Rajin Olahraga Belum Tentu Bebas Kolesterol Tinggi, Ini Faktanya
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Banyak masyarakat masih mengasumsikan bahwa aktivitas fisik yang rutin merupakan jaminan mutlak untuk mendapatkan tubuh yang sehat dan bebas dari masalah kolesterol. Namun, realitas medis menunjukkan bahwa rajin berolahraga ternyata belum tentu membuat seseorang bebas dari risiko dislipidemia.
Temuan penting ini dibahas secara mendalam oleh Dr. dr. Jajang Sinardja, SpJP(K) dan dr. Dwita Rian Desandri, SpJP(K) dalam siniar atau podcast bertajuk Seputar Jantung. Keduanya merupakan spesialis kardiologi olahraga yang menyoroti adanya kesalahpahaman umum mengenai kaitan antara kebugaran fisik dan kadar lemak dalam darah.
Dislipidemia sendiri didefinisikan sebagai kondisi di mana kadar lemak dalam darah, termasuk kolesterol, berada di luar batas normal. Kondisi ini sering kali tidak menunjukkan gejala fisik yang jelas, sehingga banyak orang, termasuk mereka yang aktif bergerak, tidak menyadari bahwa profil lipid mereka sebenarnya tidak ideal.
Studi Menunjukkan Risiko pada Atlet
Dalam pembahasan tersebut, dr. Dwita memaparkan data mengejutkan yang berasal dari sebuah studi kesehatan terhadap para atlet elit dunia. Penelitian yang melibatkan sekitar 1.050 atlet Olimpiade ini memberikan gambaran bahwa status sebagai olahragawan bukanlah perisai mutlak terhadap gangguan kesehatan.
Hasil studi menunjukkan bahwa sekitar 32 persen dari total atlet yang diteliti mengalami kondisi dislipidemia. Dengan kata lain, satu dari tiga atlet Olimpiade tersebut berpotensi memiliki masalah kolesterol tinggi, yang menantang persepsi publik selama ini.
Mengapa Penampilan Bugar Bisa Menipu?
Secara visual, atlet atau pegiat olahraga sering kali terlihat memiliki tubuh yang atletis, bugar, dan sehat. Namun, penampilan luar tersebut sering kali tidak dapat menjadi indikator tunggal untuk menilai kondisi profil lipid seseorang secara akurat.
"Kalau kita melihat seorang pelari atau seorang atlet, tampak secara badan bagus, tampak sehat, tampak fit, tapi menariknya adalah tidak imun dari penyakit dislipidemia," ujar dr. Dwita dalam podcast tersebut, disadur Senin (27/7/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa kebugaran fisik tidak otomatis menjamin bahwa organ dalam dan kadar kimia darah berada dalam kondisi optimal.
Faktor lain seperti predisposisi genetik, jenis asupan makanan, serta metabolisme tubuh individu memegang peranan kunci dalam menentukan kadar kolesterol. Seseorang bisa saja memiliki tubuh yang terlatih, tetapi tetap memiliki risiko penumpukan lemak jahat dalam darah karena gaya hidup diet yang kurang tepat.
Pentingnya Pemeriksaan Profil Lipid Berkala
Oleh karena itu, dr. Dwita dan dr. Jajang menegaskan pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, termasuk tes profil lipid secara berkala. Mengetahui angka pasti kadar kolesterol jauh lebih penting daripada sekadar mengandalkan persepsi diri bahwa tubuh sudah sehat karena rajin berolahraga.
Untuk mengendalikan kadar kolesterol, langkah utama yang harus diambil adalah menerapkan pola makan yang seimbang dan menyehatkan jantung. Hal ini melibatkan pengurangan asupan makanan yang mengandung tinggi lemak jenuh dan lemak trans yang sering ditemukan pada makanan olahan.
Selain pengaturan pola makan, aktivitas fisik yang rutin tetap menjadi pilar utama untuk menjaga kesehatan jantung dan metabolisme tubuh. Namun, olahraga tersebut harus dilakukan secara konsisten dan disesuaikan dengan kondisi tubuh serta kemampuan fisik masing-masing individu.
Kesimpulannya, olahraga bukanlah satu-satunya faktor penentu dalam menjaga kesehatan profil lipid seseorang. Integrasi antara gaya hidup aktif, pola makan bergizi, dan pemantauan medis secara berkala adalah strategi terbaik untuk memastikan kesehatan jangka panjang bagi setiap orang, baik atlet maupun masyarakat umum.
