BATAM KEPRI

Ratusan Pedagang Kaki Lima Kuasai Jalan Umum di Jodoh

BATAM, RAKYATMEDIAPERS.CO.ID-Di saat ibukota negara, Jakarta, perlahan-lahan berhasil menata kawasan Pedagang Kaki Lima (PKL) Tanah Abang, hal sebaliknya justru terjadi di Batam. Bagaimana tidak, jalanan di sepanjang kawasan Ramayana, Jodoh hingga pasar Tos 3000 yang seharusnya menjadi tempat lalu lintas kendaraan, malah sudah beralih fungsi menjadi lapak bagi Pedagang Kaki Lima (PKL).

Para pedagang baju seken menjamur memadati jalanan umum tersebut. Parahnya lagi, dua jalur jalanan, dipakai secara paksa oleh pedagang-pedagang tersebut untuk menjajakan dagangannya. Jangankan kendaraan beroda empat atau roda dua, untuk manusia berjalan kaki di lokasi itupun sudah terasa sesak.

“Sekarang kalau mau belanja ke dalam pasar Samarinda sudah susah kalau naik motor lewat Panaroma Hotel. Terpaksa harus mutar jalan. Atau sekalian jalan kaki dari ujung sini sampai ke sana,” ungkap Suratman, salah seorang warga yang sedang melintas, belum lama ini.

Menurut keterangan pria itu, kondisi ini baru-baru saja menjadi parah seperti sekarang. Diakuinya, dulu PKL pun sering membuka lapaknya di jalan, namun tidak seramai saat ini dan hampir memakan seluruh badan jalan.”Dulu paling tukang sayur aja yang sampai ke jalan. Itupun cuma yang bagian depan tos 3000 saja. Kalau yang seken-seken ini paling hari Minggu baru tumpah ruah. Sekarang, setiap hari mereka dagang dan meluap di jalan,” kesalnya lagi.

Tidak tahu pasti siapa yang memulai inisiatif untuk berdagang di sepanjang ruas jalan itu, namun berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun, untuk berdagang di sana para PKL tidak sembarangan mendapatkan tempat.

Mereka bahkan harus mengeluarkan kocek hingga jutaan rupiah untuk dapat menjajakan dagangannya. “Susah cari lapak di sini lagi. Semua sudah ada yang punya,” ujar Nurma salah seorang pedagang baju seken di lokasi.

Sambil melipat-lipat pakaian bekas dagangannya, wanita yang mengenakan masker penutup mulut itu menyebutkan bahwa untuk mendapatkan lapak, pedagang harus berani mengeluarkan uang Rp 3 juta hingga Rp4 juta rupiah.

Meski begitu, ia tak tahu pasti, siapa oknum yang telah memperjualbelikan jalanan umum itu sebagai lapak pedagang.”Nggak tahu saya kalau itu. Ada juga yang beli sama pemilik lamanya. Kayak ini saya beli Rp 4 juta dulu sama yang pemilik awal. Dulu dagang juga, tapi habis itu mau pulang kampung katanya. Makanya dijual ke saya,” ungkapnya.

Cukup sekali bayar, kata Nurma, dirinya sudah boleh memiliki lapak itu sampai selama-lamanya.”Yah sampai kita bosan dan nggak mau dagang lagi. Setiap hari buka, dari pagi jam tujuh sampai siang jam dua belasan kami tutup,” terangnya.

Tak cuma itu, setiap harinya pedagang kaki lima itupun masih dibebankan biaya kebersihan. Untuk itu masing-masing mereka harus mengeluarkan uang Rp 2.000 per hari.”Selain uang kebersihan yang kami keluarkan, uang keamanan dan kami juga dikutip uang ritribusi oleh petuas dari kelurahan, kata mereka.

Pantauan media ini dilapangan, sedikitnya rausan lapak pedagang kaki lima yang berjualan diatas badan jalan dari mulai depan Ramayana hingga simpang tiga depan hotel. Selain pedagang baju-baju seken, berbagai dagangan dijual dilokasi tersebut. Seperti pedagang kaset vcd bajakan, tas dan sepatu dan berbagai dagangan lainnya.

Selain Jodoh, kawasan Jodoh Boulevard yang dibangun tahun 2007 di kawasan Tanjungpantun, Jodoh, dulunya diharapkan menjadi ikon Batam dengan kawasan taman untuk rekreasi keluarga di pusat kota. Tetapi kini sangat kumuh, banyak pedagang kaki lima (PKL), dipenuhi sampah, bahkan menjadi tempat judi dan transaksi prostitusi.“Tujuan awal menjadi wajah kota Batam. Tapi sekarang amburadul tak terurus dan sudah tak nyaman lagi,” kata anggota Komisi III DPRD Batam, Rohaizat, kepada wartawan belum lama ini.

Menurut Rohaizat, anggaran untuk membangun Jodoh Boulevard di Tanjungpantun pun tak sedikit. Anggaran sebesar Rp 3,2 miliar di ambil dari APBD kota Batam waktu itu. Termasuk juga bantuan tambahan anggaran dari provinsi Kepulauan Riau (Kepri).“Ini yang sangat kita sayangkan, anggaran besar tak sesuai kenyataan,” tuturnya.

Wakil Rakyat dari daerah pemilihan (Dapil) Lubukbaja itu menambahkan, Jodoh Boulevard dibangun dengan luas 50×750 meter dimana konsep awal taman bermain dan arena rekreasi bersama keluarga. Tahun 2016 dianggarkan dan pada tahun 2008 baru mulai dioperasikan.“Saya lihat pembangunannya tak sesuai tujuan awal,” kata Rohaizat.

Bahkan kawasan ini sudah dipenuhi pedagang kaki lima yang menyebabkan beberapa hotel dan ruko yang ada di daerah tersebut gulung tikar. “Tak ada pengawasan, kios-kios liar dibiarkan berdiri hingga menjamur seperti yang terjadi saat ini,” kata Rohaizat.

Rohaizat menambahkan, dari hasil pembicaraan dengan Wali Kota Batam, Muhammad Rudi sempat disinggung tentang Jodoh Boulevard. Namun bagimana nasibkan apakah ditata ulang lagi atau dikembalikan ke bentuk semula belum ada keputusan pasti dari pemerintah daerah.“Ya harapan kita dikembalikan ke tujuan awalnya. Kalau memang untuk taman bermain, buatlah taman bermain, jangan malah jadi ajang perjudian dan prostisusi,” tutur dia.

Dewan sendiri, lanjutnya meminta pemerintah kota agar secepatnya menanggapi kawasan Jodoh Boulevard ini. Bila memang mau ditata ulang kembali, DPRD sendiri siap menganggarkan di APBD Perubahan 2017 nanti. Komitmen yang kuat diminta dari sekarang.“Karena kalau dibiarkan seperti ini, image Batam sendiri bakal hilang. Dan ternyata sampai sekarang belum pernah dianggarkan untuk ditata ulang kembali,” lanjutnya.

Sukaryo, anggota Komisi I DPRD Batam menilai, butuh upaya yang serius untuk menata ulang kembali Jodoh Boulevard.“Sampai sekarang masih menjadi pertanyaan kami di dewan. Kenapa program ini berhenti dan tidak ada kejelasan sampai sekarang,” katanya.

Keseriusan menjalankan program ini juga menjadi tanggungjawab pemerintah kota Batam. Harus ada evaluasi dan keseriusan.“Pemko Batam jangan setengah-setengah membangun Jodoh Boulevard ini. Karena penggunaan anggaran wajib dipertanggungjawabkan,” katanya.

Melihat dia kawasan yang saat ini sudah dikuasai oleh para pedagang kaki lima, Wali kota Batam, Muhammad Rudi, terkesan membiarkan kawasan tersebut menjadi kumuh dan sehingga jalan umum yang semestinya untuk lalu lalang kenderaan saat ini di padati pedagang kaki lima. Padahal sudah lama rencana Pemko Batam akan merelokasi pedagang tersebut ke tempat lain.

Hingga saat ini belum ada rencana Pemerintah Kota Batam untuk melakukan penggusuran pedagang kali lima di Kawasan Jodoh tersebut. Sementara pedagang kaki lima setiap hari justru bertambah jumlahnya. Celakanya lagi, ada sejumlah oknum yang memperjual belikan lapak pedagang kaki lima di jalan umum tersebut dengan harga Rp3 sampai 4 juta.(rm/mawardi).

Komentar

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Related posts

23 Perusahaan Asing di Batam Tutup

Gunawan ramadhan

Notaris Tipu Klien Tak Tersentuh Hukum

Gunawan ramadhan

Disprindag Kota Batam Kecewa Berat Pertamina Ogah Komunikasi Soal Pangkalan Gas Melon

Gunawan ramadhan