EKONOMI NUSANTARA SULAWESI SULAWESI BARAT

Meski Keluar Dari Daerah Tertinggal, Ini Potret Kemiskinan di Mamasa

MAMASA, RAKYATMEDIAPERS.CO.ID–Di malam yang kelam, suasana kota Mamasa kian sepi, disaat semua orang tengah beristirahat di rumah melepas penat setelah bekerja disiang harinya. Namun kisah berbeda dialamai dua orang bocah yang masih berjualan hingga malam hari.

Kedua bocah itu kakak beradik. Jerry (12) yang masih duduk di bangku kelas satu SMP, dan adiknya Rian (11) masih duduk di bangku kelas enam SD. Keduanya adalah anak dari pasangan suami istri Joni dan Sondok langi, warga Desa Paladan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

Di bawah payung tenda, di sudut taman kota Mamasa, tepat di persimpangan pasar lama, keduanya masih bersemangat berdiri di depan meja kecil tempat jualan sayurnya bertumpuk menunggu konsumen, meski leleh terpancar dari kedua matanya. Mereka mulai berjualan sejak pulang dari sekolah hingga malam.

Dari hasil jualannya terkadang mereka mendapatkan uang sebanyak 100 sampai 200 ribu rupiah per harinya. “Tergantung pembeli kalau banyak ya biasa sampai 300 ribu rupiah, tapi rata-ratanya 100 sampai 200 ribu rupiah”, ujar Jerry, saat di jumpai Jumat 22 November 2019, tadi malam.

Tak hanya itu, saat Jerry ke sekolah ia pun mendorong gerobak yang berisi sayuran untuk di jual ke guru-guru nya dan warga sekitar sekolahnya demi menambah pemasukan untuk menopang biaya kehidupan. Ia adalah siswa SMP Frater Mamasa, salah satu sekolah swasta di Kabupaten Mamasa yang juga merupakan sekolah unggulan.

Hidup di bawah garis kemiskinan tak membuat semangat Jerry ini patah arang. Ia tak surut melangkah demi membantu keluarganya untuk kelangsungan hidup. Untuk sekolahnya, ia bebas biaya walaupun sekolah yang ia tumpangi adalah swasta. “Saya dilihat kepala sekolah dorong gerobak, jadi saya di panggil dan digratiskan melanjutkan sekolah saya”, ucapnya.

Mereka tinggal bertiga dengan ibunya. Ayah dan ibunya telah bercerai belum lama karena tersangkut kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), hingga ayahnya harus menjalani hari-harinya di dalam jeriji besi. “Ayah saya di penjara bulan lalu karena berkelahi dengan mama saya jadi sejak itu juga ayah dan mama saya cerai, jadi kami tinggal bertiga dirumah”, tuturnya sembari matanya memancarkan kesedihan yang mendalam.

Dari kisah dua bocah ini, menunjukkan bahwa masyarakat Kabupaten Mamasa, belum sepenuhnya mentas dari kemiskinan, meskipun telah lepas dari daerah tertinggal, namun, hal tersbeut merupakan salah satu potret kemiskinan di Kabupaten yang berjuluk Bumi Kondosapata ini.

PENULIS : WAHYUANDI

Komentar

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Related posts

Pemda Mamasa Sampaikan Nota Keuangan dan Rancangan APBD 2020 di Sidang Paripurna

pimred pimred

BC Tangkap KM Mawar Seludupkan 1,65 Juta Rokok Ilegal

pimred pimred

Tanggapan Imigrasi Belakang Tentang Berita Rakyat Media Terkait Proses Penerbitan Paspor Tri Andriana Bermasalah

pimred pimred