Orang Tua Pengantar Ngaji Anak: Istimewa dan Berkah Tak Terhingga!

Table of Contents
Orang Tua yang Mengantarkan Anaknya Belajar Al-Qur’an adalah Orang Istimewa
Orang Tua Pengantar Ngaji Anak: Istimewa dan Berkah Tak Terhingga!

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Semarang, Indonesia - Peran orang tua dalam mendampingi anak-anak menempuh pendidikan Al-Qur'an memiliki nilai keistimewaan tersendiri. KH Muhammad Shofi Al-Mubarok, atau akrab disapa Gus Shofi, menegaskan bahwa usaha mengantarkan putra-putri belajar membaca kitab suci, bahkan sejak tahapan awal melihat mushaf (bin nadhar), merupakan amalan yang diganjar pahala luar biasa. Hal ini disampaikannya di hadapan para wali santri pada acara Khotmil Qur'an Pondok Pesantren Al-Ishlah Mangkang Kulon, Tugu, Kota Semarang, pada Ahad, 4 Oktober 2026.

Pahala Ganda untuk Orang Tua Murid Qur'an

Pondok Pesantren Al-Ishlah, yang telah berdiri kokoh selama 102 tahun, pada tahun ini merayakan kelulusan santri yang telah mencapai khatam bil hifdzi 30 juz, bil hifdzi Juz 'Amma, dan bin nadhar 30 juz.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Shofi mengutip pandangan Habib Umar Muthohar dari Pesantren Sirojut Tholibin, Grobogan, yang menekankan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan Al-Qur'an pasti memiliki kemuliaan istimewa.

Al-Qur'an sendiri merupakan kalam Ilahi yang diturunkan melalui perantara malaikat termulia, kepada nabi teragung, pada waktu dan bulan yang paling diberkahi.

Keistimewaan ini diperkuat dengan rujukan ayat-ayat suci seperti QS Asy-Syu'ara: 192–194, QS Al-Qadr: 1, dan QS Al-Baqarah: 185.

Lebih lanjut, Gus Shofi memaparkan sebuah riwayat hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, sebagaimana tercantum dalam kitab Adz-Dzakhair Al-Muhammadiyah karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Riwayat tersebut menyatakan, "Barang siapa mengajari anaknya Al-Qur'an secara bin nadhar, diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Barang siapa mengajarinya hingga hafal, Allah membangkitkannya pada hari kiamat dengan wajah seperti bulan purnama. Lalu dikatakan kepada anaknya: bacalah. Setiap kali ia membaca satu ayat, Allah mengangkat derajat ayahnya satu tingkat." Gus Shofi menggarisbawahi betapa besar anugerah ampunan hanya dengan mengajarkan Al-Qur'an bin nadhar, apalagi jika anak berhasil menghafalkannya. "Orang tuanya diangkat setinggi hafalan anaknya," ujarnya mengutip makna hadits tersebut.

Tradisi Khataman dan Makna "Al-Hallu Al-Murtahil"

Pahala Ganda untuk Orang Tua Murid Qur'an

Dalam ceramahnya, Gus Shofi juga menjelaskan esensi di balik tradisi khataman Al-Qur'an yang seringkali disambung dengan pembacaan Surat Al-Fatihah dan awal Surat Al-Baqarah. Tradisi ini, menurut Gus Shofi, merupakan manifestasi dari hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan tentang amalan yang paling dicintai Allah adalah Al-hallu Al-murtahil, yaitu seseorang yang membaca Al-Qur'an dari awal hingga akhir, dan ketika selesai, ia segera memulainya kembali. "Makanya kalau khataman, sampai An-Nas tidak shadaqallah, balik lagi Al-Fatihah, alif lam mim. Itu pengamalan dari al-hallu al-murtahil," terang Gus Shofi, mengaitkan tradisi tersebut dengan ajaran Rasulullah.

Peran Sentral Orang Tua dalam Kesalehan Anak

Gus Shofi menegaskan kembali pentingnya peran orang tua dalam membentuk kesalehan anak, mengutip sebuah ungkapan bijak: "Kesalehan anak bersumber dari kesalehan orang tua." Ia memberikan contoh inspiratif dari KH Munawwir Krapyak, yang tidak serta-merta menjadi ahli Al-Qur'an.

Kesuksesan beliau merupakan buah dari cita-cita mendalam kakeknya, KH Hasan Bashori, dan ayahnya, KH Abdullah Rosyad, yang keduanya berkeinginan kuat agar keturunannya menjadi ahli Al-Qur'an, sebuah harapan yang kemudian terwujud.

Ini menunjukkan bagaimana doa dan niat tulus orang tua memiliki kekuatan yang luar biasa dalam memengaruhi nasib dan pencapaian anak.

Kisah-kisah lain yang dibagikan Gus Shofi semakin memperkuat pandangannya.

Ia menceritakan tentang seorang nenek petani di pesisir utara Jawa yang senantiasa meminum sisa minuman tamunya karena keyakinan akan berkah dari air yang diminum orang mukmin.

Kebiasaan sederhana ini berbuah manis, di mana anak cucunya tumbuh menjadi pribadi yang alim dan saleh.

Ada pula kisah tentang seorang bayi di Mangkuyudan yang menangis tiada henti.

Sang kakek, dengan penuh kasih sayang, menimang cucunya sambil berkata, "Masyaallah, bocah kok nderes Qur'an terus." Pujian yang diulang-ulang setiap kali tangisan terdengar semakin keras, justru memberikan dampak positif.

"Gara-gara ditimang begitu, bocah yang menangis tadi kelas 3 SMP sudah hafal Qur'an," tutur Gus Shofi yang disambut gelak tawa hadirin, menunjukkan keajaiban niat dan perhatian orang tua.

Di penghujung acara, Gus Shofi memanjatkan doa agar Pesantren Al-Ishlah senantiasa dilimpahi keberkahan dan manfaat, serta tetap langgeng hingga akhir zaman dalam naungan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya sepeninggal almarhum KH Ahmad Hadlor Ihsan.

Acara khotmil qur'an ini turut dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti Rais Syuriyah PCNU Kota Semarang KH Hanif Ismail, perwakilan Wali Kota Semarang Eli Asmara, Wakil Wali Kota Semarang, serta jajaran kiai dan seluruh wali santri.

Baca Juga

Loading...