U.S. Air Force Tambah Armada F-15EX Eagle II Jadi 149 Jet Tempur
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Departemen Pertahanan Amerika Serikat resmi memperluas pengadaan jet tempur F-15EX Eagle II hingga mencapai total 149 unit dengan masa produksi yang diperpanjang hingga tahun 2031. Langkah strategis ini diambil guna memperkuat kapasitas persenjataan udara jarak jauh di tengah ketegangan geopolitik global yang dinamis.
Pengembangan armada ini bertujuan untuk memberikan volume tembakan yang lebih masif sekaligus menghemat penggunaan pesawat siluman generasi kelima pada misi yang tidak terlalu kritis. Keputusan tersebut mencerminkan pergeseran taktis dalam membangun kekuatan udara yang seimbang antara teknologi siluman dan kapasitas muatan rudal.
Detail Anggaran dan Skala Pengadaan Jet Tempur Baru
Berdasarkan laporan pasar dari Defence iQ untuk periode 2026-2031, alokasi anggaran tahun fiskal 2027 mencakup pembelian 24 unit F-15EX senilai 2,66 miliar dolar AS. Skala akuisisi yang masif ini menandakan peralihan peran Eagle II dari sekadar pengganti armada usang menjadi pilar utama aviasi taktis masa depan.
Program modernisasi pertahanan ini awalnya dirancang sebagai solusi cepat untuk mengatasi penuaan struktural armada F-15C/D yang mengalami penurunan tingkat kesiapan tempur. Melalui kontrak awal senilai 22,89 miliar dolar AS pada Juli 2020, Boeing dipercaya untuk menangani seluruh aspek integrasi, manufaktur, hingga dukungan teknis jet tempur tersebut.
Fasilitas produksi Boeing di St. Louis kini memiliki kepastian jangka panjang untuk memproduksi pesawat dalam beberapa fase pemesanan tanpa memerlukan kontrak baru yang rumit. Penyesuaian jumlah armada terus terjadi seiring dengan evaluasi Washington terhadap kapasitas tempur udara dan jadwal pengiriman armada siluman F-35.
Spesifikasi Canggih dan Keunggulan Muatan Senjata
Jet tempur F-15EX Eagle II merupakan varian modern berkursi ganda yang didukung oleh dua mesin turbofan General Electric F110-GE-129. Pesawat generasi 4.5 ini juga dilengkapi dengan sistem peperangan elektronik tercanggih bernama Eagle Passive Active Warning and Survivability System (EPAWSS).
Salah satu keunggulan paling mencolok dari jet tempur ini adalah kapasitas angkut persenjataannya yang mampu mencapai 29.500 pon atau setara 13.300 kilogram. Kemampuan membawa hingga 12 rudal udara-ke-udara AIM-120 AMRAAM menjadikannya sebagai platform pertahanan udara dengan kapasitas magasin rudal yang sangat dalam.
Keberadaan ruang senjata eksternal yang besar ini melengkapi peran operasional pesawat siluman seperti F-35 dan prototipe masa depan F-47. Integrasi teknologi sistem misi terbuka pada pesawat ini juga memastikan pembaruan perangkat lunak dapat dilakukan dengan cepat menghadapi ancaman masa depan.
Kolaborasi Taktis dengan F-35 dan F-47
Angkatan Udara AS menerapkan pembagian kerja taktis di mana jet siluman F-35 bertugas menyusup ke wilayah pertahanan musuh untuk mengidentifikasi target secara presisi. Sementara itu, F-15EX akan beroperasi dari jarak yang lebih aman untuk melepaskan rudal dalam volume besar berdasarkan data sasaran tersebut.
Proyeksi masa depan juga melibatkan pengembangan jet tempur generasi keenam F-47 yang berfokus pada dominasi udara dan integrasi pesawat berawak-tanpa awak. Boeing telah menerima kontrak pengembangan teknik untuk F-47 pada Maret 2025 dengan proyeksi pendanaan riset melebihi 5 miliar dolar AS pada tahun 2027.
Keberadaan F-47 tidak serta-merta membuat F-15EX kehilangan relevansinya dalam skenario pertempuran modern yang kompleks. Eagle II tetap memegang peran krusial sebagai pembawa amunisi berukuran besar yang tidak muat dimasukkan ke dalam ruang bom internal jet siluman.
Fokus Strategis di Kawasan Indo-Pasifik
Wilayah Indo-Pasifik menjadi fokus utama operasional armada ini karena jarak geografis yang sangat luas memerlukan pesawat dengan jangkauan terbang ekstra. Mantan Kepala Staf Angkatan Udara AS, Jenderal David Goldfein, menegaskan bahwa kombinasi daya jelajah dan daya angkut F-15EX adalah kunci utama di teater Pasifik.
Tantangan pertahanan udara dari Tiongkok memaksa militer Amerika Serikat untuk mengoptimalkan jumlah amunisi yang bisa dibawa oleh setiap jet tempur di garis depan. Pangkalan Udara Kadena di Jepang bahkan telah menerima penempatan sementara jet tempur F-15EX pada Juli 2026 untuk proses uji coba serta familierisasi operasional.
Kehadiran armada Eagle II di Jepang bertujuan memperkuat kesiapan tempur regional sekaligus menguji integrasi taktis dengan skuadron udara sekutu. Uji coba ini juga membuktikan peran F-15EX sebagai node komunikasi yang menghubungkan berbagai platform tempur berawak maupun nirawak seperti MQ-28 Ghost Bat.
Optimalisasi untuk Pertahanan Wilayah Domestik
Selain misi ekspedisi di luar negeri, Angkatan Udara AS memproyeksikan armada F-15EX untuk mengambil alih tugas patroli keamanan wilayah udara domestik. Penggantian armada F-15C/D yang menua di pangkalan pertahanan tanah air akan memastikan wilayah kedaulatan AS tetap terjaga dengan efisiensi tinggi.
Penggunaan Eagle II untuk misi patroli domestik ini secara langsung menghemat jam terbang armada F-35 yang memiliki biaya operasional lebih tinggi. Dengan demikian, jet siluman yang mahal dapat disimpan khusus untuk misi penetrasi tingkat tinggi yang membutuhkan fitur deteksi radar rendah.
Pembagian fungsi operasional yang taktis ini pada akhirnya mengoptimalkan anggaran militer sekaligus menjaga kesiapan tempur seluruh lini pertahanan udara Amerika Serikat. Ekspansi armada hingga tahun 2031 memastikan dominasi udara AS tetap terjaga di tengah dinamika ancaman global yang terus berkembang pesat.
