Krisis Air Bersih Aceh Tamiang: Tantangan Sanitasi Pascabanjir 2026

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Hampir tiga bulan telah berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor hebat menerjang wilayah Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025 silam. Namun, memasuki bulan Februari 2026, sejumlah desa masih terjebak dalam krisis mendasar terkait akses air bersih dan fasilitas sanitasi yang layak.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal memperbaiki bangunan fisik, tetapi juga memulihkan sistem pendukung kehidupan yang paling krusial. Warga di beberapa titik terdampak terpaksa beradaptasi dengan keterbatasan yang mengancam kesehatan jangka panjang mereka sehari-hari.
Kondisi Memprihatinkan di Desa Sulum Kecamatan Sekerak
Salah satu wilayah yang mengalami dampak paling serius dan belum pulih sepenuhnya adalah Desa Sulum yang terletak di Kecamatan Sekerak. Hingga pertengahan Februari 2026, laporan lapangan menunjukkan bahwa warga setempat masih sangat bergantung pada aliran sungai untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Berdasarkan informasi yang dibagikan oleh relawan melalui akun Instagram @ria.audinaa pada Sabtu (21/2/2026), situasi di lokasi tersebut digambarkan masih sangat memprihatinkan. Relawan menyebutkan bahwa masyarakat tidak memiliki pilihan lain selain mengambil air langsung dari sungai yang kondisinya masih sangat keruh.
Air sungai yang berwarna coklat pekat tersebut disedot menggunakan mesin pompa sederhana untuk kemudian ditampung di wadah-wadah besar milik warga. Penggunaan air permukaan yang belum diolah ini mencakup segala aktivitas mulai dari mandi, mencuci, memasak, hingga untuk dikonsumsi sebagai air minum.
Untuk meminimalisir kandungan lumpur, warga biasanya menerapkan teknik sedimentasi sederhana dengan mendiamkan air selama beberapa jam hingga endapan kotoran turun ke dasar wadah. Meskipun secara kasat mata air terlihat lebih jernih setelah didiamkan, parameter keamanan biologis dan kimiawi air tersebut tetap tidak terjamin bagi kesehatan.
Bahaya Sanitasi Buruk dan Risiko Penyakit
Selain persoalan kualitas air baku, fasilitas sanitasi seperti jamban atau WC yang layak juga menjadi barang langka di wilayah terdampak banjir Aceh Tamiang. Infrastruktur sanitasi yang rusak diterjang banjir bandang menyebabkan warga kesulitan mengakses tempat pembuangan limbah manusia yang higienis dan tertutup.
Kondisi lingkungan yang masih tertimbun endapan lumpur sisa banjir juga memperparah risiko penyebaran penyakit berbasis air atau waterborne diseases. Lumpur yang belum sepenuhnya dibersihkan dari pemukiman warga dapat menjadi sarang kuman dan bakteri patogen jika bersentuhan dengan sumber air warga.
Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia merupakan pihak yang paling berisiko mengalami gangguan kesehatan serius akibat krisis air dan sanitasi ini. Penyakit seperti diare, kolera, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat debu lumpur yang mengering mulai membayangi kehidupan masyarakat setiap harinya.
Hingga saat ini, bantuan air bersih dalam bentuk kemasan atau tangki untuk konsumsi dilaporkan masih sangat minim dan belum menjangkau seluruh lapisan warga. Ketimpangan distribusi bantuan ini membuat warga di pelosok seperti Desa Sulum merasa tertinggal dalam proses pemulihan bencana yang sedang berjalan.
Tantangan Teknis Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)
Menanggapi situasi krisis ini, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Tamiang menyatakan bahwa pihaknya terus berupaya melakukan langkah-langkah percepatan perbaikan. Fokus utama tim teknis saat ini adalah memperbaiki jaringan transmisi air yang mengalami kerusakan masif akibat pergeseran tanah dan hantaman banjir.
Pihak PDAM mengakui bahwa tingkat kekeruhan atau turbiditas air sungai di Aceh Tamiang saat ini masih berada di atas ambang batas normal pengolahan standar. Tingginya kadar partikel terlarut dalam air baku menyulitkan proses filtrasi dan koagulasi di instalasi pengolahan air (IPA) milik pemerintah daerah.
Apa Itu Tingkat Kekeruhan Air (Turbiditas)?
Dalam istilah teknis, kekeruhan atau turbiditas adalah ukuran kejernihan suatu cairan yang disebabkan oleh banyaknya partikel halus yang tersuspensi di dalamnya. Partikel ini bisa berupa tanah liat, lumpur, bahan organik mikro, hingga organisme mikroskopis yang terbawa arus sungai akibat erosi di hulu.
Tingginya turbiditas tidak hanya membuat air tampak kotor, tetapi juga dapat melindungi mikroba berbahaya dari proses desinfeksi atau pemberian kaporit. Oleh karena itu, pengolahan air sungai yang sangat keruh memerlukan biaya bahan kimia yang lebih besar dan waktu pemrosesan yang jauh lebih lama.
Harapan Pemulihan dan Masa Depan Infrastruktur
Aceh Tamiang tercatat sebagai salah satu kabupaten dengan tingkat kerusakan terparah di Provinsi Aceh akibat fenomena cuaca ekstrem pada pengujung tahun 2025. Meluapnya sungai-sungai utama akibat curah hujan yang melampaui kapasitas serapan tanah telah mengakibatkan ribuan warga kehilangan akses terhadap infrastruktur dasar.
Proses pembersihan lumpur di rumah-rumah warga saat ini memang dilaporkan berjalan secara bertahap, namun membutuhkan dukungan alat berat yang lebih masif. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta sangat diperlukan agar masa krisis air bersih ini tidak berlarut-larut lebih lama lagi.
Krisis di Aceh Tamiang ini menjadi pelajaran berharga mengenai pentingnya membangun infrastruktur air bersih yang tahan terhadap bencana atau disaster resilient. Di masa depan, diperlukan sistem cadangan air bersih dan perlindungan tanggul yang lebih kuat agar kejadian serupa tidak melumpuhkan kehidupan warga secara total.
Masyarakat kini hanya bisa berharap agar tim percepatan dari PDAM dan dinas terkait dapat segera memulihkan aliran air bersih ke rumah-rumah. Tanpa intervensi yang cepat, krisis air dan sanitasi ini berpotensi menjadi bencana kesehatan baru yang menghambat kebangkitan ekonomi warga pascabanjir.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Mengapa warga Desa Sulum masih krisis air bersih meski banjir sudah lewat 3 bulan?
Hal ini disebabkan oleh rusaknya infrastruktur jaringan transmisi air PDAM dan tingginya tingkat kekeruhan air sungai yang menjadi sumber air baku, sehingga air tidak dapat diolah secara normal.
Apa risiko kesehatan yang muncul akibat menggunakan air sungai keruh?
Penggunaan air sungai yang terkontaminasi lumpur tanpa pengolahan yang benar berisiko menyebabkan penyakit diare, infeksi kulit, kolera, dan gangguan pencernaan lainnya.
Bagaimana cara warga mengolah air sungai tersebut secara mandiri?
Warga umumnya menggunakan teknik sedimentasi atau pengendapan, yaitu mendiamkan air di dalam wadah penampung hingga lumpur mengendap di dasar sebelum digunakan.
Apa langkah yang diambil PDAM Tirta Tamiang saat ini?
PDAM telah membentuk tim percepatan untuk memperbaiki jaringan transmisi yang rusak dan berupaya menangani tingginya tingkat kekeruhan pada sumber air baku sungai.
Ditulis oleh: Doni Saputra