Daftar Tugas Scott Bessent dan Arah Baru Kebijakan Ekonomi AS 2026
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Saat rapat kabinet Donald Trump di Camp David pada minggu pertama Agustus 2026, Menteri Keuangan AS Scott Bessent secara sengaja memamerkan daftar tugas yang menarik perhatian para jurnalis. Catatan bertuliskan "To Do" tersebut secara eksplisit menyatakan niat untuk membeli Yen Jepang (JPY) senilai $5 hingga $10 miliar.
Sebagai mantan bankir Wall Street yang pernah mengelola taruhan mata uang besar untuk George Soros, Bessent memahami kekuatan sinyal pasar jauh sebelum tindakan nyata dilakukan. Langkah ini menjadi indikator penting mengenai bagaimana strategi kebijakan ekonomi AS kini disampaikan secara terbuka dan seringkali tidak konvensional.
Intervensi Yen dan Implikasi Global
Jepang dan Amerika Serikat kemudian mengumumkan bahwa mereka telah melakukan intervensi bersama untuk menopang nilai tukar yen setelah menyentuh level terendah dalam 40 tahun terakhir. Bessent menggambarkan tindakan tersebut sebagai bentuk dukungan kepada sekutu, namun AS sebenarnya memiliki kepentingan ekonomi besar untuk memperkuat mata uang yen.
Kelemahan yen tidak hanya membuat Jepang menjadi sangat kompetitif secara ekspor terhadap AS, tetapi juga menimbulkan risiko serius bagi pasar obligasi pemerintah AS. Mengingat Jepang adalah pemegang obligasi Treasury AS terbesar, penjualan obligasi tersebut untuk mendukung mata uang akan menekan harga dan menyebabkan kenaikan suku bunga jangka panjang AS.
Strategi intervensi ini cukup unik karena AS memilih menjual euro, alih-alih menggunakan dolar, untuk menukar yen di pasar global. Langkah ini dipandang sebagai upaya taktis untuk menghindari destabilisasi lebih lanjut pada pasar obligasi domestik Amerika.
Ketidakpastian di Pasar Asia
Terdapat dimensi regional yang mengkhawatirkan, di mana penurunan nilai yen memicu ingatan akan krisis keuangan Asia tahun 1997. Saat ini, ancaman gelombang devaluasi kompetitif di seluruh Asia Tenggara menimbulkan risiko nyata bagi stabilitas ekonomi global.
Korea Selatan, yang seharusnya menikmati keuntungan dari dominasi pasar semikonduktor, justru terpuruk akibat volatilitas pasar saham yang didorong oleh investor yang terlalu banyak berutang. Pasar saham Korea Selatan tercatat mengalami penurunan nilai sebesar 40 persen dalam waktu hanya 27 hari, menciptakan kepanikan finansial bagi ribuan investor.
Sebaliknya, Vietnam justru menunjukkan optimisme ekonomi dengan pertumbuhan sekitar 8 persen per tahun, menjadikannya salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di kawasan ini. Presiden Vietnam To Lam dijadwalkan akan mengunjungi Australia dalam beberapa hari mendatang untuk memperkuat hubungan ekonomi di tengah dinamika regional yang menantang.
Pergeseran Independensi Bank Sentral
Di tengah tekanan inflasi global, terdapat tren yang mengkhawatirkan terkait pergeseran dari sinyal kebijakan yang jelas dan hilangnya independensi bank sentral. Mundurnya Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, bulan lalu menjadi sorotan pasar di tengah kebijakan anggaran pemerintah yang dianggap memicu inflasi.
Kekhawatiran serupa juga menyelimuti Federal Reserve AS, terutama setelah penunjukan Kevin Warsh sebagai ketua Fed oleh Presiden Trump. Trump dilaporkan telah berulang kali berbicara dengan Warsh sejak menjabat tiga bulan lalu, yang memicu keraguan publik mengenai independensi institusi tersebut dari pengaruh politik Gedung Putih.
Koordinasi yang Terabaikan
Keputusan intervensi yen baru-baru ini juga diwarnai dengan kurangnya koordinasi internasional, yang mengejutkan banyak pihak. Laporan Financial Times menyebutkan bahwa penjualan euro oleh Washington untuk memperkuat yen telah membutakan Bank Sentral Eropa (ECB), karena AS baru memberikan informasi setelah intervensi selesai.
Beberapa pejabat senior ECB menganggap keputusan AS menggunakan euro sebagai tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan melanggar konvensi kerja sama moneter. Situasi ini menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi global saat ini tampak berada di bawah pendekatan yang kasual, di mana arah masa depan seringkali bergantung pada catatan singkat di atas kertas milik Scott Bessent.