Serangan Udara AS Hantam Iran: Eskalasi Perang dan Krisis Kemanusiaan
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Serangan udara Amerika Serikat menghantam ibu kota Iran, Teheran, pada Sabtu, 28 Februari 2026. Eskalasi militer ini memicu kepanikan massal di kalangan penduduk sipil yang berusaha mencari perlindungan di tengah ledakan.
Pemerintah Iran melaporkan salah satu rudal mengenai sebuah sekolah dasar perempuan di kota Minab, provinsi Hormozgan. Insiden tragis tersebut dikonfirmasi menewaskan sedikitnya 53 siswa yang sedang mengikuti kegiatan belajar.
Saksi mata di Teheran Barat menggambarkan suasana mencekam saat jet tempur melintas dan rudal meledak di sekitar pemukiman. Komunikasi di dalam negeri dilaporkan terputus tak lama setelah serangan udara pertama dimulai secara mendadak.
Warga yang dihubungi melalui telepon menyatakan bahwa tidak ada peringatan dini dari pemerintah Iran mengenai potensi serangan ini. Banyak warga terjebak di kantor dan sekolah karena serangan terjadi pada hari pertama pekan kerja Iran.
Respons Militer dan Serangan Balasan Iran
Iran segera merespons dengan meluncurkan serangan balasan yang menargetkan posisi militer Israel dan pangkalan Amerika Serikat di Teluk. Teheran menyatakan bahwa seluruh aset AS dan Israel di kawasan tersebut kini menjadi target militer yang sah.
Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran akan memberikan pelajaran besar bagi Amerika dan Israel. Pernyataan ini mempertegas posisi Iran yang tidak akan mundur dari konfrontasi bersenjata ini.
Pemerintah Bahrain mengonfirmasi bahwa serangan Iran menghantam pangkalan angkatan laut AS yang merupakan markas Armada Kelima. Sementara itu, Uni Emirat Arab berhasil mencegat rudal Iran, meski serpihannya menewaskan satu warga negara asing di Abu Dhabi.
Di wilayah Yordania, militer melaporkan telah menembak jatuh dua rudal balistik yang melintasi wilayah udara mereka. Suara ledakan pencegatan rudal dilaporkan terdengar jelas di sepanjang perbatasan, menciptakan ketegangan di negara-negara tetangga.
Kegagalan Diplomasi dan Seruan Internasional
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa serangan ini menghantam infrastruktur pertahanan serta situs-situs sipil di berbagai wilayah. Mereka mengecam serangan tersebut karena terjadi saat proses negosiasi diplomatik sedang berlangsung di Oman.
Menteri Luar Negeri Oman diketahui baru saja terbang ke Washington untuk memberikan laporan mengenai kemajuan pembicaraan tidak langsung tersebut. Teheran kini mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera mengadakan pertemuan darurat guna membahas agresi ini.
Presiden AS Donald Trump, dalam pidato videonya, mengumumkan dimulainya operasi tempur besar-besaran terhadap rezim Iran. Ia menyerukan kepada rakyat Iran untuk bangkit dan mengambil alih pemerintahan mereka saat operasi militer selesai.
Meskipun ada ketakutan, beberapa penduduk Teheran yang menentang rezim menyuarakan harapan akan jatuhnya kepemimpinan Islam saat ini. Namun, masa depan politik Iran tetap tidak pasti karena absennya figur pengganti yang memiliki dukungan luas di dalam negeri.
Ditulis oleh: Putri Permata
