Mengapa AS Menyerang Iran? Simak Fakta Terbaru Operasi Epic Fury
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan dimulainya operasi tempur besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari waktu setempat. Serangan ini melibatkan mobilisasi kekuatan militer Amerika terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak tahun 2003 silam.
Langkah militer ini diambil setelah Trump secara terbuka menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan mereka saat ini. Ledakan dilaporkan terjadi di ibu kota Teheran serta setidaknya lima kota besar lainnya di seluruh penjuru Iran.
Kronologi Operasi Epic Fury dan Roaring Lion
Pentagon memberi nama sandi serangan ini sebagai "Epic Fury", sementara militer Israel menyebutnya sebagai operasi "Roaring Lion". Israel tercatat sebagai pihak yang memulai serangan awal sebelum akhirnya bergabung dengan kekuatan militer Amerika Serikat.
Ledakan pertama di Teheran dilaporkan terjadi pada dini hari waktu Pantai Timur AS, atau bertepatan dengan waktu tengah pagi di Iran. Tak butuh waktu lama bagi Iran untuk segera melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan militer di kawasan tersebut.
Iran mulai meluncurkan rudal-rudal ke arah Israel dan mencoba menyerang fasilitas militer AS di Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Beberapa negara melaporkan bahwa sebagian besar rudal tersebut berhasil dicegat sebelum mencapai target utama mereka.
Dampak Serangan dan Laporan Korban Jiwa
Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab melaporkan satu warga sipil tewas akibat jatuhnya puing-puing rudal yang berhasil diintersepsi. Hingga saat ini, jumlah pasti total korban jiwa dari kedua belah pihak masih terus diperbarui oleh otoritas terkait.
Media pemerintah Iran melaporkan sebuah insiden tragis di mana 36 anak perempuan tewas setelah rudal menghantam sebuah sekolah di Minab. Namun, laporan mengenai korban di wilayah Iran bagian barat tersebut masih belum dapat diverifikasi secara independen oleh pihak internasional.
Alasan di Balik Keputusan Donald Trump
Gedung Putih menyatakan bahwa peningkatan tekanan terhadap Iran sudah direncanakan selama berbulan-bulan akibat ketidakpuasan terhadap kebijakan diplomatik. Trump menyoroti tindakan keras otoritas Iran terhadap pengunjuk rasa pada Desember tahun lalu serta kebuntuan kesepakatan nuklir.
Beberapa pakar keamanan nasional mempertanyakan logika strategis di balik serangan ini dibandingkan dengan sikap tegas Israel. Bagi Israel, Iran dianggap sebagai ancaman eksistensial karena ancaman berulang untuk memusnahkan negara tersebut dari peta dunia.
Nate Swanson, mantan penasihat Gedung Putih, menilai Trump ingin menunjukkan kekuatan militer AS dan memperkuat posisi negosiasinya. Swanson menulis dalam majalah Foreign Affairs bahwa strategi ini bertujuan membedakan pendekatan Trump dengan kebijakan Presiden Barack Obama.
Target Strategis dan Kekhawatiran Perang Regional
Serangan gabungan ini menyasar lokasi-lokasi yang terkait dengan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian di Teheran. Media Iran mengonfirmasi bahwa Presiden Pezeshkian dalam kondisi aman, namun keberadaan Khamenei hingga kini belum diketahui secara pasti.
Sejarah mencatat bahwa pada Juni 2025, Trump juga pernah mengizinkan operasi "Midnight Hammer" yang menghancurkan fasilitas nuklir Iran. Operasi 12 hari tersebut melibatkan 125 pesawat militer dan menargetkan fasilitas di Fordo, Natanz, serta Isfahan.
Trita Parsi dari Quincy Institute memperingatkan bahwa serangan terbaru ini dapat memicu perluasan perang yang sangat kacau di Timur Tengah. Risiko perluasan konflik multifront dapat membahayakan ribuan pasukan AS yang ditempatkan di berbagai pangkalan militer di kawasan tersebut.
Trump menegaskan komitmennya untuk menghancurkan kemampuan rudal Iran dan memastikan negara tersebut tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Operasi militer ini diperkirakan akan terus berlanjut selama beberapa hari ke depan sesuai dengan perkembangan situasi di lapangan.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa nama operasi militer yang diluncurkan AS dan Israel?
AS menamakan operasinya 'Epic Fury', sementara Israel menggunakan nama sandi 'Roaring Lion'.
Mengapa Trump memutuskan untuk menyerang Iran?
Alasannya meliputi ketidakpuasan terhadap tindakan keras Iran pada pengunjuk rasa, kegagalan kesepakatan nuklir, dan upaya menekan Iran agar menyetujui perjanjian baru.
Di mana lokasi ledakan yang dilaporkan di Iran?
Ledakan terpantau di ibu kota Teheran dan setidaknya lima kota lain di seluruh Iran, termasuk laporan serangan di Minab.
Apa dampak regional dari serangan ini?
Iran meluncurkan serangan balasan ke Israel dan target fasilitas AS di Bahrain, Qatar, serta UEA, yang memicu kekhawatiran akan perang regional yang lebih luas.
Ditulis oleh: Doni Saputra