Quraish Shihab Soroti Keadilan Melalui Perjanjian Hudaibiyah di Depan Prabowo
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Ulama tafsir Al-Qur’an terkemuka, M. Quraish Shihab, menyampaikan tausiah penting di hadapan Prabowo Subianto. Acara tersebut adalah peringatan Nuzulul Qur'an tingkat kenegaraan, yang diselenggarakan di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa, 10 Maret 2026.
Dalam ceramahnya, Quraish Shihab secara khusus menyoroti kisah historis Perjanjian Hudaibiyah. Ia menggunakan narasi tersebut sebagai contoh nyata pengorbanan demi tercapainya perdamaian dan persatuan.
Pentingnya Keadilan dalam Setiap Keadaan
Ayah dari jurnalis senior Najwa Shihab ini mengawali tausiahnya dengan mengingatkan pentingnya bersikap adil dalam setiap situasi. Ia mengutip pesan Al-Qur’an yang secara tegas menyatakan bahwa kebencian kepada suatu kelompok tidak boleh menyebabkan seseorang berlaku tidak adil.
“Jangan sampai kebencianmu kepada satu kaum menjadikan engkau tidak berlaku adil,” tegas Quraish Shihab, menekankan objektivitas moral. Ia menjelaskan bahwa perbedaan adalah realitas tak terhindarkan dalam kehidupan bermasyarakat, namun setiap perbedaan menuntut pengorbanan agar tercipta perdamaian.
Perjanjian Hudaibiyah: Pengorbanan untuk Perdamaian
Quraish Shihab kemudian menguraikan kisah Perjanjian Hudaibiyah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau menjelaskan bahwa demi mencapai perdamaian dengan kaum musyrik, Nabi Muhammad bersedia menghapus beberapa kata kunci dalam naskah perjanjian.
Beberapa frasa yang diminta dihapus meliputi kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” karena pihak musyrik tidak mengakui sebutan Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Frasa “Muhammad Rasulullah” juga diminta dihapus karena pihak lawan tidak mengakui kerasulan Nabi Muhammad.
“Demi perdamaian, Rasul bersedia menghapus tujuh kata yang sangat penting itu,” ujar Quraish Shihab, menyoroti pengorbanan besar tersebut. Sikap ini menjadi simbol komitmen mendalam terhadap tujuan yang lebih mulia.
Cerminan Sejarah Bangsa: Piagam Jakarta
Menurut Quraish Shihab, semangat pengorbanan demi persatuan serupa juga pernah ditunjukkan oleh para pendiri bangsa Indonesia. Hal ini terjadi saat perumusan dasar negara demi menjaga keutuhan nasional.
Ia menyinggung penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, yakni frasa “melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. “Kita hapus demi perdamaian, kita hapus demi persatuan. Itulah tuntunan Al-Qur’an yang diajarkan kepada kita,” jelasnya.
Keadilan dan Perdamaian yang Beriringan
Meski demikian, Quraish Shihab memberikan penekanan penting bahwa perdamaian tidak boleh mengorbankan keadilan. Ia dengan tegas mengingatkan bahwa kedamaian dan keadilan harus selalu berjalan seiring.
“Kita ingin damai, tetapi keadilan pun hendaknya kita tegakkan,” ucapnya, menggarisbawahi keseimbangan esensial ini. Keduanya adalah pilar utama dalam membangun masyarakat yang harmonis dan bermartabat.
Perspektif Keadilan dari Berbagai Tokoh
Dalam kesempatan tersebut, Quraish Shihab juga mengulas berbagai pandangan tentang keadilan dari tokoh-tokoh terkemuka. Ia menyebutkan filsuf Yunani Plato yang pernah mendefinisikan keadilan sebagai keberpihakan kepada yang kuat, meskipun pandangan ini tidak sepenuhnya ia setujui.
Sebagai kontras, ia mencontohkan pidato pertama Khalifah Abu Bakar setelah dilantik sebagai pemimpin umat Islam. Abu Bakar menegaskan kewajiban pemimpin untuk memastikan hak-hak orang lemah senantiasa terlindungi dari penindasan yang kuat.
Tausiah Quraish Shihab ini memberikan perspektif mendalam tentang peran pengorbanan dan keadilan dalam menjaga persatuan. Pesan ini relevan bagi kepemimpinan modern dan kehidupan bermasyarakat, mengingatkan pentingnya fondasi moral yang kuat.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Siapa M. Quraish Shihab?
M. Quraish Shihab adalah seorang ulama tafsir Al-Qur'an terkemuka di Indonesia, dikenal luas sebagai cendekiawan Muslim dan ayah dari jurnalis Najwa Shihab.
Apa itu Perjanjian Hudaibiyah yang disinggung Quraish Shihab?
Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian damai yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dengan kaum musyrik Mekah pada tahun 6 Hijriah, yang meskipun terlihat merugikan di awal, akhirnya membuka jalan bagi Fathu Mekah (penaklukan Mekah) tanpa pertumpahan darah.
Mengapa Nabi Muhammad bersedia menghapus beberapa kata dalam Perjanjian Hudaibiyah?
Nabi Muhammad SAW bersedia menghapus kalimat 'Bismillahirrahmanirrahim' dan frasa 'Muhammad Rasulullah' dari naskah perjanjian demi tercapainya perdamaian dengan kaum musyrik, menunjukkan pengorbanan besar demi tujuan yang lebih mulia yaitu persatuan dan keamanan.
Bagaimana Quraish Shihab mengaitkan Perjanjian Hudaibiyah dengan sejarah Indonesia?
Quraish Shihab mengaitkannya dengan penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta ('dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya') oleh para pendiri bangsa. Tindakan tersebut merupakan bentuk pengorbanan demi menjaga persatuan nasional Indonesia.
Apa pesan utama Quraish Shihab mengenai keadilan dan perdamaian?
Quraish Shihab menekankan bahwa perdamaian tidak boleh mengorbankan keadilan. Ia menegaskan bahwa kedamaian dan keadilan harus berjalan beriringan, serta mengutip contoh Khalifah Abu Bakar yang memastikan hak orang lemah terlindungi dari yang kuat.
Ditulis oleh: Rina Wulandari
