Ancaman Penutupan Selat Hormuz Pasca Serangan Israel-AS ke Iran
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Amerika Serikat (AS) bersama Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2). Insiden ini terjadi hanya dua hari setelah delegasi Teheran dan Washington menyelesaikan putaran ketiga perundingan nuklir di Swiss.
Serangan tersebut memicu kembali kekhawatiran global mengenai penutupan Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran sebagai instrumen tekanan geopolitik. Jalur perairan sempit ini merupakan koridor energi paling vital yang menghubungkan produsen minyak Teluk dengan pasar internasional.
Signifikansi Strategis Selat Hormuz bagi Dunia
Selat Hormuz memiliki lebar hanya sekitar 50 kilometer dengan kedalaman perairan dangkal yang tidak lebih dari 60 meter. Kondisi geografis ini membuat wilayah tersebut sangat rentan terhadap blokade militer secara efektif oleh angkatan laut Iran.
Wilayah ini dikelilingi oleh pulau-pulau strategis seperti Hormuz, Qeshm, dan Larak, serta pulau sengketa Greater Tunb, Lesser Tunb, dan Abu Musa. Kehadiran pulau-pulau tersebut memberikan titik pandang militer yang dominan bagi Iran atas lalu lintas kapal tanker.
Menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA), sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati selat ini setiap harinya. Pada tahun 2024, rata-rata volume pengiriman mencapai 20 juta barel minyak dan produk petroleum per hari.
Selain minyak, seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) dunia, terutama dari Qatar, juga melintasi jalur ini. Hal ini menjadikan Selat Hormuz sebagai titik nadi yang menentukan stabilitas harga energi di Asia, Eropa, hingga Amerika Utara.
Dampak Penutupan Bagi Pasar Asia
Firma analisis Kpler melaporkan bahwa lebih dari 80 persen komoditas energi yang melewati selat ini ditujukan untuk pasar Asia. China menjadi negara yang paling terdampak karena membeli lebih dari 90 persen total ekspor minyak milik Iran.
Meskipun Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki infrastruktur pipa alternatif, kapasitas transitnya masih sangat terbatas. Jalur alternatif tersebut hanya mampu mengalirkan sekitar 2,6 juta barel per hari, jauh di bawah volume total yang melintasi selat.
Sejarah Konflik dan Risiko Eskalasi
Ketegangan di selat ini bukanlah hal baru, mengingat memori "Perang Tanker" pada tahun 1984 yang merusak lebih dari 500 kapal. Insiden tragis juga tercatat pada 1988 ketika pesawat sipil Iran Air ditembak jatuh oleh kapal perang AS, menewaskan 290 orang.
Hingga saat ini, Garda Revolusi Iran terus melakukan patroli ketat dan seringkali melakukan penyitaan kapal asing. Pada April 2024, mereka menyita kapal kontainer MSC Aries karena tuduhan keterkaitan dengan pihak Israel di perairan tersebut.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Berapa banyak minyak yang melewati Selat Hormuz setiap hari?
Sekitar 20 juta barel minyak dan produk petroleum per hari melintasi Selat Hormuz pada tahun 2024, yang mewakili seperlima konsumsi minyak global.
Negara mana yang paling terdampak jika Selat Hormuz ditutup?
Pasar Asia adalah yang paling terdampak, terutama China yang mengimpor lebih dari 90 persen ekspor minyak Iran melalui jalur tersebut.
Apa alternatif selain melewati Selat Hormuz?
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki pipa darat untuk mengalihkan pengiriman, namun kapasitasnya hanya sekitar 2,6 juta barel per hari, tidak cukup untuk menggantikan peran total selat.
Ditulis oleh: Rizky Ramadhan
