Menguak Ambisi Daniel Ortega: Nikaragua di Ambang Rezim Otoriter ala Korea Utara

Table of Contents
La deriva norcoreana, el testamento político del tirano de Managua - Yahoo Noticias
Menguak Ambisi Daniel Ortega: Nikaragua di Ambang Rezim Otoriter ala Korea Utara

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Daniel Ortega merayakan 'final' pribadinya pada hari Minggu, 19 Juli, bertepatan dengan peringatan kemenangan revolusi Sandinista atas rezim Somoza pada tahun 1979. Di tengah perhatian dunia yang tertuju pada peristiwa global lainnya, sang diktator memenuhi Plaza de la Fe di ibu kota Managua dengan para pendukung setia, aparatur sipil negara, dan militer yang berbaris rapi layaknya masa kejayaan rezim lama.

Istrinya, Wakil Presiden Rosario Murillo, seorang penyair tanpa karya yang dikenal luas, menamai rangkaian acara tersebut sebagai "Julio Eterno y Victorioso". Nama ini mencerminkan kebiasaan gaya bahasa hiperbolis yang sering digunakan oleh rezim revolusioner untuk melegitimasi kekuasaan mereka di mata publik.

Mengadopsi Model Pemerintahan ala Korea Utara

Sudah sejak lama, Ortega menunjukkan ketertarikan pada estetika dan struktur kekuasaan yang dipraktikkan oleh diktator Korea Utara, Kim Jong-un. Banyak dari kebijakan dan langkah politiknya yang kini secara sadar diarahkan untuk meniru model kontrol totaliter yang mencekik kehidupan rakyat di Korea Utara.

Ortega akhirnya meresmikan apa yang selama ini menjadi desas-desus dengan pernyataan yang mengguncang komunitas internasional. "Saya ingin kalian melupakan hal ini; tidak akan ada lagi pemilihan umum di sini agar oposisi tidak bisa mencoba merebut kekuasaan," tegas Ortega dalam pidatonya yang menyinggung konspirasi politik.

Manuver Politik dan Pembungkaman Oposisi

Pidato tersebut dibacakan Ortega dari naskah yang telah disiapkan sebelumnya, seolah menjadi wasiat politik terakhirnya bagi bangsa. Meskipun fisiknya yang berusia 81 tahun tampak rapuh, kata-katanya menegaskan posisi Ortega yang lebih mirip dengan gaya otoriter Raúl Castro atau Nicolás Maduro daripada sekutu lamanya seperti Fidel Castro.

Pertanyaan besar yang muncul adalah mengapa langkah ekstrem ini diambil sekarang. Pada pemilu palsu tahun 2021, rezim Sandinista telah memenjarakan tujuh kandidat oposisi yang sebenarnya memiliki peluang nyata untuk mengalahkan Ortega di kotak suara.

Rezim juga menggunakan partai-partai kolaborator, yang di Nikaragua dikenal dengan istilah "zancudos" atau nyamuk, untuk menciptakan ilusi persaingan demokratis. Pihak oposisi menjuluki parodi politik tersebut sebagai penipuan besar yang menjadi kelanjutan dari pola penindasan sistematis di masa lalu.

Legislasi Sebagai Tembok Penghalang Demokrasi

Mengadopsi Model Pemerintahan ala Korea Utara

Ortega secara terang-terangan menyatakan rencananya untuk bekerja sama dengan Majelis Nasional guna menciptakan undang-undang yang membentengi rezim dari pengaruh asing. Ia menyebut langkah ini penting untuk memblokir para pengkhianat dan agen asing agar tidak bisa memenangkan kekuasaan dengan dana dari Amerika Serikat.

Majelis Nasional merespons perintah tersebut dengan cepat, merilis pernyataan bahwa mereka siap memenuhi mandat presiden, termasuk pertemuan segera dengan Dewan Tertinggi Pemilihan. Laporan dari surat kabar sejarah La Prensa membocorkan bahwa rencana rezim adalah membentuk badan legislatif ala Kuba dan Korea Utara.

Majelis ini nantinya akan terdiri dari ratusan anggota yang hanya berkumpul satu atau dua kali setahun untuk memberikan persetujuan otomatis atas keputusan presiden. Langkah pertama yang diisukan adalah menetapkan masa pemerintahan 10 tahun bagi sang diktator yang kini berada di masa senja kekuasaannya.

Kritik dari Tokoh Oposisi dan Pengamat

Félix Maradiaga, salah satu kandidat presiden yang sempat dipenjara dan diasingkan ke Amerika Serikat, menanggapi langkah ini sebagai bentuk ketakutan rezim. Ia menegaskan bahwa Ortega kini ingin menghapus bahkan votasi terkontrol yang sebelumnya digunakan untuk memberikan kesan normalitas palsu di mata dunia.

Elvira Cuadra, Direktur Pusat Studi Transdisipliner Amerika Tengah, menilai bahwa pengumuman ini hanyalah konfirmasi formal dari realitas yang sudah lama terjadi. Menurutnya, pemilihan umum di Nikaragua hanyalah alat hiasan hukum untuk menutupi ketiadaan demokrasi yang sebenarnya di bawah kendali ketat keluarga Ortega-Murillo.

Geopolitik dan Masa Depan Dinasti Keluarga

Kondisi ini terjadi di tengah peta geopolitik Amerika yang sedang mengalami pergeseran besar, terutama dengan tantangan bagi sekutu-sekutu Ortega lainnya. Meskipun pemerintahan di Amerika Serikat dan negara-negara tetangga memberikan perhatian, tindakan otoriter ini menunjukkan bahwa rezim merasa terdesak dan tidak bersedia berkompetisi secara bebas.

Keluarga Ortega-Murillo menyadari sepenuhnya bahwa mereka tidak akan pernah memenangkan pemilihan yang transparan dan kompetitif. Inilah alasan utama di balik penguatan kekuasaan keluarga, di mana Rosario Murillo dipersiapkan sebagai penerus utama meskipun minim dukungan akar rumput.

Dalam setahun terakhir, Murillo telah menggeser banyak posisi kunci di pemerintahan untuk memastikan kelangsungan dinasti. Hal ini memicu gesekan di antara anak-anak mereka yang kini membagi tanggung jawab negara di bawah lingkaran kepercayaan yang semakin menyempit.

Baca Juga

Loading...