Inisiatif Warga Desa Sijudo Aceh Timur Membangun Huntara Mandiri Pascabanjir Bandang

Table of Contents
RRI.co.id - Warga Desa Sijudo Aceh Timur Bangun Huntara Secara Mandiri
Inisiatif Warga Desa Sijudo Aceh Timur Membangun Huntara Mandiri Pascabanjir Bandang

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Warga Desa Sijudo di Kabupaten Aceh Timur menunjukkan ketangguhan luar biasa dengan mulai membangun Hunian Sementara (Huntara) secara mandiri pascabencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut. Langkah proaktif ini diambil oleh penduduk Dusun Ranto Panyang Rubek sebagai respons atas kondisi tempat tinggal yang hancur total akibat terjangan air bah pada akhir November 2025 lalu.

Bencana banjir bandang merupakan fenomena alam di mana debit air meningkat secara drastis dan tiba-tiba, seringkali membawa material lumpur serta kayu-kayu besar dari hulu sungai. Dalam peristiwa tragis di Aceh Timur ini, puluhan rumah warga tersapu arus hingga mengakibatkan puluhan kepala keluarga kehilangan tempat bernaung dalam sekejap mata.

Dampak Masif Banjir Bandang di Dusun Ranto Panyang Rubek

Berdasarkan data faktual yang dihimpun di lapangan, terdapat sedikitnya 46 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak secara langsung oleh musibah banjir bandang di Dusun Ranto Panyang Rubek. Dari total jumlah tersebut, tercatat 32 unit rumah warga dinyatakan hilang atau rusak berat hingga tidak lagi dapat dihuni oleh pemiliknya.

Kehilangan rumah bukan sekadar kehilangan fisik bangunan, melainkan juga hilangnya rasa aman dan kenyamanan yang selama ini menjadi pondasi kehidupan berkeluarga. Hingga memasuki bulan Februari 2026, sebagian besar korban masih terpaksa bertahan di dalam tenda-tenda pengungsian dengan fasilitas yang sangat terbatas dan minim privasi.

Mengenal Konsep Huntara dan Urgensinya bagi Korban Bencana

Hunian Sementara atau sering disingkat Huntara adalah bangunan tempat tinggal yang diperuntukkan bagi korban bencana dalam masa transisi sebelum mereka mendapatkan Hunian Tetap (Huntap). Struktur ini dirancang untuk memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan tenda darurat, terutama dalam menghadapi cuaca ekstrem seperti hujan lebat atau panas terik.

Pembangunan Huntara menjadi prioritas utama karena tenda pengungsian biasanya memiliki sirkulasi udara yang buruk dan tidak memadai untuk aktivitas domestik jangka panjang. Dengan adanya Huntara yang layak, warga dapat mulai menata kembali kehidupan sosial dan ekonomi mereka sembari menunggu proses pemulihan wilayah pascabencana secara menyeluruh.

Aksi Mandiri Memanfaatkan Kayu Sisa Banjir

Kepala Dusun Ranto Panyang Rubek, Mujahidin, mengonfirmasi bahwa saat ini sekitar 20 KK telah memulai proses pembangunan Huntara secara mandiri menggunakan sumber daya yang tersedia. Alih-alih hanya menunggu bantuan datang, warga secara kreatif mengumpulkan kembali kayu-kayu sisa banjir yang sempat terseret arus untuk dijadikan kerangka bangunan.

Kayu-kayu tersebut dibersihkan dan dipilah berdasarkan kekuatannya, kemudian dirakit menjadi dinding serta tiang penyangga hunian yang lebih kokoh daripada kain terpal. Strategi ini dianggap sebagai bentuk adaptasi lingkungan di mana limbah bencana diubah menjadi material konstruksi yang bermanfaat untuk keberlangsungan hidup masyarakat desa.

Pemanfaatan Seng Terbelah untuk Atap Perlindungan

Selain kayu, warga juga berupaya memanfaatkan lembaran-lembaran seng yang ditemukan dalam kondisi rusak atau terbelah akibat terjangan banjir bandang tahun lalu. Meskipun kondisinya tidak lagi sempurna, seng tersebut tetap difungsikan sebagai atap untuk melindungi keluarga dari paparan sinar matahari dan air hujan selama berada di dalam Huntara.

Dampak Masif Banjir Bandang di Dusun Ranto Panyang Rubek

Mujahidin menjelaskan bahwa warga lebih memilih berupaya sendiri daripada terus-menerus terpapar kondisi serba terbatas di dalam tenda pengungsian yang semakin tidak layak huni. Penggunaan material bekas ini menjadi bukti nyata semangat gotong royong dan kemandirian masyarakat Desa Sijudo di tengah himpitan ekonomi pascabencana.

Tantangan Menjelang Bulan Suci Ramadan

Ketegasan warga untuk membangun Huntara mandiri pada Minggu, 22 Februari 2026, juga didorong oleh keinginan untuk menyambut bulan suci Ramadan dengan lebih bermartabat. Menjalankan ibadah puasa di dalam tenda pengungsian yang sempit dan panas tentu akan menjadi tantangan berat bagi aspek fisik maupun psikologis para korban banjir.

Dengan adanya hunian yang lebih tertutup, keluarga dapat menyiapkan sahur dan berbuka puasa dengan kondisi sanitasi yang lebih terkontrol dibandingkan di area pengungsian massal. Kebutuhan akan privasi saat beribadah menjadi salah satu alasan kuat mengapa pembangunan hunian sementara ini dipercepat secara swadaya oleh masyarakat setempat.

Menanti Kepastian Janji Pemerintah Terkait Bantuan

Pihak dusun mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai bantuan Huntara resmi yang sebelumnya sempat dijanjikan oleh otoritas terkait. Ketidakpastian jadwal pembangunan bantuan pemerintah membuat warga merasa perlu mengambil langkah penyelamatan diri sendiri agar tidak berlarut-larut dalam penderitaan di pengungsian.

Warga berharap agar pemerintah tidak melupakan komitmen mereka untuk memberikan bantuan perumahan yang lebih permanen dan layak bagi masyarakat yang kehilangan asetnya. Sambil menunggu janji tersebut terealisasi, keberadaan Huntara mandiri ini menjadi jembatan agar roda kehidupan warga Sijudo tetap bisa berputar meskipun dalam keterbatasan.

Analogi Ketangguhan Masyarakat di Tengah Krisis

Dapat dianalogikan bahwa aksi warga Desa Sijudo ini seperti seseorang yang berusaha menambal perahu bocor di tengah laut tanpa menunggu kapal penyelamat datang. Mereka memahami bahwa bertahan hidup memerlukan aksi nyata sesegera mungkin guna meminimalisir risiko kesehatan dan sosial yang lebih besar di masa depan.

Keberanian untuk memanfaatkan sisa-sisa reruntuhan menjadi rumah baru mencerminkan filosofi bahwa harapan selalu bisa dibangun kembali dari puing-puing kehancuran. Fenomena ini juga menjadi pengingat bagi para pemangku kebijakan tentang pentingnya percepatan birokrasi dalam penyaluran bantuan kemanusiaan di zona merah bencana.

Kesimpulan dan Harapan Masa Depan

Pembangunan Huntara mandiri di Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, adalah potret nyata kemandirian masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan bencana alam. Sebanyak 20 KK telah membuktikan bahwa keterbatasan material bukan penghalang untuk menciptakan tempat tinggal yang lebih layak daripada sekadar tenda darurat.

Dukungan dari pemerintah daerah dan pusat tetap sangat dinantikan guna memastikan warga Dusun Ranto Panyang Rubek mendapatkan Hunian Tetap yang aman dari ancaman banjir di masa mendatang. Semoga langkah mandiri ini menjadi inspirasi sekaligus pemantik bagi pihak berwenang untuk segera merealisasikan janji bantuan yang telah dinanti oleh warga sejak akhir tahun 2025.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Berapa banyak rumah warga yang hilang akibat banjir bandang di Desa Sijudo?

Berdasarkan data dari Kepala Dusun Mujahidin, terdapat 32 unit rumah yang hilang dari total 46 kepala keluarga yang terdampak banjir bandang.

Mengapa warga Desa Sijudo memilih membangun Huntara secara mandiri?

Warga memilih membangun sendiri karena belum ada kejelasan mengenai bantuan Huntara yang dijanjikan pemerintah, sementara kondisi di tenda pengungsian sudah tidak layak, terutama menjelang bulan puasa.

Material apa yang digunakan warga untuk membangun hunian sementara tersebut?

Warga memanfaatkan kayu sisa banjir yang terseret arus dan menggunakan seng-seng yang terbelah untuk dijadikan atap bangunan.

Kapan bencana banjir bandang tersebut melanda Aceh Timur?

Bencana banjir bandang yang berdampak pada warga Desa Sijudo terjadi pada akhir bulan November tahun 2025.



Ditulis oleh: Siti Aminah

Baca Juga

Loading...