Pakar Ragukan Alasan Trump Serang Iran: Fakta vs Klaim Senjata Nuklir
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - WASHINGTON – Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi tempur besar-besaran terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari. Serangan ini menargetkan kapabilitas rudal serta para pemimpin tertinggi di negara Timur Tengah tersebut.
Presiden Donald Trump menegaskan bahwa tindakan militer ini diperlukan karena Iran dianggap mengancam keamanan nasional Amerika Serikat. Trump mengklaim Teheran hampir memiliki senjata nuklir dan rudal balistik yang mampu menjangkau wilayah Amerika.
Klaim Ancaman Nuklir yang Dipertanyakan
Sejumlah analis keamanan nasional dan pakar Iran justru meragukan dasar pemikiran yang digunakan oleh administrasi Trump. Mereka menilai asumsi mengenai kepemilikan senjata nuklir Iran sangat berlebihan dan cenderung tidak akurat.
"Itu tidak benar," ujar Matthew Bunn, pakar kontrol senjata dari Harvard’s Kennedy School, menanggapi klaim tersebut. Bunn menyatakan bahwa fasilitas pengayaan nuklir utama Iran sebenarnya telah hancur dalam serangan musim panas lalu.
Laporan Reuters menyebutkan bahwa serangan terbaru ini telah menewaskan sedikitnya 201 orang dan melukai 747 lainnya. Data tersebut merujuk pada keterangan media Iran yang mengutip organisasi kemanusiaan Bulan Sabit Merah.
Nasib Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, hingga kini masih menjadi simpang siur di mata dunia internasional. Pihak Israel dan Trump mengonfirmasi kematiannya, namun Kementerian Luar Negeri Iran bersikeras bahwa Khamenei tetap aman.
Ketegangan Diplomasi dan Teknis Pengayaan
Sebelum serangan terjadi, Amerika Serikat sebenarnya tengah melakukan negosiasi tidak langsung yang berakhir buntu pada 26 Februari. Pejabat senior AS menyebut Iran menolak mendiskusikan program rudal balistik mereka dalam pembicaraan tersebut.
Pemerintah AS mengklaim Iran memiliki stok uranium yang diperkaya hingga tingkat kemurnian sebesar 60 persen. Mereka khawatir level tersebut dapat dikonversi menjadi 90 persen dalam waktu singkat untuk membuat bom.
Namun, para analis independen menyatakan bahwa Iran saat ini tidak memiliki fasilitas aktif untuk mencapai tingkat pemurnian tersebut. Matthew Bunn menekankan bahwa fasilitas pengayaan dan tenaga ahli kunci Iran telah hancur sebelumnya.
Terkait rudal balistik, mantan duta besar Daniel Kurtzer menilai membangun rudal antarbenua bukanlah perkara yang mudah bagi Iran. Intelijen menunjukkan bahwa Iran mungkin masih membutuhkan waktu 10 tahun untuk mencapai kapabilitas tersebut.
Spekulasi Perubahan Rezim di Teheran
Dalam pesan videonya, Trump mendesak rakyat Iran untuk bangkit melawan pemerintah dan mengambil alih kekuasaan negara. Ia menyebut situasi ini sebagai satu-satunya kesempatan bagi generasi Iran untuk melakukan perubahan besar.
Mona Yacoubian dari Center for Strategic and International Studies menilai perubahan rezim secara mendadak sangat kecil kemungkinannya. Rezim Iran dianggap lebih siap mengelola kekacauan dibandingkan rakyatnya sendiri yang masih dalam tekanan.
Para ahli mengkhawatirkan bahwa serangan asing justru membuat rakyat Iran enggan memprotes karena tidak ingin terlihat bekerja sama dengan musuh. Ketakutan akan tindakan represif aparat keamanan domestik juga menjadi penghalang utama bagi gerakan massa.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Kapan serangan AS dan Israel ke Iran terjadi?
Serangan militer tersebut diluncurkan pada hari Sabtu, 28 Februari.
Berapa jumlah korban jiwa yang dilaporkan dalam serangan tersebut?
Menurut laporan Reuters yang mengutip media Iran, terdapat 201 orang tewas dan 747 orang luka-luka.
Apa alasan utama Donald Trump melakukan serangan militer?
Trump berargumen bahwa Iran menimbulkan risiko yang tidak dapat ditoleransi karena pengembangan senjata nuklir dan rudal balistik jarak jauh.
Bagaimana status Ayatollah Ali Khamenei setelah serangan?
Terdapat laporan yang bertolak belakang; Israel dan Trump menyatakan ia tewas, sementara Iran bersikeras ia dalam keadaan aman.
Mengapa pakar meragukan klaim senjata nuklir Iran?
Pakar berpendapat bahwa fasilitas nuklir Iran sudah hancur dalam serangan sebelumnya dan mereka belum memiliki kemampuan teknis untuk membuat senjata dalam waktu dekat.
Ditulis oleh: Maya Sari
