Mukjizat Penyelamatan 2 Pekerja PLTA Nepal Setelah 9 Hari Terjebak Banjir Bandang

Table of Contents
Mukjizat di Balik 2 Orang Selamat Usai Nepal Dihantam Banjir Dahsyat
Mukjizat Penyelamatan 2 Pekerja PLTA Nepal Setelah 9 Hari Terjebak Banjir Bandang

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Operasi penyelamatan dramatis berhasil menyelamatkan dua pekerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Nepal yang terjebak selama 9 hari di dalam terowongan. Penyelamatan ini terjadi setelah banjir bandang dahsyat menerjang wilayah Nepal yang berbatasan dengan Tibet pada akhir Agustus 2026.

Dilansir dari kantor berita Reuters, Sabtu (5/9/2026), kedua korban selamat adalah Sanjay Sah, seorang mandor mekanik, dan Kabir Maharjan, seorang pengawas mekanik yang bekerja di PLTA Upper Trishuli 34 di Sungai Trishuli. Mereka berhasil dievakuasi pada Jumat (4/9) waktu setempat setelah terjebak sejak bencana banjir bandang melanda wilayah tersebut.

Momen Penyelamatan yang Mengharukan

Video dan foto yang dirilis oleh otoritas Nepal memperlihatkan momen dramatis ketika Maharjan ditarik keluar dari lubang di tanah. Sorak-sorai dan tepuk tangan memenuhi lokasi penyelamatan saat Maharjan diangkat keluar dan segera dibaringkan di atas tandu untuk mendapatkan pertolongan medis.

Sementara itu, Sah digendong oleh petugas penyelamat menuju tenda darurat dengan wajah yang berlumuran lumpur. Tim dokter militer segera memberikan pertolongan pertama, memasangkan masker oksigen, dan memeriksa tanda-tanda vital kedua korban.

Kondisi Kesehatan Korban Selamat

Menurut laporan pejabat militer setempat, kondisi Sanjay Sah dinyatakan stabil dengan parameter vital yang tampak normal. Cedera yang dialami Sah tidak tergolong kritis, meskipun ia mengalami kelelahan ekstrem dan dehidrasi setelah terjebak selama lebih dari seminggu.

Kabir Maharjan mengalami kondisi yang lebih serius dengan ketidakmampuan menggerakkan tangan dan kakinya, menurut staf Menteri Energi Nepal yang dikutip Reuters. Kedua korban kemudian segera diterbangkan dengan helikopter ke rumah sakit di Kathmandu untuk mendapatkan perawatan intensif dan pemeriksaan medis lebih lanjut.

Teknologi Modern dalam Operasi SAR

Operasi penyelamatan ini melibatkan metode koordinasi yang unik dengan memanfaatkan teknologi komunikasi modern. Tim ahli membentuk grup WhatsApp untuk memandu para petugas penyelamat secara real-time selama upaya SAR berlangsung di lokasi proyek PLTA.

Metode koordinasi digital ini terbukti sangat efektif sebagai pelengkap penggunaan helikopter dan alat berat dalam upaya pencarian dan penyelamatan korban. Kantor Menteri Energi Nepal Biraj Bhakta Shrestha mengonfirmasi identitas kedua korban selamat dan mengapresiasi kerja keras tim SAR.

Tantangan Ekstrem Operasi Penyelamatan

Arnold Dix, pakar pembangunan terowongan yang merupakan Ketua International Tunnelling and Underground Space Association, menjelaskan kepada BBC tentang kompleksitas operasi penyelamatan ini. Dix menyebutnya sebagai "lapisan demi lapisan keajaiban" mengingat banyaknya hambatan yang harus diatasi.

Tantangan pertama adalah menemukan lokasi stasiun PLTA di tengah medan yang hampir tidak dapat dikenali lagi akibat sapuan banjir. Pintu masuk terowongan yang sebelumnya berada di lereng bukit kini tertimbun sepenuhnya di bawah tanah akibat longsoran masif.

Metode Pencarian Pintu Masuk Terowongan

"Saya belum pernah mengetahui operasi penyelamatan yang mengharuskan kami mencari pintu masuk terowongan yang sepenuhnya tertimbun," kata Dix. Tim penyelamat menggunakan kombinasi teknik rekayasa, peta topografi lama, citra satelit pasca-bencana, rekaman video dari helikopter, dan petunjuk fisik seperti tiang listrik untuk memperkirakan lokasi pintu masuk.

Momen Penyelamatan yang Mengharukan

Setelah berhasil menemukan pintu masuk, tantangan berikutnya adalah menelusuri terowongan yang tersumbat lumpur dan bebatuan untuk menemukan lokasi pasti para korban. "Kami tahu mereka berada di depan, tetapi kami tidak tahu persis di mana," kata Dix.

Penggunaan Bahan Peledak Berisiko Tinggi

Tim SAR harus menembus terowongan yang sepenuhnya tersumbat lumpur dan batu, beberapa di antaranya berukuran lebih besar dari mobil. Dalam situasi darurat ini, tim terpaksa menggunakan bahan peledak untuk membuka jalan, sebuah metode yang jarang dilakukan dalam operasi penyelamatan.

"Kami harus menggunakan bahan peledak yang biasanya tidak pernah kami lakukan karena risiko membahayakan orang-orang yang terjebak dan juga diri kami sendiri," ungkap Dix. Penggunaan bahan peledak ini dilakukan dengan perhitungan sangat presisi untuk meminimalkan risiko terhadap korban yang terjebak.

Penyebab Bencana Banjir Bandang

Bencana bermula pada Rabu (26/8) ketika longsoran es, bebatuan, dan lumpur menyapu area lembah di wilayah Nepal yang berbatasan dengan Tibet, China. Para pejabat meyakini bahwa runtuhnya gletser di bagian hulu Sungai Trishuli memicu banjir bandang yang menghancurkan infrastruktur di sepanjang sungai.

Runtuhan gletser tersebut menyebabkan setidaknya 900 orang terjebak di dalam terowongan yang terkait dengan enam proyek PLTA di sepanjang Sungai Trishuli. Banjir bandang ini mengubah lanskap wilayah secara drastis, menghancurkan rumah, jalanan, dan sekolah di berbagai kota dan desa.

Korban Jiwa dan Dampak Bencana

Bencana banjir bandang ini mencatat korban jiwa yang sangat besar di wilayah Nepal dan Tibet. Sedikitnya 1.252 orang tewas di wilayah Nepal, dengan lebih dari 4.200 orang lainnya dinyatakan masih hilang hingga saat laporan ini dibuat.

Ribuan penduduk terpaksa mengungsi meninggalkan rumah mereka yang hancur atau terancam longsor susulan. Di sisi Tibet, otoritas China mencatat korban tewas mencapai sedikitnya 21 orang dengan 541 orang lainnya masih dalam status hilang.

Dampak terhadap Infrastruktur Energi

Banjir bandang ini memberikan dampak serius terhadap infrastruktur pembangkit listrik tenaga air di Nepal. Enam proyek PLTA di sepanjang Sungai Trishuli mengalami kerusakan signifikan, dengan terowongan-terowongan penghubung tersumbat material longsoran.

PLTA Upper Trishuli 34, tempat kedua korban selamat bekerja, merupakan salah satu fasilitas yang paling terdampak. Perbaikan infrastruktur energi ini diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan dan memerlukan investasi besar untuk mengembalikan operasional normal.

Upaya Pencarian yang Masih Berlanjut

Meskipun penyelamatan Sanjay Sah dan Kabir Maharjan memberikan secercah harapan, operasi pencarian untuk ribuan orang yang masih hilang terus berlanjut. Tim SAR internasional dan lokal bekerja tanpa henti menyisir area terdampak dengan bantuan teknologi pencarian modern.

Kondisi medan yang sulit dan ancaman longsor susulan menjadi tantangan besar bagi tim penyelamat. Namun, keberhasilan menyelamatkan dua pekerja PLTA setelah 9 hari terjebak memberikan motivasi dan harapan bahwa masih ada kemungkinan menemukan korban selamat lainnya.

Baca Juga

Loading...