Saham Big Banks BBCA BMRI BBRI BBNI Berpeluang Menguat Semester II 2026
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Saham-saham perbankan jumbo Indonesia, yakni BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI, masih menyimpan peluang penguatan yang cukup menjanjikan pada semester II 2026. Namun demikian, analis mengingatkan bahwa penguatan tersebut diperkirakan berlangsung secara selektif dan bertahap, bukan dalam bentuk rally serentak yang masif.
Penilaian tersebut disampaikan oleh Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, kepada Infobanknews di Jakarta pada 18 Agustus 2026. Menurutnya, meski tekanan yang dialami saham-saham big banks cukup signifikan sebelumnya, valuasi saat ini justru menawarkan titik masuk yang lebih atraktif bagi investor jangka panjang.
Fundamental Perbankan Masih Solid di Pertengahan 2026
Dari sisi fundamental, sektor perbankan Indonesia mencatatkan kinerja yang cukup kokoh. Pertumbuhan kredit pada Juni 2026 mencapai 12,67 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat signifikan dari 11,51 persen pada Mei 2026.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) turut tumbuh 10,21 persen yoy, mencerminkan kepercayaan masyarakat yang masih terjaga terhadap sistem perbankan nasional. Pertumbuhan kredit secara tahunan yang berada di kisaran double digit 10 persen hingga 11 persen menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan ekspansi bisnis perbankan.
Stabilisasi NIM dan Penurunan Cost of Credit Jadi Katalis Positif
Nafan menyoroti bahwa Net Interest Margin (NIM) atau margin bunga bersih mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, yang merupakan indikator penting bagi profitabilitas bank. Di samping itu, normalisasi pencadangan pada segmen mikro dan UMKM, khususnya di BBRI, turut berkontribusi pada perbaikan struktur biaya kredit secara keseluruhan.
Penurunan Cost of Credit (CoC) secara gradual juga menjadi katalis positif yang mendorong prospek perolehan laba bank-bank besar ke depan. Jika tren ini berlanjut, investor dapat mengharapkan peningkatan kualitas laba yang lebih berkelanjutan, bukan sekadar lonjakan temporer.
BBCA dan BMRI Lebih Defensif, BBRI dan BBNI Lebih Sensitif terhadap Pemulihan
Dalam pandangannya, Nafan membedakan karakteristik masing-masing emiten big banks. "Saya melihat BBCA dan BMRI relatif lebih defensif dari sisi kualitas aset, funding structure, dan profitability, sementara BBRI dan BBNI memiliki sensitivitas lebih besar terhadap pemulihan ekonomi, peningkatan permintaan kredit, serta normalisasi credit cost," ujar Nafan.
Perbedaan profil risiko ini penting untuk dipertimbangkan investor dalam menentukan strategi alokasi portofolio. Bagi investor yang mengutamakan stabilitas, BBCA dan BMRI dapat menjadi pilihan utama, sedangkan BBRI dan BBNI menawarkan potensi upside yang lebih besar seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi domestik.
Valuasi P/BV di Bawah Rata-Rata Historis, Peluang Bargain Hunting
Beberapa bank besar sempat mengalami koreksi teknikal yang cukup dalam, sehingga membuat valuasi Price to Book Value (P/BV) mereka berada di bawah rata-rata historis. Kondisi ini menciptakan peluang bargain hunting yang menarik, terutama bagi investor institusional yang berorientasi jangka panjang.
Meski demikian, Nafan menegaskan bahwa katalis fundamental perlu terus menguat agar penguatan harga saham big banks dapat mendorong rerating valuation yang sesungguhnya, bukan sekadar technical rebound yang bersifat sementara. Rerating valuation yang solid hanya dapat terwujud jika pertumbuhan laba didukung oleh perbaikan struktural yang nyata.
Kebijakan BI Rate dan Potensi Easing Jadi Faktor Kunci
Salah satu katalis makroekonomi terpenting pada semester II 2026 adalah arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), yang saat ini mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Setiap sinyal pelonggaran (easing) lebih lanjut akan menjadi sentimen positif signifikan bagi sektor perbankan.
"Setiap indikasi ruang easing lebih lanjut akan positif bagi sektor perbankan melalui penurunan cost of fund, perbaikan NIM, dan peningkatan demand kredit," tambah Nafan. Stabilitas rupiah juga dinilai memberikan ruang yang lebih besar bagi BI untuk menjalankan kebijakan yang bersifat pro-growth tanpa harus mengorbankan stabilitas eksternal.
Kualitas Aset Terjaga, NPL Industri Masih Rendah
Dari sisi kualitas aset, industri perbankan mencatatkan rasio Non-Performing Loan (NPL) bruto yang masih terkendali di level sekitar 2,17 persen pada Mei 2026. Angka ini mencerminkan ketahanan sistem perbankan Indonesia di tengah akselerasi pertumbuhan kredit yang tengah berlangsung.
Jika kualitas aset tetap terjaga seiring dengan ekspansi kredit yang terus berlanjut, kepercayaan pasar terhadap keberlanjutan laba big banks akan semakin menguat. Investor pun membutuhkan konfirmasi bahwa percepatan penyaluran kredit tidak diikuti oleh tekanan terhadap margin maupun lonjakan biaya pencadangan.
Kembalinya Investor Asing dan Faktor MSCI-FTSE
Katalis penting lainnya yang diantisipasi pasar adalah kembalinya aliran dana asing (foreign fund inflow) ke pasar saham Indonesia. Big banks secara historis menjadi salah satu proxy utama yang digunakan investor asing untuk mendapatkan eksposur terhadap pertumbuhan ekonomi domestik Indonesia.
Apabila berbagai isu terkait indeks MSCI dan FTSE, transparansi pasar modal, stabilitas nilai tukar rupiah, serta persepsi terhadap sovereign risk Indonesia mengalami perbaikan, potensi re-entry investor asing ke saham BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI akan semakin terbuka lebar. Aliran dana asing yang kembali masuk berpotensi menjadi pendorong kuat bagi rerating valuasi saham-saham perbankan terkemuka tersebut.
Prospek Semester II 2026: Selektif namun Menjanjikan
Secara keseluruhan, outlook saham big banks pada paruh kedua 2026 tetap positif dengan sejumlah syarat yang perlu terpenuhi. Pertumbuhan kredit yang telah mencapai 12,67 persen yoy pada Juni 2026 perlu dipertahankan momentum-nya hingga akhir tahun, khususnya pada segmen kredit investasi dan modal kerja yang menjadi tulang punggung ekspansi ekonomi.
BI juga terus menekankan komitmennya dalam menjaga stabilitas rupiah seraya memelihara likuiditas perbankan dan mendorong pertumbuhan kredit secara berimbang. Kombinasi antara fundamental yang solid, valuasi yang atraktif, potensi kebijakan moneter yang lebih akomodatif, serta kemungkinan kembalinya investor asing menjadikan saham big banks sebagai pilihan investasi yang layak dicermati secara selektif di semester II 2026.