Mengapa Sekolah Rakyat Terbesar di Indonesia Berlokasi di Tanjung Alam?

Table of Contents
Ini Alasan Kenapa Sekolah Rakyat Terbesar di Indonesia, Berlokasi di Tanjung Alam - ANTARA Sumbar
Mengapa Sekolah Rakyat Terbesar di Indonesia Berlokasi di Tanjung Alam?

RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Pembangunan Sekolah Rakyat (SR) terbesar di Indonesia yang berlokasi di Nagari Tanjung Alam, Sumatera Barat, bukan merupakan sebuah kebetulan semata. Proyek strategis ini berdiri di atas fondasi mimpi putera daerah, Dony Oskaria, untuk memajukan kampung halamannya sekaligus memberikan akses pendidikan berkualitas bagi anak bangsa.

Ketua DPRD Tanah Datar, Anton Yondra, menegaskan bahwa inisiatif ini lahir dari kerinduan Dony untuk melihat nagari asalnya menjadi desa yang sejahtera. Perubahan signifikan mulai terlihat di Tanjung Alam, di mana fasilitas pendidikan yang dulunya minim kini berkembang pesat sekelas universitas.

Sebuah Mimpi Besar di Nagari Tanjung Alam

Kampus Sekolah Rakyat ini dibangun di atas lahan seluas 23 hektare, sebuah ukuran yang jarang ditemukan untuk institusi pendidikan setingkat sekolah dasar dan menengah di Sumatera Barat. Luas area ini menyaingi kompleks universitas besar, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menyediakan ruang belajar yang representatif.

Tanah yang digunakan memiliki nilai sejarah dan adat yang kuat, melibatkan proses musyawarah mufakat yang melibatkan niniak mamak dan warga pemilik ulayat. Menurut Prof. Kurnia Warman dari Universitas Andalas, langkah Tanjung Alam mempertahankan tanah ulayat untuk kepentingan pendidikan adalah pengecualian di tengah maraknya alih fungsi lahan menjadi sektor industri atau perkebunan sawit.

Visi Pendidikan dan Pengentasan Kemiskinan

Dony Oskaria, yang lahir dan dibesarkan di Gantiang Bawah, memiliki memori masa kecil yang lekat dengan suasana desa dan disiplin pendidikan yang kuat. Pengalaman tersebut kini ia tuangkan melalui pembangunan SR sebagai pintu untuk memutus rantai kemiskinan bagi anak-anak kelompok rentan.

Sekolah Rakyat sendiri merupakan program prioritas Presiden Prabowo yang menargetkan anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem di seluruh pelosok negeri. Secara nasional, hingga 8 Agustus 2026, sebanyak 166 titik SR telah beroperasi di 34 provinsi dengan menampung hampir 16 ribu siswa yang mendapatkan fasilitas pendidikan, asrama, dan layanan kesehatan secara gratis.

Sebuah Mimpi Besar di Nagari Tanjung Alam

Dampak Ekonomi dan Pertumbuhan Wilayah

Investasi sebesar Rp1,5 triliun untuk pembangunan SR ini menjadi injeksi dana terbesar di Sumatera Barat dalam satu dekade terakhir. Angka fantastis ini melampaui berbagai proyek pembangunan infrastruktur konvensional lainnya, menjadikannya tonggak sejarah bagi dunia pendidikan di provinsi tersebut.

Kehadiran 3.000 siswa di sekolah berasrama ini diprediksi akan mengubah peta ekonomi Tanjung Alam menjadi pusat pertumbuhan baru di antara Batusangkar, Payakumbuh, dan Bukittinggi. Dinamika ekonomi akan meningkat seiring dengan kebutuhan logistik harian, mulai dari konsumsi pangan, jasa penunjang, hingga mobilitas keluarga yang menjenguk siswa setiap akhir pekan.

Perputaran uang di nagari ini diperkirakan mencapai Rp5 miliar per bulan atau hingga Rp70 miliar per tahun untuk menunjang operasional sekolah. Angka tersebut memberikan dampak domino bagi kesejahteraan petani, peternak, pedagang pasar, hingga penyedia jasa lokal yang mendapatkan keuntungan langsung dari ekosistem sekolah tersebut.

Masa Depan dan Efek Domino Pembangunan

Selain infrastruktur pendidikan, pengembangan kawasan ini juga mencakup pembangunan taman hutan seluas 15 hektare yang dirancang sebagai objek wisata baru. Proyek ini bertujuan untuk menciptakan ikon wisata di Sumatera Barat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di sekitar area sekolah.

Pemerintah juga berencana melakukan revitalisasi fasilitas publik lainnya seperti masjid, pasar, kantor walinagari, hingga sarana olahraga seperti lapangan bola dan bulu tangkis. Rangkaian pembangunan ini diharapkan mampu mengubah wajah Nagari Tanjung Alam menjadi kawasan yang modern namun tetap mempertahankan nilai-nilai adat Minangkabau.

Langkah Dony Oskaria pulang kampung dengan membawa berbagai program pembangunan ini mencerminkan falsafah Minang tentang peran perantau bagi tanah kelahirannya. Dengan Sekolah Rakyat sebagai episentrum, diharapkan efek domino ekonomi dan pendidikan dapat membawa kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Baca Juga

Loading...