengah pada hari Selasa, menyebabkan kerusakan dan cedera di beberapa lokasi.
Para analis militer mencatat bahwa senjata klaster sangat berbahaya ketika dicegat di udara, karena submunisi dapat jatuh secara tak terduga, terkadang meledak saat benturan dan terkadang tetap tidak meledak, menjadi ranjau darat yang aktif selama bertahun-tahun.
Para analis militer Israel percaya bahwa Iran telah mengembangkan setidaknya tiga jenis rudal yang mampu membawa hulu ledak klaster. Ini termasuk rudal jarak pendek Zolfaghar, seri Qadr jarak jauh, dan rudal balistik Khorramshahr yang lebih besar.
Khorramshahr dianggap yang paling kuat dari ketiga sistem tersebut, dengan klaim Iran memiliki jangkauan sekitar 2.000 kilometer dan dapat membawa hingga 80 bom klaster.
Spekulasi Peran Rusia dan China dalam Transfer Teknologi
Di tengah perdebatan saat ini, bukan hanya ancaman militer segera yang menjadi sorotan, tetapi juga pertanyaan tentang bagaimana Iran mengembangkan kapabilitas ini, terutama di negara di mana para ilmuwan yang terkait dengan program senjata canggih sering menjadi sasaran pembunuhan. Para ahli Israel menyarankan bahwa bantuan eksternal mungkin telah memainkan peran, meningkatkan spekulasi tentang kemungkinan transfer pengetahuan militer dari Rusia atau China.
Iran tidak secara terbuka membahas produksi munisi klaster, namun bukti menunjukkan bahwa negara tersebut memproduksi senjata semacam itu untuk digunakan dengan rudal balistik dan roket. Media pemerintah Iran telah melaporkan bahwa rudal balistik Qadr S yang diproduksi secara domestik membawa hulu ledak munisi klaster dan memiliki jangkauan sekitar 2.000 kilometer.
Arsenal Rudal Klaster Iran dan Asistensi Asing
Laporan media Barat juga menunjukkan bahwa rudal balistik Zolfaghar Iran mungkin juga mampu mengirimkan munisi klaster. Pada tahun 2015, otoritas Iran memamerkan varian rudal Fateh yang membawa 30 submunisi, masing-masing seberat sekitar 20 pon, menunjukkan adaptasi senjata yang ada untuk muatan klaster.
Intelijen sumber terbuka dari Jane’s Information Group mencantumkan Iran sebagai pemilik beberapa sistem klaster asing, termasuk dispenser KMGU yang dirancang untuk melepaskan submunisi, bom klaster PROSAB-250, dan bom klaster BL755 yang diproduksi di Inggris. Ini semakin memperkuat dugaan keterlibatan entitas asing dalam pengembangan kemampuan senjata Iran.
Konvensi Munisi Klaster dan Respon Internasional
Senjata klaster telah menjadi subjek perdebatan internasional yang intens. Pada tahun 2008, lebih dari 100 negara menandatangani Konvensi Munisi Klaster, sebuah perjanjian internasional yang melarang penggunaan, produksi, transfer, dan penimbunan senjata semacam itu.
Sebanyak 111 negara dan 12 entitas tambahan telah bergabung dengan perjanjian tersebut. Namun, baik Israel maupun Iran tidak menandatangani perjanjian tersebut, dan Amerika Serikat juga menolak untuk bergabung dengan konvensi tersebut, yang menyoroti perpecahan global dalam isu ini.
Isu ini kembali menjadi perhatian internasional pada tahun 2023, ketika Washington memasok munisi klaster ke Ukraina untuk digunakan melawan pasukan Rusia. Ukraina telah menyatakan bahwa pasukan Rusia juga menggunakan senjata klaster selama perang, menunjukkan bahwa penggunaan senjata kontroversial ini meluas di zona konflik.
Penggunaan rudal klaster oleh Iran menambahkan lapisan kompleksitas baru pada konflik yang sudah bergejolak, meningkatkan risiko kemanusiaan dan memperdalam ketidakpastian regional. Sorotan terhadap potensi bantuan dari Rusia dan China semakin memperumit dinamika geopolitik yang sudah tegang.
Ditulis oleh: Rudi Hartono
