Iran Mencekam: Ribuan Korban Jiwa Sipil Berjatuhan Akibat Konflik

Table of Contents
Iran Makin Mencekam! Update Terkini Korban Jiwa-Warga Sipil Berjatuhan
Iran Mencekam: Ribuan Korban Jiwa Sipil Berjatuhan Akibat Konflik

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Jakarta, CNBC Indonesia – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran telah memakan ribuan korban jiwa dalam eskalasi terbaru yang mengerikan. Serangan gabungan Washington dan Tel Aviv ke Negeri Persia, yang pecah sejak Sabtu (28/2/2026), dilaporkan terus berlanjut tanpa henti.

Korban Jiwa Sipil Melonjak Drastis

Data korban tewas akibat konflik di Iran menunjukkan peningkatan drastis hanya dalam beberapa hari terakhir. Lembaga Bulan Sabit Merah Iran awalnya mencatat 555 kematian di seluruh negeri.

Namun, kelompok hak asasi manusia Hengaw yang berbasis di Norwegia melaporkan angka jauh lebih mengerikan. Pada hari ketiga konflik, total kematian telah mencapai sedikitnya 1.500 orang, terdiri dari 200 warga sipil dan 1.300 anggota pasukan keamanan Iran.

Hengaw menyoroti melonjaknya angka kematian warga sipil, terutama di Provinsi Hormozgan, Iran Selatan. Sebuah serangan rudal menghantam sekolah dasar anak perempuan di Minab akhir pekan lalu, menewaskan lebih dari 150 orang termasuk anak-anak yang tak berdosa.

Situasi Mencekam dan Peringatan Keamanan

Rentetan serangan gabungan AS-Israel terus menggempur beberapa kota besar, menciptakan kondisi mencekam bagi penduduk Iran. Otoritas keamanan bahkan mengirimkan gelombang peringatan dan pesan singkat melalui ponsel warga untuk mengendalikan situasi.

Di Kota Sanandaj, Kurdistan Iran, warga menerima pesan dari organisasi intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Pesan tersebut memperingatkan bahwa setiap pergerakan publik atau kehadiran di jalanan akan dianggap sebagai bentuk kerja sama langsung dengan musuh, bertujuan mencegah aksi teroris dan kerusuhan.

Ibu kota Teheran juga dilaporkan sangat mencekam dengan pemadaman internet yang hampir total. Seorang mahasiswa di Teheran mengungkapkan, rezim sengaja memutus akses internet untuk menghambat upaya warga memprotes atau memobilisasi massa.

“Teheran dibom sangat hebat, tidak mungkin mengetahui kapan, di mana, dan bagaimana kami bisa memprotes,” ujar mahasiswa tersebut kepada The Guardian, menyoroti bahaya di jalanan dan risiko besar bagi warga biasa di tengah ketidakpastian.

Korban Jiwa Sipil Melonjak Drastis

Kekhawatiran Warga dan Tuduhan Pemerintah

Warga di wilayah Kurdistan merasakan ketakutan serupa, merasa terjebak di tengah gencatan senjata dan intimidasi aparat. Seorang mahasiswa Kurdi menyampaikan pesan bahwa rezim ingin warga tetap berada di lokasi serangan agar bisa menyalahkan pihak asing atas insiden tersebut.

“Jika kami berencana untuk melarikan diri, agen rezim akan menangkap kami dan menjatuhkan tuduhan teror,” tulis mahasiswa Kurdi tersebut, menunjukkan taktik rezim untuk menahan warga dan mengontrol narasi. Kritikan juga datang dari Hiwa Bahrami, Kepala Departemen Hubungan Luar Negeri Partai Demokrat Kurdistan Iran.

Bahrami menuduh pemerintah Iran sengaja menempatkan pangkalan militer di tengah pemukiman warga. Hal ini menjadikan penduduk sebagai tameng hidup dan menempatkan warga sipil pada risiko signifikan di banyak daerah, termasuk Kurdistan Iran.

Infrastruktur Lumpuh dan Pengungsian Massal

Selain jatuhnya korban jiwa, infrastruktur sipil juga mulai lumpuh total akibat serangan udara yang tiada henti. Kota Mahabad melaporkan aliran listrik putus sepenuhnya sejak Senin, pasca jet tempur AS-Israel menghantam wilayah tersebut.

Di Urmia, narapidana di penjara lokal terpaksa menempelkan lakban pada jendela sel untuk meredam suara ledakan dahsyat di sekitar kompleks penjara. Kekhawatiran akan keselamatan mendorong warga Teheran berbondong-bondong melarikan diri ke kota-kota kecil seiring meningkatnya intensitas serangan.

Matin, mantan jurnalis di Teheran, mengaku sangat ketakutan melihat gumpalan asap hitam dan tumpukan puing akibat ledakan yang terus-menerus. Ia menyalahkan rezim yang membawa negara pada titik ini, namun juga cemas serangan AS akan membunuh orang tidak berdosa, terutama anak-anak.

Pembuat film Zhila juga menyoroti hancurnya masa depan generasi muda Iran akibat sanksi dan kebijakan rezim yang melumpuhkan ekonomi. Meskipun menentang perang, ia merasa rakyat Iran tidak memiliki pilihan lain selain mencari bantuan internasional untuk mengakhiri penderitaan ini.

Hingga saat ini, pertempuran di Iran masih terus berlangsung, dengan jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah setiap saat. Belum ada tanda-tanda gencatan senjata dari kedua belah pihak yang berseteru, menambah ketidakpastian akan masa depan wilayah tersebut.



Ditulis oleh: Dewi Lestari

Baca Juga

Loading...