Santri Boyolali Pimpin Doa Ribuan Kali, Rayakan Hari Santri dengan Pesta Rakyat

Table of Contents
Hari Santri 2026, Pesantren Mambaul Barokah Boyolali Gelar 4.444 Shalawat Nariyah hingga Kembul Bujana
Santri Boyolali Pimpin Doa Ribuan Kali, Rayakan Hari Santri dengan Pesta Rakyat

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Boyolali, Indonesia – Pondok Pesantren Mambaul Barokah di Desa Kemasan, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, merayakan Hari Santri 2026 dengan serangkaian kegiatan yang merangkul spiritualitas, kebangsaan, dan kebersamaan. Acara yang berlangsung dari tanggal 21 hingga 25 Oktober 2026 ini menampilkan pembacaan 4.444 Shalawat Nariyah, upacara peringatan, jalan sehat, serta tradisi kuliner khas 'kembul bujana'. Tema yang diusung tahun ini, "Santri Menguatkan Negeri, Menuju Indonesia Emas," menekankan peran vital santri dalam pembangunan bangsa.

Rangkaian acara yang melibatkan ribuan santri, jajaran asatiz (pengajar), wali santri, dan masyarakat sekitar ini dimulai pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Malam itu, suasana khusyuk menyelimuti pesantren saat para santri dan jamaah bersama-sama menggemakan Shalawat Nariyah sebanyak 4.444 kali.

Kegiatan spiritual ini bertujuan untuk memohon keselamatan bangsa Indonesia dan kesejahteraan seluruh umat.

Meneladani Semangat Resolusi Jihad

Puncak kegiatan peringatan Hari Santri secara resmi dilangsungkan melalui upacara pada Kamis, 22 Oktober 2026, di halaman pondok.

Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Barokah, KH Nur Fauzi Akhmad, menyampaikan pesan penting kepada para santri.

Beliau menekankan agar semangat juang para ulama dan santri terdahulu dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia terus diwariskan.

KH Nur Fauzi secara khusus mengutip Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratussyaikh KH.

Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945, menjadikannya sebagai teladan bagi santri masa kini.

"Semangat Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dimotori Hadratussyaikh KH.

Hasyim Asy'ari harus menjadi teladan.

Santri hari ini harus berjuang dengan ilmu, akhlak, dan pengabdian," ujar KH Nur Fauzi Akhmad, menegaskan bahwa perjuangan santri tidak hanya melalui kekuatan fisik, tetapi juga melalui penguasaan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter mulia, dan pengabdian tanpa pamrih.

Meneladani Semangat Resolusi Jihad

Kebersamaan Melalui Kembul Bujana dan Pesta Rakyat

Hari puncak peringatan Hari Santri jatuh pada Ahad, 25 Oktober 2026.

Kegiatannya diawali dengan jalan sehat yang diikuti oleh ratusan peserta, meliputi santri, wali santri, dan warga desa setempat.

Rute jalan sehat mengelilingi kawasan desa, mempererat interaksi antarwarga sebelum kembali ke lingkungan pesantren untuk rangkaian acara selanjutnya.

Acara dilanjutkan dengan tradisi kembul bujana, sebuah momen makan bersama yang sarat makna.

Tradisi ini menjadi simbol kuatnya kebersamaan dan persaudaraan yang terjalin antara seluruh elemen pesantren, mulai dari santri, pengasuh, wali santri, hingga masyarakat sekitar.

Selain santap bersama, panitia juga menyuguhkan pentas seni yang menampilkan bakat para santri.

Ratusan hadiah undian, termasuk uang tunai, perlengkapan sekolah, dan peralatan rumah tangga, turut dibagikan untuk memeriahkan acara.

Apresiasi dan Dukungan Pemerintah

Camat Sawit, Budi Arief Dwi Nugroho, yang turut hadir dalam puncak acara, memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan Hari Santri di Pesantren Mambaul Barokah.

Ia melihat kegiatan ini sebagai sarana efektif untuk memperkuat sinergi dan silaturahmi antara pesantren, masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah.

Budi Arief juga mendorong para santri untuk terus meningkatkan kualitas diri, baik dalam pemahaman agama maupun ilmu pengetahuan umum, sebagai bekal kontribusi positif bagi masyarakat.

Ketua Panitia Hari Santri 2026 Pesantren Mambaul Barokah, Tri Jarwanto, menambahkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan ini tidak semata-mata sebagai ajang perayaan, melainkan juga sebagai sarana edukasi dan pembelajaran bagi para santri.

Melalui keterlibatan aktif dalam kepanitiaan, santri digembleng dalam keterampilan manajemen acara, kerja sama tim, dan penanaman rasa tanggung jawab organisasi.

"Ini bukan sekadar perayaan.

Ini adalah proses belajar membangun cita-cita dan tanggung jawab untuk masa depan," pungkas Tri Jarwanto.

Baca Juga

Loading...