Warisan Seni Nasirun: Kolaborasi Seniman Nusantara dan Petani Garam Dasun Pecahkan Rekor Dunia
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Indonesia – Gagasan mendiang maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, untuk mengapresiasi kehidupan para petani garam di Dasun, Rembang, kini dilanjutkan melalui sebuah inisiatif kolaboratif monumental. Sebanyak 10 seniman terkemuka dari berbagai penjuru Nusantara akan bersinergi dengan 10 seniman sekaligus petani garam dari Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Proyek ini akan mewujudkan karya seni berskala besar berjudul “Lukisan Garam (meneruskan) Nasirun” yang direncanakan menjadi bagian dari Festival Garam Dasun 2026. Ambisi besar di balik karya ini adalah menciptakan lukisan garam terbesar di dunia, yang diharapkan melampaui rekor MURI “Bancaan Rupa” yang tercatat pada tahun 2023.
Perpaduan Syukur dan Realitas Kehidupan Petani Garam
Ketua Panitia Festival Garam Dasun 2026, Angga Hermansah, menjelaskan bahwa karya kolaboratif ini memiliki dua makna utama.
Pertama, sebagai bentuk ungkapan rasa syukur para petani garam atas mata pencaharian dan warisan hidup mereka di lingkungan tambak.
Kedua, karya seni ini akan menjadi medium penting bagi para petani untuk menyuarakan realitas serta tantangan yang mereka hadapi kepada publik luas.
“Lukisan garam ini sejatinya adalah ekspresi terima kasih para petani garam atas perjalanan hidup dan apa yang telah mereka warisi dari usaha tambak.
Namun, di saat yang bersamaan, karya ini juga berfungsi sebagai platform bagi mereka untuk mengkomunikasikan kondisi riil yang mereka alami kepada masyarakat,” ujar Angga dalam keterangannya pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Ia menambahkan bahwa karya ini tidak hanya menyajikan estetika visual, tetapi juga membuka ruang interaksi antara pengetahuan lokal, pengalaman hidup, rasa syukur, serta suara para petani garam.
Proses Seleksi Seniman dan Program Residensial Mendalam
Proses pemilihan 10 seniman yang akan terlibat telah melalui tahap open call yang diselenggarakan pada 9 hingga 25 September 2026. Dari ratusan portofolio yang diterima dari berbagai daerah, tim kurator dan panitia memilih para seniman dengan latar belakang yang beragam. Mereka meliputi praktisi seni dari komunitas akar rumput, akademisi seni, hingga seniman yang telah memiliki kiprah di kancah nasional maupun internasional. Keberagaman ini diharapkan dapat memperkaya perspektif dalam karya yang akan diciptakan.
Sebelum terjun langsung dalam proses penciptaan karya, para seniman terpilih akan mengikuti program residensi intensif di Desa Dasun selama empat hari, mulai dari 14 hingga 17 Oktober 2026.
Selama periode residensi, para seniman akan menginap di rumah-rumah warga setempat.
Tujuannya adalah agar mereka dapat memahami secara mendalam tentang seluk-beluk kehidupan, budaya, serta pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat petani garam.
Mereka akan diajak untuk mempelajari seluruh tahapan produksi garam, mulai dari penggaraman di tambak hingga garam siap dikonsumsi, serta mendalami sejarah garam Lasem, tradisi masyarakat pesisir, dan kearifan lokal yang melekat pada ekosistem tambak.
Menyebarkan Pengetahuan Melalui Bahasa Seni
Kurator Festival Garam Dasun, Eggy Yunaedi, menekankan pentingnya program residensi ini.
Menurutnya, residensi bukan hanya sekadar bagian integral dari proses kreatif, tetapi juga merupakan strategi krusial untuk diseminasi pengetahuan berbasis budaya. “Kami tidak hanya berupaya memperluas wawasan para seniman melalui keragaman latar belakang mereka, tetapi kolaborasi ini juga merupakan bagian dari upaya penyebaran pengetahuan.
Kami ingin agar pengetahuan mengenai garam dapat tersebar luas, hidup, diperkuat, dan diterjemahkan kembali ke dalam ekspresi seni oleh para seniman bersama dengan masyarakat setempat,” jelas Eggy.
Menghormati Gagasan Sang Maestro
Makna kolaborasi ini semakin mendalam karena berakar dari gagasan orisinal almarhum Maestro Nasirun.
Sebelum menghembuskan napas terakhirnya pada 1 Agustus 2026, Nasirun sempat bertemu langsung dengan perwakilan seniman-petani garam Dasun, didampingi oleh Kurator Eggy Yunaedi.
Dalam pertemuan tersebut, tercetus ide untuk mewujudkan sebuah karya kolaboratif yang mampu mengangkat harkat dan martabat kehidupan para petani garam.
Gagasan inilah yang kini diteruskan oleh generasi penerus melalui kolaborasi antara 10 seniman Nusantara dan 10 seniman-petani garam Dasun.
Dampak Positif Bagi Petani Garam dan Pengenalan Budaya
Seniman-petani garam Dasun, Mulyono, mengungkapkan bahwa keterlibatan aktif warga dalam proses penciptaan karya seni memberikan perspektif baru yang berharga terhadap profesi yang mereka jalani sehari-hari. “Selama ini, garam hanyalah bagian dari rutinitas kami sebagai petani, mulai dari pengolahan di tambak hingga menjadi sumber utama penghidupan.
Melalui medium lukisan dan kolaborasi dengan seniman dari berbagai daerah, kami berharap garam tidak hanya dipandang sebagai komoditas semata, melainkan sebagai representasi dari kehidupan, pengetahuan, dan cerita mendalam masyarakat petani garam,” tutur Mulyono.
Senada dengan itu, Arief Yulianto menambahkan harapannya agar kolaborasi ini mampu memperkenalkan kekayaan pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat pesisir kepada khalayak yang lebih luas. “Kami optimis kolaborasi ini akan semakin mempopulerkan seni dan pengetahuan tentang garam.
Meskipun aktivitas kami di tambak mungkin terlihat sederhana, ketika disandingkan dengan dunia seni, ternyata tersimpan banyak cerita dan pengetahuan berharga yang dapat dibagikan kepada masyarakat,” ungkap Arief.
Daftar Seniman dan Tim Teknis
Sepuluh seniman yang turut serta dalam program residensi dan kolaborasi ini adalah Tri Wahyudi (Yogyakarta), Putut Pasopati (Pati), Prabowo Setyadi (Jatiwangi), Budi Karya (Jepara), Aqilur Rachman Abdul Charizs (Jakarta), Dwiki Naufal Ilham (Lasem), Sonia Prabowo (Yogyakarta), Munna Laili Hidayana (Kediri), Kharisma Widya Kartika (Rembang), dan Andita Purnamasari (Yogyakarta).
Mereka akan berpadu karya dengan 10 seniman-petani garam Dasun, yang terdiri dari Tri Murti, Mulyono, Arif Yulianto, M.
Sholeh, Suparlan, Mariyadi, Suparno, Agung Wibowo, Anas Kristiawan, dan Rohmadi.
Proses teknis pengerjaan lukisan garam ini juga akan didukung oleh tim profesional yang berpengalaman, meliputi Sofyan Deer, Yoyok van Badem, De Tejo, Ariz Lukman, dan Eddie Suryono.