Reaksi Pemimpin Dunia Terhadap Serangan Militer AS dan Israel ke Iran
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Para pemimpin dunia memberikan respons beragam yang penuh kehati-hatian pada Sabtu (26/02/2026) menyusul serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Aksi militer berskala besar ini memicu kekhawatiran global akan pecahnya perang terbuka yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan meningkat drastis setelah muncul laporan mengenai kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan tersebut. Berita ini memicu pertanyaan besar mengenai masa depan stabilitas keamanan di planet ini dan bagaimana eskalasi konflik akan berlanjut.
Klaim Kematian Ayatollah Ali Khamenei
Presiden AS Donald Trump melalui media sosial menyatakan bahwa Khamenei telah tewas dalam operasi militer tersebut. Trump menyebut momen ini sebagai peluang terbesar bagi rakyat Iran untuk mengambil alih kembali negara mereka dari kekuasaan teokrasi.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperkuat klaim tersebut dalam pidato televisinya dengan menyebutkan adanya tanda-tanda yang semakin kuat. Pejabat Israel yang enggan disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa Khamenei tewas saat serangan menghantam kompleks kediamannya pada Sabtu dini hari.
Respons Diplomatik Barat dan Timur Tengah
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz mengeluarkan pernyataan bersama yang mendesak de-eskalasi. Ketiga pemimpin tersebut menyerukan agar AS dan Iran segera kembali ke meja perundingan untuk mencari solusi damai melalui jalur diplomasi.
Negara-negara seperti Australia dan Kanada menyatakan dukungan terbuka terhadap tindakan militer Amerika Serikat. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyebut Republik Islam Iran sebagai sumber utama ketidakstabilan dan teror di seluruh kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Liga Arab yang terdiri dari 22 negara mengutuk serangan Iran ke negara tetangga sebagai pelanggaran kedaulatan. Arab Saudi, Yordania, dan Uni Emirat Arab mengecam keras agresi Iran namun tetap bersikap waspada terhadap aksi militer sepihak yang dilakukan oleh AS dan Israel.
Kritik Tajam dari Rusia dan China
Kritik paling keras datang dari Rusia dan China yang memandang serangan ini sebagai bentuk pelanggaran hukum internasional. Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut tindakan tersebut sebagai agresi bersenjata terencana terhadap negara anggota PBB yang berdaulat.
Pemerintah China menyatakan keprihatinan mendalam dan mendesak penghentian segera aksi militer demi menghormati integritas wilayah Iran. Beijing menekankan bahwa masalah nuklir dan stabilitas regional tidak dapat diselesaikan hanya melalui kekuatan militer semata.
Dampak di Lapangan dan Sidang Darurat PBB
Menanggapi situasi yang genting ini, Dewan Keamanan PBB menjadwalkan pertemuan darurat atas permintaan Bahrain dan Prancis. Dunia kini menantikan apakah ketidakpastian kepemimpinan di Iran akan membawa perubahan rezim atau justru memicu pembalasan yang lebih mematikan.
Sementara itu di Tepi Barat, warga Palestina melaporkan dentuman keras dari sistem pertahanan Iron Dome Israel yang mencegat rudal dan drone kiriman Iran. Meski situasi mencekam, aktivitas di beberapa kota seperti Ramallah tetap berjalan di tengah penutupan pos pemeriksaan oleh militer Israel.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Siapa pemimpin Iran yang dilaporkan tewas dalam serangan ini?
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas setelah serangan gabungan AS dan Israel menghantam kompleks kediamannya.
Bagaimana sikap Rusia dan China terhadap serangan tersebut?
Rusia dan China mengkritik keras serangan itu sebagai tindakan agresi yang melanggar kedaulatan negara dan menyerukan penghentian segera aksi militer.
Apa imbauan dari Inggris, Prancis, dan Jerman?
Ketiga negara tersebut mendesak Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan kekerasan dan kembali melakukan negosiasi untuk mencapai penyelesaian damai.
Apa dampak langsung serangan ini terhadap keamanan regional?
Serangan ini memicu serangan balasan berupa rudal dan drone dari Iran serta menyebabkan Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan darurat untuk mencegah perang yang lebih luas.
Ditulis oleh: Rizky Ramadhan