Konflik Iran Ancam Biaya Tekstil RI, Pengusaha Desak Stimulus
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - JAKARTA – Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen (APSyFI) menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait potensi kenaikan biaya produksi industri tekstil nasional. Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang berisiko mengganggu pasokan bahan baku utama.
Sebanyak 85% kebutuhan monoetilen glikol (MEG), komponen krusial dalam produksi serat tekstil, diketahui dipasok dari kawasan tersebut. Ketua Umum APSyFI, Redma Gita Wirawasta, mendesak pemerintah untuk segera mengeluarkan serangkaian stimulus guna memitigasi dampak negatif yang mungkin terjadi.
Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Rantai Pasok Global
Redma Gita Wirawasta menjelaskan bahwa ketegangan yang memanas di Timur Tengah berpotensi besar menyebabkan tersendatnya pasokan bahan baku. Gangguan ini secara langsung akan mengerek biaya logistik secara signifikan.
Biaya asuransi pengiriman serta waktu transportasi diperkirakan akan membengkak, terutama untuk rute yang melintasi zona konflik. Situasi ini diperkirakan akan memukul keras kinerja ekspor produk tekstil Indonesia ke pasar Eropa.
"Ekspor ke Eropa pasti akan terganggu karena biaya logistik dan waktu pengiriman yang bertambah," ujar Redma kepada Bisnis pada Rabu (4/3/2026).
Kenaikan biaya operasional dan jadwal pengiriman yang tak menentu akan mengurangi daya saing produk tekstil Indonesia di pasar internasional. Sementara itu, untuk impor tekstil dan produk tekstil (TPT) jadi, Redma memastikan tidak akan terkendala. Hal ini karena Indonesia mayoritas mengimpor benang dan kain, sekitar 90%, dari Tiongkok.
Ketergantungan Bahan Baku dan Strategi Diversifikasi
Ketergantungan terhadap MEG dari Timur Tengah menjadi perhatian utama bagi industri tekstil Indonesia. Bahan baku ini sangat vital untuk produksi serat filamen yang menjadi dasar berbagai produk tekstil.
Di sisi lain, untuk purified terephthalic acid (PTA), bahan baku tekstil lainnya, industri dalam negeri mampu memenuhi 95% kebutuhannya secara domestik. Ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam tingkat ketergantungan impor antar jenis bahan baku.
Menyikapi potensi gangguan pasokan MEG, APSyFI tengah menjajaki sumber alternatif dari Malaysia. Upaya diversifikasi ini diharapkan dapat mengurangi risiko akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah dan menjaga stabilitas produksi.
Redma menambahkan bahwa saat ini stok MEG yang dimiliki pengusaha tekstil masih mencukupi untuk kebutuhan lebih dari dua bulan. Cadangan ini memberikan sedikit waktu bagi pelaku usaha untuk menyusun strategi mitigasi jangka panjang.
Ancaman Ganda: Tantangan Ekspor ke Eropa dan Amerika Serikat
Selain gangguan pasokan bahan baku, industri tekstil Indonesia juga menghadapi tantangan berat di pasar ekspor. Kinerja ekspor ke Eropa diproyeksikan akan terkendala akibat kenaikan biaya logistik dan waktu pengiriman.
Tidak hanya itu, pasar Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu tujuan ekspor utama juga masih dibayangi oleh pengenaan tarif global. Kebijakan tarif ini diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang kembali mencalonkan diri dalam pemilihan.
Redma menegaskan bahwa situasi ini akan "mengganggu kinerja ekosistem secara keseluruhan" industri tekstil. Adanya tekanan dari berbagai arah, baik dari sisi pasokan maupun permintaan, menuntut intervensi pemerintah yang efektif.
Desakan Stimulus Fiskal dan Perlindungan Pasar Domestik
Untuk menjaga dan memperbaiki kinerja industri, APSyFI mendesak pemerintah agar mengeluarkan kebijakan yang mendorong industri untuk menguasai pasar domestik. Saat ini, sekitar 60% pasar domestik masih dikuasai oleh produk impor, menjadi celah yang perlu diisi oleh produk lokal.
Lebih dari sekadar perlindungan pasar, Redma juga mendorong pemerintah untuk memberikan stimulus fiskal yang komprehensif. Stimulus ini bertujuan menekan ongkos produksi yang berpotensi melambung tinggi akibat konflik Timur Tengah.
"Jika pemerintah bisa memberikan stimulus fiskal atau subsidi lain seperti Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPnDTP), diskon listrik, atau subsidi bunga, ini bisa sangat membantu," jelas Redma.
Subsidi semacam itu diharapkan dapat memangkas biaya produksi secara signifikan, bahkan hingga setara dengan harga barang impor dumping. Dengan demikian, industri tekstil domestik dapat bersaing lebih sehat dan tangguh di tengah gejolak global.
Ditulis oleh: Budi Santoso
