How El Salvador Can Become Singapore West: Strategi Transformasi Ekonomi
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Presidensi Nayib Bukele telah berhasil mengubah wajah keamanan El Salvador secara drastis dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun tingkat pembunuhan turun signifikan dari 38 per 100.000 orang pada 2019 menjadi 1,9 pada 2024, ekonomi negara tersebut masih terperangkap dalam stagnasi panjang.
Jika kita melihat data per kapita, PDB El Salvador saat ini hanya mencapai 6,5% dari standar Amerika Serikat, angka yang sama dengan tahun 1968. Selama enam puluh tahun terakhir, El Salvador belum menunjukkan kemajuan ekonomi yang berarti secara relatif terhadap kekuatan ekonomi global.
El Salvador memiliki potensi besar untuk menjadi negara terkaya di selatan perbatasan Texas, layaknya Singapura yang bertransformasi dari negara berkembang menjadi pusat kekuatan ekonomi. Untuk mencapai hal tersebut, negara ini perlu mengadopsi "Magic Formula" yang terdiri dari pajak rendah dan uang yang stabil.
Rekam Jejak Kepemimpinan Bukele
Nayib Bukele dikenal sebagai pemimpin yang proaktif, mulai dari mendirikan perusahaan periklanan pada usia 18 tahun di 1999 hingga menjadi Wali Kota San Salvador pada 2015. Keberaniannya untuk keluar dari partai FMLN pada 2017 dan membentuk Nuevas Ideas menunjukkan gaya kepemimpinan yang mampu mengambil langkah luar biasa dalam kebijakan keamanan.
Masalah ekonomi muncul karena kebijakan yang diterapkan saat ini masih bersifat biasa, sementara untuk mencapai hasil luar biasa, diperlukan kebijakan yang juga luar biasa. El Salvador perlu meniru langkah-langkah drastis yang pernah membawa Irlandia dan Singapura menuju kemakmuran global.
Reformasi Pajak sebagai Pendorong Pertumbuhan
Saat ini, beban pajak di El Salvador tergolong tinggi, dengan tarif pajak penghasilan puncak sebesar 30% dan pajak gaji gabungan mencapai 26,5%. Struktur pajak yang berat ini justru menjadi kontraproduktif karena mendorong penghindaran pajak dan menghambat pertumbuhan sektor swasta.
Strategi yang diusulkan adalah menghapuskan pajak penghasilan secara total, baik di tingkat individu maupun perusahaan, untuk merangsang investasi. Selain itu, mengurangi pajak gaji menjadi 15% serta tetap mengandalkan PPN (VAT) sebesar 13% dapat menciptakan basis pendapatan yang lebih efisien dan jujur.
Membangun Stabilitas Moneter
Di sisi moneter, dolarisasi yang diadopsi sejak 2001 memberikan stabilitas dasar, namun Bitcoin yang diperkenalkan Bukele dianggap terlalu volatil untuk menggantikan mata uang tradisional. Alternatif yang lebih bijak adalah memperkenalkan mata uang yang didukung oleh emas, mengikuti jejak negara-negara BRICS untuk menjaga stabilitas nilai.
Melihat keberhasilan Singapura, mereka memiliki tarif pajak penghasilan puncak hanya 24% untuk pendapatan tinggi, dengan rasio pendapatan pajak terhadap PDB yang jauh lebih rendah dibandingkan El Salvador. Singapura membuktikan bahwa sistem pajak yang sederhana dan rendah justru meningkatkan kepatuhan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang masif.
Pelajaran dari Sejarah Ekonomi
Sejarah ekonomi menunjukkan bahwa ketika sebuah negara mengurangi beban pajak secara signifikan, seperti yang terjadi di Irlandia pada 1980-an dan 1990-an, pertumbuhan PDB cenderung melonjak drastis. Pendapatan negara justru bisa meningkat meskipun tarif pajaknya turun, karena aktivitas ekonomi yang meluas memperbesar basis pajak itu sendiri.
El Salvador berada di persimpangan jalan, di mana mereka harus memilih apakah ingin terus menjadi negara Amerika Latin yang biasa saja atau melakukan terobosan radikal. Dengan mengadopsi formula pajak rendah dan uang stabil, negara ini memiliki peluang nyata untuk meniru kesuksesan ekonomi Singapura.
Kepemimpinan Bukele telah terbukti berhasil dalam sektor kepolisian, dan kini saatnya energi tersebut difokuskan pada reformasi ekonomi yang mendalam. Jika kebijakan "Magic Formula" ini diimplementasikan, El Salvador dapat mulai melihat kenaikan PDB per kapita yang akan mengubah masa depan generasi mendatang.
