KARIMUN KEPRI KESEHATAN

Kapolres Karimun Beri Bantuan Pengobatan Tumor Otak

KARIMUN – RAKYATMEDIAPERS.CO.ID-Kondisi Elandra Dwiguna (23) yang mengidap tumor otak sungguh sangat memprihatinkan. Badannya tinggal kulit pembalut tulang dan hanya bisa terbaring lemah.  Penyakit itu telah diidapnya satu tahun belakangan ini. Namun, kondisinya semakin parah dalam tiga bulan terakhir.

Ironisnya, ayah Elandra, Eli Kristianto (59), penjaga musala di Karimun, harus nekat menjual ginjal demi bisa mendapatkan uang untuk mengobati sang anak. Eli menjajakan ginjalnya di depan Pelabuhan Karimun.

Setelah pemberitaan mengenai Eli yang akan menjual ginjal gencar, bantuan pun berdatangan. Salah satu anggota DPRD Karimun, Nyimas Novi membawa Elandra yang tergolek lemas ke RSUD HM Sani.

Tidak terkecuali, Kapolres Karimun, AKBP Hengky Pramudya, begitu mendapat kabar adanya warga Karimun yang hendak menjual ginjal demi mendapatkab biaya pengobatan anaknya, langsung merespon.

Kapolres yang dikenal memiliki jiwa solidaritas dan dekat dengan pekerja media langsung turun bersama jajarannya ke RSUD HM Sani untuk melihat kondisi Elandra sekaligus memberikan bantuan.”Saya dapat kabar pas lagi di Batam. Sampai di Karimun langsung menuju ke sini (rumah sakit) untuk melihat kondisi adek kita,” ujar Hengky, Sabtu (29/6/2019).

Hengky sempat tertegun saat masuk ke dalam ruangan. Sementara, Kasat Reskrim AKP Lulik Febyantara dan Rumpun Perhimpunan Melayu Raya juga hanya terlihat terdiam sambil memandang kondisi Elandra Dwiguna yang terbaring lemah.

 

Sementara itu, Eli Kristianto dan istrinya meneteskan air mata. Dia hanya bisa menceritakan bagaimana kondisi anaknya yang tak kunjung sembuh.”Bapaknya kalut melihat kondisi anaknya yang sakit sehingga dia nekat melakukan hal itu (jual ginjal),” ucap Kapolres.

Kepada Hengky, Eli menceritakan, anaknya tersebut menderita penyakit tumor otak sejak satu tahun lalu. Anaknya sebelumnya pernah dirawat di rumah sakit beberapa hari, namun karena terkendala biaya, ia terpaksa dirawat di rumah sejak satu minggu belakangan ini.

Selain memberikan bantuan moril dan materi, Polres Karimun juga akan menguruskan BPJS untuk pengobatan Elandra.

Hengky juga menyebutkan kalau Polda Kepri juga akan membantu untuk pengobatan Elandra dan akan menurunkan tim Dokkes Polda Kepri untuk ikut menangani penyakit yang diderita Elandra.

Sebelumnya, akibat mahalnya biaya operasi tumor otak, membuat Eli Kristianto (59) nekat ingin menjual ginjalnya demi pengobatan anaknya. Hal itu dilakukannya setelah putus asa melihat kondisi anak laki-lakinya Landra Dwi Guna (23) yang semakin kritis karena penyakit tumor otak.

Upaya pengobatan telah dilakukan. Tapi, karena terkendala biaya, maka anaknya harus mendapat perawatan di rumah saja. Bahkan, hingga saat ini Eli masih ada tunggakan ke rumah sakit untuk biaya berobat sebesar Rp14 juta yang harus dibayar.”Sebulan ini anak saya keluar dari rumah sakit. Pihak rumah sakit menyuruh pulang,” ujarnya, Sabtu (29/6/2019).

Penyakit tumor tersebut, diderita oleh anaknya sejak satu tahun belakangan. Hal itu diketahui setelah rumah sakit melakukan diagnosa. Selain rumah sakit di Karimun, dia juga telah berupaya membawa anaknya ke rumah sakit di Batam. Lagi-lagi, biaya menjadi kendala pengobatan anaknya.

Keinginannya menjual ginjal tersebut sudah mantap. Bahkan, ia berdiri di depan Pelabuhan Karimun dengan menyandang sebuah poster kertas bertuliskan ‘Jual Ginjal, Saya Jual Ginjal Saya Untuk Pengobatan Anak Saya Sakit Tumor Otak’.

Berbagai upaya telah dilakukan demi kesehatan anaknya. Minta bantuan pemerintah melalui Dinas Kesehatan dan juga BPJS. Namun usaha itu belum membuahkan hasil berarti.

Bahkan, dia sampai saat ini tidak mengetahui jumlah biaya untuk operasi anaknya. Pihak Dinas Kesehatan hanya mengatakan kalau biaya operasi sangat membutuhkan biaya banyak.”Sudah minta bantuan ke Dinas Kesehatan Karimun dan Provinsi Kepri, tapi katanya biaya pengobatan terlalu besar dan tidak ada biaya sebanyak itu,” katanya kepada beberapa rekan media.

Untuk BPJS, dia juga telah melakukan pengurusan, namun entah kenapa tidak bisa. Eli sehari-hari berprofesi sebagaj penjaga mushala. Dia tidak memiliki pekerjaan lain, bahkan gaji bulanan juga tidak ada dia terima.”Saya bekerja dengan ikhlas, pagi-pagi sudah bangun dan azan. Ngaji tidak pakai kaset di mushala, tapi saya langsung ngaji sendiri,” ujarnya.

Editor  : Rudi Hartono

Komentar

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Related posts

Aunur Rafiq: Jangan Coba-coba Pakai Narkoba

Riski perdana

Proses Pembuatan Paspor di Imigrasi Kelas I Khusus Batam Diwarnai Dokumen Bodong Dan Pungutan Liar

Trianto

Malam Penutupan Festival Musik Band Anak Negeri Berlangsung Meriah

pimred pimred